Burung-burung Liar di Istana Merdeka

Pada era Pemerintahan Presiden Joko Widodo, Istana Merdeka dijadikan sebagai tempatnya bekerja. Sedangkan untuk tempat tinggal, Jokowi lebih memilih Istana Bogor.
Baca juga: Video: Aksi Paspampres Kawal Jokowi dari Bogor ke Istana Jakarta
Meski demikian, Istana Merdeka bukan saja sebagai tempat kerja Jokowi tapi juga tempat mencari makan dan ekosistem bagi burung-burung di Kota Jakarta. Misalnya saja burung betet, burung kutilang, dan juga burung tekukur.
Istana Merdeka merupakan bangunan bersejarah sejak jaman kolonialisme Belanda. Maka tak heran, banyak sekali pohon-pohon yang menjulang tinggi dan berusia tua yang dijadikan tempat tinggal bagi burung-burung itu.
Untuk memberikan informasi soal ekosistem ketiga burung itu di istana, pihak Sekretariat Kepresidenan merilis film berdurasi 5.58 detik. Video itu diunggah pada Kamis (6/4) di channel Sudut Istana.
"Baru pertama mah cuman dikit. Semenjak sudah dikasih makan mah banyak. Pada datang, seminggu tiga kali," kata Zaenal yang bekerja sebagai Penanggulangan Hama dan Pemeliharaan Satwa Istana Kepresidenan Jakarta.
"Dulu sekitar lima puluh (ekor), gak banyak, ibaratnya burung dari istana asalnya dari Monas. Di sini burung dirawat benar," lanjut dia.
Memberi makan burung liar tersebut, lanjut Zaenal, ada manfaatnya. "Ada burung kutilang, tekukur, sama betet," ucap Zaenal.
Sedangkan menurut Kabag Peralatan dan Penataan Lingkungan Biro Pengelolaan Istana Sekretariat Presiden, Katino, menjelaskan bahwa burung-burung itu satwa liar yang perlu dilestariakan. Burung yang berkeliaran di lingkungan istana ini, Katino menegaskan sudah sedikit punah.
"Di lingkungan istana ini juga banyak pohon-pohon besar untuk berlindung mereka (burung)," imbuh Katino.
Wilayah Istana Kepresidenan sendiri dalam perspektif satwa itu menarik. Karena kompleks istana masih banyak vegetasinya.
"Itu sudah cukup lama menjadikan (istana) urban wild review atau tempat perlindungan satw-satwa di perkotaan. Dalam hal ini khususnya untuk burung. Berbiak, menggantungkan hidupnya di kompleks ini," ungkap Pengamat dan Peneliti Burung di Indonesia, Yoyok Hadiprakarsa.
Bila di suatu tempat terdapat burung, hal itu menandakan bahwa lingkungan tersebut baik. Karena burung indikator baiknya suatu lingkungan.
"Kalau burungnya hilang berarti lingkungannya rusak. Kalau ada burung jenis ini, oh ini musim berbuah apa. Jadi itu memang indikator lingkungan yang bagus," tambah Yoyok.
Istana berusaha untuk melindungi dan memberi umpan terhadap burung-burung liar di sekitarnya. Pemberian umpan dimaksudkan agar burung-burung betah di lingkungan istana.
"Itu menjadi menarik bahwa Istana Kepresidenan akan menjadi sentral untuk urban, wild life, dalam hal ini, burung. Yang mudah-mudahan nantinya bisa berhubung ke kantong-kantong burung di sekitarnya," terang Yoyok.
Dalam video tersebut juga diperlihatkan makanan-makanan burung yang diberikan istana. Untuk burung kutilang biasanya diberikan makanan pepaya dan pisang.
Kalau burung betet dan gagak, mereka diberi makan ranting dan biji buah ketapang atau sawo kecip. Bagi siapa pun yang ingin mempertahankan urban wild life di perkotaan tetap ada, Yoyok memberikan tipsnya.
"Pertama, pastikan mereka untuk mencari makan. Untuk berbiak dan berinteraksi itu tetap ada. Bisa juga dibantu dengan pembuatan birds feeder atau tempat pembuatan burung-burung makan. Dengan menyediakan berupa buah, biji-bijian," tutur Yoyok.
Tak hanya burung saja yang tinggal di Kompleks Istana, hewan bajing pun menetap. Bahkan populasinya cukup banyak. Walau istana tidak bisa memberikan fungsi sebesar yang diberikan di hutan. Namun istana tetap bisa memberikan fungsi ekologis bagi satwa.

"Beliau (Jokowi) senang mendengarkan kicau-kicau burung pada pagi hari. Makanya di Istana Merdeka khususnya, pintu belakang itu selalu dibuka. Beliau pengin melihat alam terbuka maupun isinya. Seperti burung-burung maupun pohon-pohon yang rindang," jelas Katino.
Sifat Jokowi yang ingin dekat dengan alam ini, ditambahkan Yoyok sangat menarik. Hal ini pun dianggap positif agar masyarakat luas bisa mengerti bahwa hidup manusia tak bisa lepas dari alam.
"Tentunya juga dengan mengedepankan aspek-aspek kelestarian dari satwa liar baik fauna maupun floranya," kata Yoyok.
Video yang diunggah itu juga menayangkan cuplikan pidato Jokowi di tahun 2015. Jokowi ketika itu menginginkan untuk memelihara, dan menciptakan suasana alam yang lestari.
"Betapa kalau kita memelihara, merawat lingkungan, akan bisa kita nikmati sebuah suasana alam yang lestari, di tengah-tengah sibuknya kota besar," tutur Jokowi pada Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia tanggal 5 Juni 2015 lalu.
