BMKG Ungkap Penyebab Hujan Ekstrem di Jabodetabek Sejak 18 Februari

kumparanNEWSverified-green

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati memberikan keterangan pers di Kantor BMKG, Jakarta Pusat, Kamis (31/10). Foto: Andesta Herli Wijaya/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati memberikan keterangan pers di Kantor BMKG, Jakarta Pusat, Kamis (31/10). Foto: Andesta Herli Wijaya/kumparan

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati, menjabarkan penyebab hujan ekstrem yang terjadi beberapa hari ini di wilayah Jakarta dan sekitarnya.

Menurut dia, hal itu terjadi akibat aktivitas udara yang signifikan akibat peningkatan awan hujan.

"Kenapa hujan ekstrem terjadi? pertama tanggal 18-19 ini termonitor adanya aktivitas udara dari Asia yang aktivitasnya cukup siginifikan, mengakibatkan peningkatan awan hujan di Indonesia bagian barat," ujar Dwikorita dalam konferensi pers virtual, Sabtu (20/2).

Sejumlah kendaraan terjebak banjir di ruas Tol TB Simatupang, Jakarta, Sabtu (20/2). Foto: Indrianto Eko Suwarso/ANTARA FOTO

Selain itu ada aktivitas gangguan atmosfer di zona ekuator yang mengakibatkan perlambatan dan pertemuan angin dari arah utara.

"Ini kebetulan membeloknya itu tepat lewat Jabodetabek, di situlah terjadi peningkatan pembentukan awan-awan hujan yang mengakibatkan hujan dengan intensitas tinggi," jelasnya.

Faktor berikutnya adalah tingkat kebasahan udara di wilayah Jawa bagian barat yang cukup tinggi, dan meningkatkan potensi pembentukan awan-awan hujan.

embed from external kumparan

"Dan terakhir, terpantaunya adanya daerah pusat tekanan rendah di Asia bagian utara yang membentuk pola konvergensi di sebagai besar Pulau Jawa," ungkapnya.

Curah hujan ekstrem tadi mengakibatkan meningkatnya curah hujan di sejumlah kawasan di Jakarta. Seperti di kawasan Sunter Hulu yang mencapai 197 mm per hari, di kawasan Lebak Bulus tercatat curah hujan mencapai 154 mm per hari. Sementara di wilayah Pasar Minggu mencapai 226 mm per hari.

"Kejadian hujan umumnya terjadi pada malam, dini hari, dan masih berlanjut jelang pagi hari. Jadi itu waktu-waktu kritis yang perlu kita waspadai," jelas Dwikorita.