BKSDA Yogyakarta Minta Burung Layang-layang Asia Tak Ditembaki

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Yogyakarta mengharapkan masyarakat tidak menembaki kawanan burung layang Asia yang sedang bermigrasi. Meski dalam proses migrasinya burung itu mengeluarkan kotoran yang berbau saat singgah di Yogyakarta, masyarakat diharap tidak sampai membunuh satwa tersebut.
Kasi Konservasi Wilayah I BKSDA Yogyakarta, Untung Suripto, mengeluarkan imbauan itu karena sudah ada penembakan burung layang-layang Asia yang dilakukan warga. Penembakan berlangsung di Gondomanan, salah satu lokasi singgahnya hewan tersebut.
"Di Gondomanan sudah menimbulkan antara lain penembakan. Kami juga sosialisasi dari tahun kemarin kami pasang spanduk (agar tak ditembak) juga, cuma ada saja satu dua orang. Fenomena ini kalau dilihat dari sisi posistifnya banyak,” kata Untung saat dihubungi, Selasa (22/10).
“Negatifnya memang benar karena mereka bertengger kalau pagi biasa keluar cari makan. Sore mulai Maghrib jam 5 (sore) datang istirahat. Ya wajar kalau mengeluarkan tahi,” kata dia.
Untung meminta masyarakat tidak hanya melihat sisi negatif dari datangnya layang-layang Asia. Keberadaan hewan itu dianggapnya malah menambah daya tarik Yogyakarta.
“Mungkin untuk wisatawan asing lebih menarik dan kami akan kordinasi dengan kecamatan, kelurahan sosialisasi dan kita usahakan memasang spanduk untuk mengimbau tidak menembak Ini fenomena alam yang jarang terjadi dan tidak semua daerah. Kaya di Jogja hanya sekitar Gondonmanan,”katanya.
Selain itu, pihaknya juga akan menyosialisasikan kepada masyarakat bagaimana memperlakukan satwa liar. Menurutnya masyarakat banyak yang belum siap dengan kotoran burung tersebut.
“Ini masyarakat yang belum siap kotorannya bau dan putih kan kelihatan putih susah dibuang,” katanya.
Hingga kini belum ada penelitian lebih lanjut kenapa burung-burung tersebut memilih singgah di Gondomanan. Namun, dari dua tahun ini jumlahnya meningkat secara kasat mata.
“Perkiraan jumlah terus terang nggak bisa karena malem kan. Mulai jam 5 setengah 6 baru datang (burungnya). Kami hanya memonitoring aktivitas mereka saja tidak sampai menghitung. Kita melakukan monitoring ternyata 90 persen sama dengan tahun lalu sekitar Gondomanan. Fenomena biasanya mulai september sampai Januari, tapi ini Oktober baru ada,” pungkas Untung.
Sementara itu, Asman Adi Purwanto, anggota Paguyuban Pengamat Burung Yogyakarta menjelaskan layang-layang Asia bergerak dari habitatnya dari Eropa, dan Asia Timur menuju Australia. Di situlah kawanan burung juga turut singgah di Indonesia.
“Kalau musim migrasi itu kan mulai dari Oktober, November, Desember. Dari sana, mulai masuk musim dingin itu mereka bergerak dari habitatnya sih. Dan, di Indonesia, kita mulai bsa melihat keberadaan mereka itu akhir-akhir September, Oktober,” kata Asman saat dihubungi, Selasa (22/10).
“Kalau di Indonesia, kita ada jalur terbang namanya Asia Timur-Australia. Itu adalah salah satu jalurnya. Kemudian, ada jalur yang tengah Asia-Pasifik kalau nggak salah. Kalau burung layang-layang Asia ini sepertinya lewat jalur Asia Timur-Australia itu. Dia lewat daratan China, ke selatan, turun, melewati Thailand, Malaysia, Singapura ke Indonesia lewat Sumatera. Di Sumatera itu kan banyak juga kan,” kata dia.
