BPBD Dalami Temuan UGM soal Tak Ada Gas Alam di Kasus Kebakaran Rumah Sleman
ยทwaktu baca 2 menit

BPBD Sleman mendalami hasil penemuan peneliti UGM yang menyatakan tidak ada gas alam dalam kasus kebakaran misterius yang terjadi 125 kali di sebuah rumah di Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman.
Peneliti UGM justru menemukan adanya resin poly vinyl chloride atau PVC (bukan PVC pipa paralon) pada residu kebakaran. Menurut UGM, resin ini tidak bisa terbakar sendiri. Harus ada pemantiknya.
"Yes, kita dalami (temuan UGM tersebut). Wait and see, ya," kata Kepala Pelaksana BPBD Sleman Bambang Kuntoro dikonfirmasi Minggu (14/6).
Di sisi lain, BPBD Sleman juga masih menunggu kesimpulan akhir dari penelitian sejumlah instansi lain seperti UPN "Veteran" Yogyakarta, BRIN, hingga BPPTKG.
"Tergantung dari beliau-beliau (peneliti) cepat oke, lambat oke (tetap menunggu)," ujarnya.
Di sisi lain, frekuensi kebakaran di rumah itu sudah berangsur berkurang. Namun, Bambang tak merinci rata-rata jumlah kemunculan api per hari.
"(Kebakarannya) berkurang," katanya.
Sebelumnya, Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik UGM telah menyimpulkan tidak ada gas alam dalam kasus kebakaran misterius yang terjadi 125 kali di sebuah rumah di Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman.
Dari temuan tim peneliti, api yang membakar material dalam kasus tersebut kemungkinan berasosiasi dengan adanya resin poly vinyl chloride atau PVC (bukan PVC pipa paralon). Resin ditemukan pada residu kebakaran.
"Jadi prinsipnya kami selesai pada tahap bahwa menemukan sumber dari api, sekali lagi bukan gas alami, tapi ada satu materi substans yang ditemukan sebagai residu di tempat terbakar, yaitu residu poly vinyl chloride atau PVC. Dan menurut kami itu adalah sumber api yang bukan alami, begitu," kata Dosen Departemen Teknik Geologi UGM, Sarju Winardi, di kantornya, Sabtu (13/6).
Sarju mengatakan residu ini berasal suatu yang awalnya mudah terbakar. Lanjutnya, kemungkinan dari awal sesuatu tersebut sifatnya sudah cair.
"Jadi rupa-rupanya, materi ini awalnya adalah sesuatu yang sifatnya bercampur ya, dengan sesuatu pelarut, solvent. Nah, pelarut inilah yang kemudian lepas sebagai yang menghasilkan api. Nah, solvent-nya tertinggal sebagai residu," katanya.
"Nah, terbakarnya solvent itu ada pemantiknya. Nah, kami tidak pada kapasitas untuk menyampaikan gitu, pemantiknya apa, biar BPBD yang nanti akan menindaklanjuti," sambungnya.
