Bupati Flores Timur: Gempa Saat Ini Hampir Sama dengan Tahun 1992

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Gempa berpusat di Laut Flores, berpotensi tsunami. Foto: USGS
zoom-in-whitePerbesar
Gempa berpusat di Laut Flores, berpotensi tsunami. Foto: USGS

Gempa bumi berkekuatan 7,4 magnitudo mengguncang Larantuka, NTT, pukul 10.20 WIB. Pusat gempa berada di 112 km barat laut Larantuka dan berpusat di Laut Flores dengan kedalaman 12 km.

Bupati Flores Timur, Antonius Hadjon, mengatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan BMKG terkait potensi gempa susulan yang masih bisa saja terjadi. Untuk saat ini juga, warga sudah mulai kembali ke rumah masing-masing.

"[Warga] kembali dari tempat aktivitas mereka. Mereka diharapkan berkumpul dengan keluarganya," kata Antonius dalam wawancara dengan Kompas, Selasa (14/12).

Antonius juga mengungkapkan, gempa besar disertai tsunami pernah terjadi di Flores Timur pada 12 Desember 1992. Ia bahkan menyebut guncangan gempa hari ini sama dengan gempa yang terjadi pada tahun 1992.

"Pernah terjadi sekali itu ketika tahun 1992 tanggal 12 Desember yang terjadi tsunami besar waktu itu, ya. Kemudian di tahun 2000-an ada juga tapi tidak terlalu besar," ungkapnya.

kumparan post embed

"Tadi [kekuatan] 7,4-7,5 [magnitudo] cukup besar karena tahun 1992 angkanya hampir seperti itu," lanjutnya.

Antonius telah berkoordinasi dengan BPBD dan Sekda terkait langkah-langkah selanjutnya apabila gempa susulan kembali terjadi. Pihaknya akan segera mensosialisasikan lokasi titik kumpul bila gempa susulan kembali terjadi.

"[Koordinasi] dengan BPBD, oleh Sekda terkait kalau ada gempa susulan. Jadi antisipasi-antisipasinya," pungkasnya.

Peringatan tsunami kini sudah direvisi dan berlaku hanya untuk NTT. Peringatan dini tsunami juga masih berlaku dan masih dipantau oleh BMKG dalam 2 jam ke depan.

"Kalau bisa warga di pesisir jauhi dari sana, cari tempat lebih aman. Tapi tetap enggak usah panik tapi tetap waspada, cari informasi yang tepat dari BMKG dan BPBD," kata Deputi Bidang Geofisika BMKG, Muhammad Sadly.

embed from external kumparan