BMKG: Cuaca di Indonesia Tidak Pasti, Mudah dan Cepat Berubah

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pengendara melintas diatas jembatan musi IV dengan latar belakang awan hitam yang menyelimuti langit Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (21/1). Foto: ANTARA FOTO/Nova Wahyudi
zoom-in-whitePerbesar
Pengendara melintas diatas jembatan musi IV dengan latar belakang awan hitam yang menyelimuti langit Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (21/1). Foto: ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) hari ini menggelar kegiatan festival sekolah lapang dalam memperingati hari meteorologi dunia pada Rabu (22/3). Dalam kegiatan tersebut, salah satu yang dibahas yakni terkait kondisi cuaca di Indonesia.

Dalam sambutannya, Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati mengatakan dengan kondisi geografis Indonesia yang berada di antara 2 samudra dan 2 benua membuat berbagai fenomena terjadi terkait pengendali iklim.

“Kondisi iklim di Indonesia sangat dipengaruhi oleh dua benua, benua Asia dan benua Australia serta Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Maka, terjadilah pengendali iklim yaitu El Nino, La Nina kemudian Dipole Mode dan suhu muka air laut, baik di perairan Indonesia atau pun di perairan sekitar Indonesia dan juga pengendali yang lain adalah adanya moonson yang selalu bertiup ke wilayah Indonesia,” kata Dwikorita dalam kegiatan festival sekolah lapang BMKG secara virtual, Rabu (23/3).

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati Saat Sampaikan Paparan Prediksi Cuaca. Foto: Sumber: YouTube

Terkait hal itu, Dwikorita mengungkapkan hal tersebut telah mempengaruhi variabilitas iklim di Indonesia yang membuat kondisi cuaca menjadi tidak pasti.

“Jadi, dengan letak geografis ini fenomena iklim di Indonesia semuanya sudah paham, sangat kompleks beda dengan iklim yang ada di negara-negara yang berada di benua, selain sangat kompleks juga sangat tidak pasti karena sangat dinamis, mudah atau cepat mengalami perubahan,” jelasnya.

Dia menjelaskan, dari kondisi cuaca yang kompleks dan tidak pasti itu saat ini juga diperparah dengan berbagai kejadian fenomena perubahan iklim global, salah satunya yakni akibat dari efek gas rumah kaca.

Untuk itu, kini BMKG dipercaya oleh Badan Meteorologi Dunia untuk memantau kondisi gas rumah kaca dengan stasiun Global Atmosphere Watch (GAW) yang ada di Bukit Kototabang, Sumatera Barat guna mencegah semakin parahnya kompleksitas akibat perubahan iklim dunia.

“Ini kepercayaan dunia kepada BMKG sebagai salah satu global atmosferic watch di Bukit Kototabang telah mendeteksi adanya peningkatan signifikan konsentrasi CO2 yang ada di khatulistiwa Indonesia dalam kondisi ambien, artinya dalam kondisi yang belum tercemar, masih alamiah,” pungkasnya.