Buruknya Jambore Pramuka 2023 Korsel: Toilet Kotor, Dana Dikorupsi, Aib Nasional
·waktu baca 5 menit

Pelaksanaan Jambore Pramuka Dunia ke-25 di Korea Selatan yang semula direncanakan menjadi kebanggaan baru, kini justru membawa 'aib nasional' akibat buruknya perencanaan oleh penyelenggara.
Adapun kegiatan itu digelar di daerah perkemahan yang direklamasi, Saemangeum, dan terletak di Kota Buan, Provinsi Jeollabuk-do.
43 ribu kontingen pramuka asal 150 negara berpartisipasi dalam kegiatan tersebut — termasuk Indonesia yang mengirimkan lebih dari 1.500 kontingen pramuka.
Namun, pada Selasa (8/8) Seoul mengevakuasi puluhan ribu kontingen dari perkemahan Saemangeum, dipicu gelombang panas ekstrem yang menimbulkan penyakit di antara para peserta.
Selain itu, Jambore Pramuka Dunia 2023 diakhiri lebih awal akibat ancaman topan Khanun yang diprediksi bakal tiba di Korea Selatan dalam beberapa hari ke depan.
Meski demikian, kacaunya kegiatan bergengsi ini bukan sebatas akibat persoalan cuaca saja. Media setempat melaporkan berbagai keluhan yang datang dari orang tua dan para peserta Jambore atas buruknya kondisi di perkemahan Saemangeum.
Keluhan itu mulai dari sanitasi yang buruk, fasilitas transportasi dan akomodasi yang tidak memadai, hingga persediaan konsumsi yang kurang. Pelaksanaan jambore tersebut, menurut laporan media lokal, adalah sebuah 'aib nasional' yang terjadi di perkemahan 'terkutuk'.
Lantas, apa yang sebenarnya terjadi?
Dana Dikorupsi
Jambore Dunia adalah kegiatan pramuka yang digelar setiap empat tahun sekali. Tahun ini, Korea Selatan berperan sebagai tuan rumah dengan pemerintah mengalokasikan lebih dari USD 76 juta (Rp 1,2 triliun) untuk persiapan acara tersebut.
Namun, media lokal JoongAng Ilbo melaporkan, sebagian dari dana fantastis itu digunakan oleh pegawai negeri untuk 'perjalanan bisnis' yang tidak ada hubungannya dengan penyelenggaraan acara.
"Perkemahan ini dapat memiliki infrastruktur dengan kualitas terbaik jika anggaran besar-besaran untuk jambore ini dilaksanakan dengan baik," tulis Ketua Partai People Power Party yang berkuasa, Kim Gi-hyeon, di Facebook.
"Pada titik ini, ini terlihat seperti penipuan besar-besaran terhadap publik dan bahkan mungkin mencapai tingkat penggelapan dana publik," sambung dia, seraya menjanjikan investigasi penuh atas insiden tersebut.
Toilet Kotor, Perkemahan Gersang
Di tengah alasan penyelenggara membatalkan Jambore Dunia 2023 yang diklaim akibat cuaca ekstrem dan gelombang panas, para kritikus tertuju pada situasi non-alami yang sebenarnya bisa dicegah — persiapan fasilitas pendukung, sanitasi, transportasi, dan konsumsi.
Di media sosial, beredar luas foto-foto yang menunjukkan buruknya kondisi toilet di perkemahan Saemangeum. Toilet itu tampak tidak layak digunakan lantaran meluap.
Kontingen pramuka terbesar di Jambore Dunia 2023, Inggris, mengaku alasan utamanya memulangkan lebih dari 4.000 anggota dari acara adalah sanitasi yang buruk di perkemahan Saemangeum.
Terpisah, orang tua dari peserta asal Indonesia Herzaky Mahendra Putra mengatakan, masalah utama dalam acara Jambore ke-25 itu tidak hanya soal cuaca, tapi juga fasilitas sanitasi yang jauh, shuttle bus yang lama, hingga asupan makanan yang kurang.
Koordinator Juru Bicara DPP Partai Demokrat ini juga mengatakan, beberapa peserta tidak hanya jatuh sakit akibat cuaca panas — bahkan ada yang kakinya terkilir, dehidrasi, dan lecet.
"Di dekat-dekat tenda anak kami, hampir tiap malam ketika video call, mereka menangis karena tertekan betul. Kalau lokasi seperti bumi perkemahan Cibubur, tanahnya ada rumput yang asri, penuh dengan pepohonan yang sejuk. Di sana? Gersang. Tanpa pohon," ujar Herzaky, pada Minggu (6/8).
Pemerintah Seoul mengakui masalah buruknya sanitasi di sana, tetapi para kritikus mengatakan bahwa hal tersebut sudah terlambat.
Perkemahan 'Terkutuk'
Sebenarnya, area perkemahan Saemangeum adalah dataran hasil reklamasi yang baru dibangun pada 2006.
Kebijakan pemerintah atas lahan ini menuai kontroversi, sebab para ilmuwan berpendapat sebenarnya daerah itu adalah lahan basah yang sangat penting bagi burung-burung yang bermigrasi.
Menurut para ahli, reklamasi di Saemangeum telah menghancurkan sumber makanan utama bagi ratusan ribu burung sekitarnya. Atas dasar itulah, jumlah burung yang bermigrasi ke area itu menurun drastis antara tahun 2001 dan 2014.
Dari hasil reklamasi, Saemangeum yang semula asri kini berubah menjadi lahan kosong tanpa pepohonan dengan sedikit tempat berteduh.
"Apa yang orang tidak mengerti tentang Saemangeum adalah bahwa tempat ini dikutuk," kata seorang profesor sosiologi di Universitas Nasional Kyungpook, Sohoon Yi.
Sohoon bahkan menyebut keputusan pemerintah melakukan reklamasi di Saemangeum justru telah membawa bencana ekologis.
"Tempat ini dikutuk dengan kematian burung-burung yang bermigrasi yang tak terhitung jumlahnya dan air yang mati. Sudah saatnya kita menyebut Saemangeum seperti apa adanya: bencana ekologis yang disebabkan oleh persepsi yang salah tentang hubungan manusia dengan alam," sambung dia.
Persiapan Minim Hadapi Cuaca Ekstrem
Sebenarnya, hampir setahun sebelum pelaksanaan jambore seorang anggota parlemen bernama Lee Won-taeg telah mengisyaratkan bakal adanya kegagalan besar yang akan terjadi.
Dia mengacu pada kurangnya rencana kontingensi jika terjadi cuaca ekstrem atau situasi darurat lainnya. Menanggapi hal ini, salah satu penyelenggara utama, Menteri Gender Kim Hyun-Sook, mengatakan seluruh perencanaan berjalan tanpa hambatan.
"Tunggu dan lihatlah. Sejarah pada akhirnya akan meminta pertanggungjawaban Anda, menteri, atas hal ini," ungkap Lee kepada Kim di parlemen.
Lalu, sekarang bagaimana?
Korea Selatan bersikeras bahwa acara jambore akan tetap dilaksanakan — bahkan setelah World Scout menyerukan agar acara dihentikan.
Untuk saat ini, seluruh peserta Jambore Dunia 2023 dievakuasi ke sejumlah wilayah di Korea Selatan.
Khususnya untuk Indonesia, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan lebih dari 1.500 peserta jambore asal Indonesia ditampung untuk sementara di asrama Wonkwang University.
"Mereka sudah mulai dievakuasi. Jadi laporan dari Pak Dubes tadi pagi per pagi ini kontingen Indonesia akan ditampung di Wonkwang University dormitory yang berjarak 55 kilometer dari Saemangeum," kata Retno usai menghadiri ASEAN Day di Sekretariat ASEAN, Jakarta, pada Selasa (8/8).
Dengan kata lain, pelaksanaan Jambore Dunia 2023 akan dilanjutkan seperti biasa dengan penampilan idol group BTS di penghujung kegiatan. Namun, para kritikus memandang rencana baru ini justru menghilangkan tujuan utama dari pelaksanaan Jambore itu sendiri.
"Sangat mengecewakan bahwa acara ini berubah menjadi 'jambore pariwisata' dengan semua orang mengambil bagian di tempat yang berbeda, daripada acara untuk berkumpul di satu tempat untuk membentuk pertemanan baru," tulis media JoongAng Ilbo.
