Cerita Irpan Mengungsi ke Dataran Tinggi usai Gempa 6,6 M Guncang Sumur, Banten

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sejumlah warga di Kecamatan Sumur, Pandeglang, Banten, mengungsi ke perkampungan yang terletak di Gunung Pariuk atau kaki Gunung Honje, usai gempa 6,6 M mengguncang. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah warga di Kecamatan Sumur, Pandeglang, Banten, mengungsi ke perkampungan yang terletak di Gunung Pariuk atau kaki Gunung Honje, usai gempa 6,6 M mengguncang. Foto: Dok. Istimewa

Gempa berkekuatan magnitudo 6,6 yang berpusat di Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, pada Jumat (14/1) sekitar pukul 16.05 WIB membuat warga panik.

Alhasil, terdapat sejumlah warga di Sumur memilih untuk mengungsi lantaran khawatir terjadinya gempa susulan atau bahkan tsunami. Meski BMKG menyatakan gempa kuat yang dirasakan hingga Jakarta tersebut tak berpotensi tsunami.

Salah satu yang mengungsi adalah warga Desa Cigorondong, Kecamatan Sumur, bernama Irpan Afendi (35). Saat ini, dirinya beserta seluruh keluarga memilih mengungsi ke tempat yang lebih tinggi karena trauma tsunami yang pernah terjadi pada 2018 lalu.

Beberapa warga Kecamatan Sumur mengungsi ke Gunung Pariuk yang merupakan kaki Gunung Honje yang masih berada di wilayah Kecamatan Sumur, tetapi memiliki posisi lebih tinggi.

"Iya saya sedang ngungsi sama keluarga di Kampung Kapudang di Gunung Pariuk, karena trauma. Kan dulu pernah ada tsunami. Enggak tahu (ngungsi) sampai kapan, kayaknya sampai besok pagi, tapi keputusannya gimana besok," ungkap Irfan.

Sejumlah warga di Kecamatan Sumur, Pandeglang, Banten, mengungsi ke perkampungan yang terletak di Gunung Pariuk atau kaki Gunung Honje, usai gempa 6,6 M mengguncang. Foto: Dok. Istimewa

Hal senada disampaikan Kepala Desa Tamanjaya, Kecamatan Sumur, Ade Sutoni. Dirinya membenarkan bahwa terdapat warganya yang saat ini sedang mengungsi ke dataran yang lebih tinggi.

"Iya setelah saya survei dari mulai Kampung Paniis sampai Kampung Tamanjaya itu rata-rata pada ngungsi. Hanya beberapa (warga) saja yang berjaga di tiap kampung biar rumah enggak sampai kosong," kata Ade Sutoni dihubungi, Jumat (14/1) malam.

Menurutnya, keinginan mengungsi merupakan inisiatif warga sendiri tanpa adanya instruksi dari pemerintah setempat. Pasalnya, rasa trauma kejadian tsunami 2018 seolah masih membayangi masyarakat.

"Karena dulu di sini (Kecamatan Sumur) pernah terjadi tsunami, jadi mereka pada trauma. Jadi pada nyelamatin diri. Kalau barang-barang gitu mah itu udah dianggap penting enggak penting, tapi nyawa lebih penting," tandasnya.

Berdasarkan catatan dari BPBD Kabupaten Pandeglang, sebanyak 17 Kecamatan terdampak gempa berkekuatan 6,6 magnitudo tersebut dan mengakibatkan sejumlah rumah dan fasilitas sekolah rusak.