Buku ‘Kesadaran Nasional’ Diluncurkan: Rekam Perjuangan Diplomasi Ahmad Subardjo

Yayasan Ahmad Subardjo meluncurkan edisi kedua buku autobiografi Ahmad Subardjo berjudul Kesadaran Nasional di Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (29/8).
Buku setebal 700 halaman tersebut memuat perjalanan hidup serta kiprah Ahmad Subardjo, termasuk perannya dalam sejarah perjuangan dan diplomasi Indonesia pada masa awal kemerdekaan. Sebelumnya, cetakan pertama buku ini telah rilis pada tahun 1978 setebal 586 halaman.
Peluncuran buku tersebut turut dihadiri mantan Menteri Luar Negeri RI Hassan Wirajuda sebagai narasumber utama. Hassan juga dipercaya menulis kata pengantar dalam buku autobiografi Ahmad Subardjo tersebut.
Hadir pula putri kelima Ahmad Subardjo, Dewi Setiyobudiarti, serta Meutia Farida Hatta Swasono selaku Ketua Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia.
Dalam kesempatan tersebut, Hassan mengulas isi buku mengenai peran Ahmad Subardjo sebagai Menteri Luar Negeri pertama dalam membangun diplomasi Indonesia pada masa awal kemerdekaan.
Menurut Hassan, salah satu hal yang menarik dari buku tersebut adalah proses Ahmad Subardjo dalam membentuk identitas keindonesiaannya.
“Kalau saya membaca, menafsirkan judul buku Kesadaran Nasional, first and foremost adalah bagaimana Pak Barjo mentransformasi diri menjadi Indonesia,” ujar Hassan.
Hassan juga menjelaskan kiprah Ahmad Subardjo sebagai Menteri Luar Negeri pertama berlangsung dalam waktu yang relatif singkat. Meski demikian, terdapat sejumlah tugas besar yang harus dijalankan pada periode awal berdirinya Republik Indonesia.
“Tidak banyak dalam masa 2,5 bulan, untuk beliau punya kiprah luas, padahal tugas besar, satu, menyebarluaskan berita tentang proklamasi seluruh dunia, yang kedua memulai langkah oleh pengakuan dunia atas Republik Indonesia yang baru didirikan,” lanjutnya.
Perjuangan Diplomasi Era Ahmad Subardjo: Sebarluaskan Kemerdekaan RI
Dalam kesempatan tersebut, Hassan mengatakan diplomasi Indonesia yang saat itu dipimpin Ahmad Subardjo memiliki tugas pertama untuk menyebarluaskan kemerdekaan Indonesia yang baru diproklamirkan.
“Tugas pertama diplomasi kita pada waktu itu adalah menyebarluaskan kemerdekaan yang baru kita proklamirkan,” ujar Hassan.
“Yang kedua memperoleh, memperjuangkan pengakuan masyarakat internasional terhadap Republik Indonesia yang baru diproklamasikan,” lanjutnya.
Menurutnya, perjuangan tersebut menghadapi tantangan yang lebih luas daripada sekadar mempertahankan kemerdekaan dari upaya Belanda untuk kembali berkuasa.
Ia mengatakan, Indonesia kala itu juga berhadapan dengan tatanan politik dan hukum internasional yang belum mengakui hak bangsa-bangsa terjajah untuk merdeka, terlebih di periode awal setelah Perang Dunia II.
“Karena yang kita lawan bukan Belanda saja. Yang kita lawan adalah sistem politik dan hukum dunia yang tidak mengakui hak bangsa terjajah untuk merdeka,” tuturnya.
Karena itu, Hassan menilai upaya diplomasi Indonesia untuk memperoleh pengakuan internasional pada masa awal kemerdekaan bukan perkara mudah.
“Jadi karena itu perjuangan diplomasi ke arah memperoleh pengakuan menjadi sangat-sangat tidak mudah,” pungkasnya.
