Bocah di Temanggung yang Meninggal karena Diruwat Dikenal Pintar Mengaji

kumparanNEWSverified-green

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Rumah bocah di Temanggung, Jawa Tengah, yang meninggal karena diruwat. Foto: kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Rumah bocah di Temanggung, Jawa Tengah, yang meninggal karena diruwat. Foto: kumparan

Seorang bocah berusia tujuh tahun di Temanggung, Jawa Tengah, meninggal karena diruwat. Jasad korban ditemukan dalam kondisi mengering di rumahnya.

Anak berinisial ALH (7) itu dikenal sebagai anak yang pintar dalam mengaji. Bahkan, ia berprestasi karena kerap menjadi juara dalam mengaji.

"Anaknya pintar kalau ngaji dapat juara terus. Ngajinya pinter pas akhirussanah itu dapat banyak hadiah," ucap kerabat keluarga korban, Sri (18/4).

Biasanya korban mengaji di tempat yang tak jauh dari rumahnya. Warga sudah tak melihat korban mengaji sekitar enam hingga tujuh bulan.

Tempat mengaji bocah di Temanggung, Jawa Tengah, yang meninggal karena diruwat Foto: kumparan

Ia mengatakan tak menyangka keponakannya itu meninggal dengan alasan yang tak masuk akal.

"Itu enggak masuk akal sama sekali. Anaknya enggak nakal, biasa aja seperti anak lainnya," keluhnya.

Penyelidikan kasus penemuan tengkorak anak perempuan AHL (7) di wilayah, Kecamatan Bejen, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, terus berlanjut.

Saat ini polisi menemukan fakta bahwa AHL diduga merupakan korban ritual dukun.

kumparan post embed
Rumah bocah di Temanggung, Jawa Tengah, yang meninggal karena diruwat. Foto: kumparan

Kapolres Temanggung, AKBP Benny Setyowadi mengatakan pihaknya telah melakukan pemeriksaan terhadap empat orang saksi yang terdiri dari ayah kandung korban, ibu kandung korban, serta dua orang berinisial H dan B.

"Sementara ini dugaannya memang ada ritual atas bujuk rayu dari saudara H yang merupakan seorang dukun, juga atas saran B di mana melihat kondisi anak nakal dan kena pengaruh gaib," kata Benny kepada Tugu Jogja, Selasa (18/5).

Dukun H melihat kondisi anak yang nakal dan ada keturunan genderuwo maka dia menyarankan harus diruwat. Ritual yang dilakukan dengan membenamkan kepala korban ke dalam bak mandi berkali-kali hingga korban tak sadarkan diri. Setelah itu korban dibawa ke kamar hingga akhirnya meninggal dunia.

Namun dukun H meyakinkan kedua orang tua AHL bahwa anaknya nanti akan hidup lagi. Selain itu, pengaruh dari dunia lain akan hilang dan si anak akan bisa hidup normal. Jasad korban diduga telah disimpan di dalam kamar rumah orang tuanya selama 4 bulan. Kondisi terakhir hanya tersisa tulang belulang dan kulit kering.

Korban kini telah dikebumikan di makam desa setelah menjalani autopsi pada Senin (17/5) sore.

embed from external kumparan