Cerita Horor Warga Palestina Terjebak di RS Al-Shifa yang Diserbu Israel
·waktu baca 3 menit

Militer Israel pada Rabu (15/11) mulai menyerbu rumah sakit terbesar di Jalur Gaza, Al-Shifa, saat ribuan orang Palestina, termasuk pasien dan warga sipil yang sedang berlindung masih terjebak di dalamnya.
Peluncuran ini didasari pada informasi intelijen Israel beserta sekutu dekatnya, Amerika Serikat, bahwa Hamas menjadikan kompleks Al-Shifa sebagai pusat komando hingga penyimpanan senjata.
Dikutip dari Reuters, seorang dokter ahli bedah yang berada di RS Al-Shifa selama penyerbuan terjadi, Ahmed El Mokhallalati, menyebut situasi di lokasinya sangat mengerikan dan suara tembakan terus terdengar.
"Pengeboman. Penembakan di sekitar rumah sakit dan di dalam rumah sakit. Benar-benar mengerikan, Anda bisa merasakannya sangat dekat dengan rumah sakit. Dan kemudian kami menyadari bahwa tank-tank itu bergerak di sekitar rumah sakit," jelasnya, ketika dihubungi via telepon.
Mokhallalati menambahkan, puluhan tentara Israel telah memasuki gedung rumah sakit dan bersenjata lengkap. Warga sipil di sana, kata Mokhallalati, berlindung dengan cara menghindari jendela.
"Mereka baru saja parkir di depan unit gawat darurat rumah sakit. Semua jenis senjata digunakan di sekitar rumah sakit. Mereka menargetkan rumah sakit secara langsung. Kami mencoba untuk menghindari berada di dekat jendela," tambahnya.
Meniru perkataan tentara Israel, Mokhallalati mengatakan para warga sipil didesak untuk menyerah dan disebut telah menjadi tameng untuk Hamas. "Kami tahu ini bohong," ungkapnya.
Di tengah deru suara baku tembak, Mokhallalati dan ribuan orang lainnya di RS Al-Shifa hanya bisa berdoa. "Salah satu kamar pasien menjadi sasaran. Ada satu bagian dinding yang bolong. Tidak ada yang terluka tapi semua orang ketakutan," jelas dia.
Diinterogasi, Dipermalukan
Lebih lanjut, seorang jurnalis Al Jazeera yang juga berada di dalam RS Al-Shifa, Jihad Abu Shanab, mengungkapkan saat ini mereka sedang diinterogasi oleh pasukan penjajah. "Kami ditakut-takuti, diinterogasi secara kasar, dan dipermalukan," kata Shanab.
"Mereka menyuruh semua orang naik ke lantai atas, lalu pergi ke lantai bawah untuk diperiksa dan kemudian mereka dipaksa untuk diinterogasi dan mereka melihat banyak penghinaan," tambahnya.
Para saksi mata di Al-Shifa, sambung Shanab, mengatakan tidak ada perlawanan yang terjadi sama sekali. Hal itu dikarenakan rumah sakit tersebut hanya dihuni oleh pasien, dokter, staf medis, dan korban kebrutalan Israel yang mencari perlindungan saja.
Meski begitu, pasukan penjajah tetap memperparah kondisi di RS Al-Shifa yang sejak awal sudah memprihatinkan. "Sebelum menyerbu kompleks, mereka telah menargetkan semua lantai, generator, unit komunikasi, dan sekarang kami tidak dapat melakukan kontak dengan dunia luar," ujar Shanab.
Menurut Kementerian Kesehatan Palestina, saat ini diperkirakan ada 650 pasien dan 5.000-7.000 warga sipil masih terjebak di dalam RS Al-Shifa.
Mereka tidak punya pilihan lain selain bertahan di sana meski tanpa aliran listrik dan keterbatasan akses ke air bersih, makanan, bahan bakar, obat-obatan, hingga layanan internet. Sebab, nyawa mereka yang menjadi taruhan jika keluar dari kompleks rumah sakit.
Di sekeliling Al-Shifa, pejabat Palestina mengatakan pasukan drone dan sniper Israel telah ditempatkan sembari bersiaga menunggu perintah untuk menembaki target-targetnya tanpa pandang bulu.
Sehubungan dengan seluruh kebrutalan yang dilakukannya sejak 7 Oktober, Israel diyakini tidak hanya ingin menumpas Hamas seperti yang dikatakannya di awal perang — melainkan juga menumpas warga etnis Palestina di Jalur Gaza.
