Cegah Bunuh Diri, Apa Saja Bantuan dan Dukungan yang Bisa Diberikan?

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Konten Spesial Jangan Bunuh Diri. Foto: Fitra Andrianto/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Konten Spesial Jangan Bunuh Diri. Foto: Fitra Andrianto/kumparan

Angka kasus bunuh diri di Indonesia dari tahun ke tahun semakin meningkat. Berdasarkan data Pusat Informasi Kriminal Polri, pada tahun 2023 jumlah kasus bunuh diri di Indonesia mencapai 1.226 kasus, naik cukup signifikan dari tahun 2022 yang mencapai 902 kasus.

Terakhir, di pertengahan Mei 2024, seorang siswa SMP di Jakarta nekat lompat dari lantai tiga sekolahnya. Siswa itu tak meninggal meski mengalami luka di kepala dan kakinya.

Psikolog Klinis dan Co-Founder Ohana Space, Veronica Adesla, mengungkapkan sebenarnya pemerintah dan masyarakat bisa bahu membahu menekan angka bunuh diri di Indonesia. Salah satunya adalah dengan melawan stigma tentang bunuh diri.

"[Kita juga bisa] menjadi 'gatekeeper' dan memberikan dukungan sosial dengan bersikap peka dan peduli mengenali individu atau keluarga yang berisiko, dan mensosialisasikan pencegahan bunuh diri," ucap Veronica kepada kumparan, Rabu (22/5).

Veronica menuturkan, ada beberapa bantuan dan dukungan bisa diberikan kepada individu yang rentan atau berisiko bunuh diri, misalnya:

  • Tidak mengabaikan

  • Peka dan peduli terhadap perasaan mereka

  • Menjadi pendengar yang baik

  • Menjaga mereka tetap aman

  • Menemani dan menjauhkan barang berbahaya

  • Memberikan pengawasan, jangan meninggalkan mereka sendirian

  • Menyarankan dan membantu mereka mencari pertolongan dengan datang ke profesional.

Pentingnya Psikoedukasi di Masyarakat

Ilustrasi bullying di Korea Selatan. Foto: Rawpixel.com/Shutterstock

Beberapa kasus bunuh diri dilakukan oleh anak-anak di bawah umur. Veronica membenarkan, ada kemungkinan naiknya kasus bunuh diri ini salah satunya berhubungan dengan apa yang dilihat dan dipelajari oleh remaja mengenai isu tersebut di media sosial.

"Seperti kita ketahui bahwa area pre-frontal cortex pada otak adalah yang paling terakhir matang pada seseorang di usia 24/25 tahun. Area otak ini memegang peranan penting dalam menalar perilaku kognitif kompleks, membuat keputusan, dan mengatur perilaku sosial," jelas Veronica.

"Artinya anak remaja tetap membutuhkan pengarahan dan pendampingan yang tepat dalam menalar dan berpikir kritis memahami isu bunuh diri yang mereka lihat di media sosial agar tidak sampai terjadi kesalahan dalam berpikir dan menyelesaikan masalah," lanjutnya.

Melalui pendampingan yang tepat, mereka juga bisa belajar dan memahami bagaimana cara meregulasi emosi dan apa yang harus dilakukan saat mengalami masalah yang dirasa berat. Apalagi di masa remaja, selain mengalami perubahan fisik, remaja jadi lebih peka terhadap penilaian dan penerimaan orang lain serta memiliki emosi yang cenderung labil dan didominasi rasa marah, takut, dan cinta.

"Selain itu adanya pola pemikiran yang terdistorsi atau salah dalam menilai bunuh diri sebagai cara yang dapat dilakukan untuk mengakhiri penderitaan atau rasa tidak nyaman yang dirasakan juga dapat menyebabkan terjadinya upaya bunuh diri," tuturnya.

Di banyak kasus bunuh diri di kalangan remaja, berkaitan dengan perundungan yang dialami oleh korban. Menurut Veronica, seminar atau workshop hingga psikoedukasi tentang relasi pertemanan yang sehat dan anti-bullying harus digaungkan terus menerus di sekolah, masyarakat, komunitas, hingga di keluarga.

"Apa itu bullying? apa perbedaan antara bullying dan bercanda, di mana batasannya? mengapa tidak boleh melakukan bullying? Harus bagaimana bila ada teman yang mendapatkan bullying ataupun melakukan bullying. Harus bagaimana agar tidak menjadi pem-bully?" jelasnya.

Psikoedukasi ini, kata Veronica, tak hanya ditujukan oleh anak saja, tetapi juga orang dewasa termasuk orang tua. Sehingga mereka bisa paham bagaimana memberikan penanganan dan perlakuan yang tepat.

"Psikoedukasi tidak hanya untuk anak tapi juga untuk orang tua agar juga paham bagaimana cara yang tepat dan sehat untuk bersikap sebagai orang tua, mendampingi dan mendidik anak remaja mereka agar dapat mendukung dan menerapkan pertemanan sehat anti bullying," ucap Veronica.

Ke Mana Harus Minta Bantuan?

Ilustrasi siswa depresi tidak lolos PPDB. Foto: Mindmo/Shutterstock

Ketika dorongan untuk bunuh diri muncul di diri kita atau orang terdekat, Veronica meminta agar segera mencari bantuan profesional di bidang kesehatan mental, baik psikolog klinis atau psikiater. Ia menjabarkan, ada beberapa ciri-ciri yang bisa dijadikan deteksi dini, yaitu:

  • Kehilangan minat atau semangat melakukan aktivitas/hal-hal yang biasa dilakukan

  • Menarik diri dari lingkungan atau lebih banyak memilih untuk menyendiri

  • Merasa tidak berdaya atau putus asa, lelah dengan hidup

  • Terpikir untuk mengakhiri hidup

  • Memikirkan cara-cara dan berupaya untuk mengakhiri hidup.

Veronica juga menjelaskan, sebenarnya Kementerian Kesehatan memiliki program PSC 199 yang bisa dihubungi untuk meminta bantuan darurat. Namun, kata Veronica, mungkin jumlah tenaganya masih belum seimbang dengan kebutuhan di masyarakat.

"Meski demikian yang saya tahu Ikatan Psikolog Klinis Indonesia terus menerus mengimbau dan membuka kesempatan bagi para psikolog klinis yang hendak ikut melayani di PSC 119 ini," pungkasnya.