BPOM: Jangan Berargumen soal Efikasi, yang Dibutuhkan Efektivitas Vaksin

kumparanNEWSverified-green

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kepala Badan Pengawa Obat dan Makanan (BPOM) Penny Kusumastuti dalam talkshow "Endorse Komsetik Aman atau Menuai Bencana" di Jakarta, Rabu (25/9/2019). Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Kepala Badan Pengawa Obat dan Makanan (BPOM) Penny Kusumastuti dalam talkshow "Endorse Komsetik Aman atau Menuai Bencana" di Jakarta, Rabu (25/9/2019). Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan

Vaksin corona Sinovac sudah mendapatkan Emergency Authorization Use (EAU) dari BPOM. Meski demikian, kemanjuran vaksin Sinovac masih dipertanyakan karena data efikasinya berbeda dengan negara lain.

Sebagaimana diketahui, efikasi vaksin Sinovac di Indonesia sebesar 65,3 persen. Sementara di Turki 91,25 persen dan Brasil 78 persen.

Terkait hal ini, Kepala BPOM Penny Lukito menjelaskan masyarakat tidak lagi berpolemik soal angka efikasi. Apalagi dalam situasi pandemi, WHO memberikan standar efikasi di atas 50 persen.

"Tapi memang kita jangan terlalu berargumen terkait berapa persennya. Karena yang paling kita butuhkan nanti adalah bagaimana efektivitas si vaksin tersebut di masyarakat," kata Penny di Komisi IX DPR, Kamis (14/1).

Seorang petugas kesehatan bersiap untuk memberikan dosis vaksin Sinovac di fasilitas kesehatan, di Jakarta, Kamis (14/1). Foto: Willy Kurniawan/REUTERS

"Efektivitas berbeda dengan efikasi. Efikasi ya di uji klinik itu, terkontrol, jadi tidak bisa dibandingkan efikasi itu karena banyak sekali aspek-aspek yang mempengaruhi uji klinis di satu lokasi," lanjutnya.

Penny mengatakan, yang Indonesia butuhkan adalah efektivitas dari vaksin Sinovac. Dan untuk mengetahui efektivitas suatu vaksin dipengaruhi oleh berbagai faktor.

"Jumlah vaksin yang diberikan hingga mencapai herd immunity. Kedua, akses cold chain-nya betul-betul dijaga sehingga saat sampai ke yang disuntikkan betul-betul masih dalam aspek mutu khasiat dan keamanan yang kita pertahankan, juga banyak hal yang mempengaruhi," jelasnya.

Petugas medis menyiapkan vaksin untuk disuntikkan kepada tenaga kesehatan di RS Siloam, Jakarta, Kamis (14/1). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Selain itu, efektivitas vaksin juga dilihat berdasarkan parameter incidence rate yang menurun hingga tingkat security vaksin.

"Nanti tentunya ada parameter-parameter yang dikeluarkan epidemiolog bahwa parameter kita sudah menurun yang menunjukkan efektivitas vaksin itu," tuturnya.

"Setelah divaksin, efektivitasnya kayak tadi. Misalnya okupansi bed yang semakin menurun, security menurun, incidence menurun. Untuk menjaga itu ya parameternya harus dijaga. Itu bedanya efikasi dan efektivitas," pungkasnya.