BNPT: Tren Rekrutmen Teroris Online, Salah Satunya Lewat True Crime Community
·waktu baca 2 menit

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengungkap tren baru rekrutmen terorisme yang menyasar anak-anak melalui platform daring seperti media sosial dan game online.
Salah satu pola yang terdeteksi adalah para pelaku menyasar anak-anak yang tergabung di komunitas True Crime Community (TCC).
Hal itu disampaikan Kepala BNPT Komjen Pol (Purn) Eddy Hartono dalam Konferensi Pers Penanganan Rekrutmen Online Terhadap Anak-anak oleh Kelompok Terorisme di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Selasa (18/11).
True Crime Community merupakan komunitas atau kelompok penggemar yang memiliki minat khusus terhadap kisah-kisah kriminal nyata, mulai dari kasus pembunuhan, hilangnya seseorang, penipuan, kriminal psikologis, hingga investigasi yang belum terpecahkan (cold cases). Komunitas ini biasanya berkumpul di berbagai platform media sosial seperti YouTube, TikTok, podcast, Reddit, hingga Twitter/X.
“Bahwa rekrutmen secara online ini memang sedang tren ya. Bahwa di dalam kajian psikologis ya, itu ada istilahnya namanya memetic radicalization atau memetic violence. Jadi dia lebih kepada meniru ide atau perilaku,”
Ia mencontohkan kasus ABH pelaku ledakan SMA 72 yang diketahui mengakses grup True Crime Community hingga meniru perilaku tertentu demi merasa hebat atau memiliki kebanggaan.
“Jadi dia bisa meniru ide perilaku apa yang terjadi, sehingga dia meniru supaya bisa dibilang hebat ya, supaya ada kebanggaan,” ujarnya.
Eddy menambahkan pihaknya kini bekerja sama dengan Kementerian PPA, KPAI, Kemensos, serta ahli psikologi untuk memetakan kondisi psikologis para anak yang terpapar.
“Sehingga ketika diketahui secara psikologis apa yang terjadi, baru kita melakukan rehabilitasi. Kira-kira rehab apa yang pas ketika orang atau anak-anak ini mengalami tekanan secara psikologis. Nah, itu yang sekarang kita kembangkan,” jelasnya.
Sementara itu, Juru Bicara Densus 88 AKBP Mayndra Eka menyebut tren rekrutmen daring meningkat drastis dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Pada tahun 2011 hingga 2017 itu Densus 88 mengamankan kurang lebih 17 anak ya dan ini dilakukan berbagai tindakan, tidak hanya penegakan hukum tetapi juga ada proses pembinaan,” kata Mayndra.
Namun angka tersebut melonjak tajam pada 2025. “Kurang lebih lebih dari 110 yang saat ini sedang teridentifikasi. Jadi artinya kita bisa sama-sama menyimpulkan bahwa ada proses yang sangat masif sekali rekrutmen yang dilakukan melalui media daring,” tuturnya.
