Bincang Sore dengan Penyandang Gangguan Jiwa di Bekasi

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Yayasan Galuh, penampungan orang sakit jiwa. (Foto: Andreas Ricky/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Yayasan Galuh, penampungan orang sakit jiwa. (Foto: Andreas Ricky/kumparan)

Sejumlah laki-laki paruh baya tampak duduk di teras bangunan kawasan Rawalumbu, Bekasi, Jawa Barat. Dari kejauhan, mereka tampak bercengkrama seperti tidak ada masalah.

Sesekali terdengar tawa di antara mereka. Namun tiba-tiba raut mereka berubah pucat. Satu orang datang kepada kumparan (kumparan.com) dan bertanya

“Memang benar ya jika Rusia melawan Sekutu akan akibatkan kiamat di bumi, saya dengar perang pakai nuklir,” ujar Alex, salah seorang penghuni, Rabu (13/2).

Perbincangan itu kemudian ditengahi oleh kawan Alex, “Enggak benar, pasti sudah kalah duluan Rusia karena senjatanya enggak canggih. Tapi kita bisa perang lawan Vietnam,” ujar rekan Alex, Rival.

Keduanya merupakan warga binaan Yayasan Galuh, tempat pembinaan orang yang memiliki gangguan jiwa, sejak setahun lalu. Pengelola yayasan sudah menyatakan mereka sudah mencapai 60 persen kesadaran, karena itu pula keduanya bebas berjalan di sekitar kompleks.

Yayasan Galuh, penampungan orang sakit jiwa. (Foto: Andreas Ricky/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Yayasan Galuh, penampungan orang sakit jiwa. (Foto: Andreas Ricky/kumparan)

Saat berbicara, Alex terdengar sopan. Saat meminta rokok yang tampak dibawa orang, dia meminta sembari tersenyum. Hanya saja, bungkusan rokok dibuka, ia mengambil satu batang, dan tak lama kemudian sekitar 20 warga bermunculan mengantre.

“Aturan kalau buka rokok dimasukin lagi bang ke saku, nanti pada dimintain,” ujar Rival.

Tak lama kemudian, Alex kembali mengajak duduk bersama. Kali ini, ia menceritakan pengalamannya bersua dengan Soekarno.

“Waktu saya bertapa di Kampung Baru, dalam alam mimpi, saya bertemu Soekarno, jiwanya berhadapan di depan saya. Saya katakan padanya, bahwa sekalipun saya tidak goda istri Anda. Kemudian dia kecup Kerisnya, dan berikan kepada saya, saya namai keris tersebut sebagai Keris Seribu Kecup Wanita. Karena setelah itu saya dikecup seribu cewek cakep, sekarang kerisnya ada di Kampung Baru,” tutur Alex.

Yayasan Galuh, penampungan orang sakit jiwa. (Foto: Andreas Ricky/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Yayasan Galuh, penampungan orang sakit jiwa. (Foto: Andreas Ricky/kumparan)

Rival yang mendengar kata-kata Alex tersenyum. Ia memberi tanda kepada kami, dari gerak bibirnya kami dapat menangkap ia sedang berujar, “jangan didengerin dia gila."

Alex malah lebih jauh lagi berbicara dengan rekan-rekanya. Obrolanya mulai melantur. Dia mengajak berkeliling di sekitar yayasan untuk melihat kegiatan apalagi yang ada di sana.

Kepala Perawat Yayasan Galuh Jajat Sudrajat mengatakan, Alex dan Rival sudah bisa berkomunikasi dengan baik. “Mereka sudah kami libatkan untuk pekerjaan rumah di sini,” terang Jajat.

Ia pun menerangkan penyebab beberapa orang bisa terkena gangguan jiwa. Menurutnya, kebanyakan warga binaan Yayasan Galuh mengalami gangguan halusinasi.

“Ada suara-suara yang terus berbisik di kuping mereka, kadang-kadang mereka menolak bisikan itu, sampai teriak dan mengamuk,” kata Jajat.

Yayasan Galuh, penampungan orang sakit jiwa. (Foto: Andreas Ricky/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Yayasan Galuh, penampungan orang sakit jiwa. (Foto: Andreas Ricky/kumparan)

Sedangkan penyebab dari gangguan mental tersebut, menurut Jajat, berasal dari faktor keluarga. “Broken home, sering disiksa oleh orangtua, mengakibatkan mereka ini kabur, terjerumus pergaulan yang tidak jelas dan hilang kesadaran mereka. Menjadi dengar suara-suara dan sebagainya. Beberapa juga karena narkoba, tapi narkoba itu larinya dari faktor internal keluarga,” jelas Jajat.

Sementara itu, Deni, salah seorang warga binaan yang sudah dinyatakan membaik juga mengajak kumparan berbincang.

“Ketika dinyatakan sehat saya hanya bisa berujar Alhamdulilah, sudah 3 tahun saya dirawat di sini,” terang Deni.

Sebelumnya Deni dirawat di sebuah Rumah Sakit Jiwa di Bogor. Di sana, Deni merasa tidak nyaman karena sendirian dan tidak punya kegiatan untuk mengisi waktu.

Ke depan Deni sudah dipersilakan pulang kembali ke asalnya di Kranggan, Bogor. Ia berencana bekerja usai pulang dari Yayasan Galuh.

“Tapi belum tahu kerja di mana saya, yang penting bantu-bantu saja,” kata Deni lirih.

Yayasan Galuh, penampungan orang sakit jiwa. (Foto: Andreas Ricky/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Yayasan Galuh, penampungan orang sakit jiwa. (Foto: Andreas Ricky/kumparan)