BNPT: Penyebaran Paham Terorisme Kini Berubah dari Hard Jadi Soft Approach

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Republik Indonesia (BNPT) Komjen Rycko Amelza Dahniel mengatakan strategi teroris dalam menyebarkan pemahamannya sudah berubah.
“Kelompok ini mulai mengubah pendekatannya dari hard menjadi soft approach, dari strategi bullet menjadi ballot strategi,” kata Rycko dalam sambutannya di peringatan ulang tahun ke-13 BNPT di Djakarta Theater, Jumat (28/7).
Rycko mengibaratkan penyusupan ideologi ini seperti gerakan di bawah permukaan sel-sel jaringan menyusup ke kehidupan masyarakat bahkan negara.
“Sel-sel terorisme ini di permukaan menggunakan jubah agama, sementara di bawah permukaan melakukan gerakan ideologi dalam ruang yang gelap secara sistematis, masif, dan terencana,” tuturnya.
“Mereka terus melakukan konsolidasi, melakukan rekrutmen dan penggalangan dana dengan berbagai cara,” lanjutnya.
Lebih lanjut, Rycko mengatakan sasaran utama dari penyebaran paham ini adalah remaja dan perempuan. Penyebaran paham ini memanfaatkan kemajuan teknologi informasi, seperti sosial media.
“Kelompok-kelompok rentan, para remaja, anak-anak dan perempuan menjadi sasaran utama daripada radikalisasi. Kemajuan teknologi IT dan masa pandemi COVID-19 mendorong semakin masifnya online radicalization, yang melahirkan self-radicalization dan lone wolf,” pungkasnya.
