Buya Syafii Bicara Baliho: Syahwat Kekuasaan Terlalu Menonjol, Kasihan Rakyat

3 September 2021 19:23 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Buya Syafii saat menghadiri diskusi "Menjaga KPK, Mengawal Seleksi Pimpinan KPK" di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (28/8). Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Buya Syafii saat menghadiri diskusi "Menjaga KPK, Mengawal Seleksi Pimpinan KPK" di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (28/8). Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan
ADVERTISEMENT
Mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah, Ahmad Syafii Maarif, atau biasa dipanggil Buya Syafii bicara maraknya baliho dan billboard petinggi partai politik (parpol) yang berbau Pemilu 2024.
ADVERTISEMENT
Buya Syafii meminta para politikus untuk menahan diri dan tidak buru-buru memburu suara Pemilu 2024.
"Saya harap partai-partai politik ini atau politisi menahan diri. Menahan diri, kasihan bangsa ini. Utang juga utang negara yang makin banyak ya. Dan keuangan kita juga tidak bagus pertumbuhan ekonominya begitu," kata Buya Syafii di rumahnya di Nogitirto, Gamping, Kabupaten Sleman, Jumat (3/9).
Terlebih, Buya Syafii mengungkapkan di masa pandemi corona ini banyak anak yang menjadi yatim piatu lantaran kehilangan orang tua karena COVID-19.
"Sementara anak yatim, kematian karena COVID juga banyak. Mbok itu diperhatikan bersama-sama lah," ucap dia.
Menurutnya, semua pihak harus benar-benar berkonsentrasi untuk mengakhiri pandemi COVID-19 terlebih dahulu ketimbang berbicara politik.
ADVERTISEMENT
Ia menyebut Indonesia tidak boleh lengah menghadapi pandemi. Untuk itu, syahwat kekuasaan jangan terus menonjol.
Saat Baliho Puan dan Airlangga Bersanding di Bali. Foto: Denita BR Matondang/kumparan
Sementara bagi pihak yang hendak mengkritik pemerintah, ia menilai hal-hal itu sah saja. Namun, cara yang digunakan harus dengan cara yang baik. Pun pemerintah juga harus mendengar kritik-kritik tersebut.
"Perkara mengkritik pemerintah oke, tapi sampaikan dengan cara-cara yang elegan. Cara-cara yang baik gitu. Pemerintah juga harus mendengar juga kritik itu. Ini jangan jor-joran kekuasaan. Itu namanya kita tidak punya kepekaan," pungkasnya.