Cerita Kelam tentang Batavia dan Penemuan Saluran Air Kuno di Jalur MRT
ยทwaktu baca 4 menit

Proses pembangunan MRT Jakarta mengungkap kejutan baru. Baru-baru ini muncul saluran air kuno Batavia yang ditemukan saat pembangunan fase 2 berlangsung.
Tim arkeologi dan kontraktor MRT Jakarta memperkirakan saluran air ini mulai dibangun pada 1730 dan direncanakan sebagai jalur air bersih yang memasok kebutuhan air bagi masyarakat yang tinggal di dalam kastil Batavia.
Salah satu alasan di balik pembuatan jalur air bersih ini adalah sebagai antisipasi terhadap polusi parah yang melanda Batavia pada saat itu.
Lantas seperti apa sejarahnya?
Tenggelam dalam Sampah
Peran Batavia sebagai pusat perekonomian sudah berjalan sejak nama ini diberikan oleh Belanda pada 1619. Dalam waktu singkat, kota ini telah menarik minat banyak pendatang baru dari berbagai bangsa.
Lonjakan penduduk dan berbagai aktivitas perdagangan dalam skala besar ini, ditambah sanitasi dan pengelolaan limbah yang kurang dari pemerintah setempat. Hal ini membuat Batavia perlahan tenggelam dalam lautan sampah.
Bau tidak sedap dapat tercium dari beberapa sudut kota. Sampah basah seperti bangkai ikan kerap kali tercium dari pasar-pasar yang tersebar di seluruh penjuru kota.
Banyaknya penduduk yang bejubel memadati Batavia dan sistem sanitasi yang buruk juga membuat sampah biologis masyarakat mencemari perairan setempat.
Masalah Utamanya adalah Feses
Dalam artikelnya yang terbit di Issues in Urban Development, Luc Nagtegaal menyatakan bahwa bentuk utama dari polusi air yang melanda Batavia adalah feses manusia.
Pada masa itu, penduduk menggunakan guci sebagai wadah untuk menampung kotoran mereka. Setelah dirasa penuh, isi dari guci tersebut akan dibuang ke kanal.
Hal ini tentu sangat menggangu, terlebih saat kanal meluap atau tersumbat, membuat tumpukan kotoran tersebut mengendap dan menimbulkan bau tidak sedap.
Tidak hanya kanal, pinggiran laut Batavia pun turut merasakan dampak pencemaran. Bibir pantai Ancol, misalnya, yang pernah menghasilkan lendir kotor yang berujung pada kematian ikan-ikan di tepi pantai.
Dalam sejarah Batavia, abad 18 hingga abad 19 ditandai sebagai masa kota tersebut mendapat julukan 'kota tercemar' di Hindia Belanda.
Wabah yang Melanda
Pencemaran hebat ini berpengaruh langsung pada kualitas hidup masyarakat Batavia.
Pada pertengahan abad 18, penyakit misterius melanda Batavia dan menyerang para pendatang. Akibatnya, hampir 85.000 orang meninggal dunia.
Wabah penyakit mematikan seperti malaria, kurangnya aliran air dan udara bersih, serta tumpukan sampah yang tersebar di penjuru kota membuat kunjungan ke Batavia kemudian menjadi hal yang ditakuti para pendatang.
Suasana Batavia yang tercemar membuat proses penepian kapal berjalan sulit. Kapal-kapal pendatang harus berlabuh cukup jauh dari pantai untuk menghindari bibit penyakit yang mungkin terbawa oleh angin.
Upaya Penanggulangan
Banyaknya wabah penyakit yang disebabkan oleh pencemaran hebat ini membuat pemerintah setempat pada masa itu harus turun tangan dalam upaya mengurangi tingkat polusi.
Salah satunya adalah dengan melarang masyarakat setempat membuang sampah di jalan dan kanal, serta menerapkan hukuman bagi pelanggarnya.
Pemerintah setempat juga mempekerjakan orang yang bertugas mengangkut sampah yang berserakan di penjuru kota dan menambah jumlah tempat sampah.
Kebiasaan masyarakat setempat membuang sampah biologis ke kanal juga mendapat perhatian pemerintah setempat. Peraturan mengenai larangan membuang guci kotoran sebelum jam sembilan malam pun dibuat.
Sekelompok pekerja dikerahkan untuk mengelilingi kota untuk mengambil guci-guci kotoran yang penuh sebelum membawanya ke tempat pembuangan yang jauh dari pusat kota Batavia.
Tidak hanya berusaha untuk menanggulangi pencemaran air, pemerintah setempat pada masa itu juga berusaha mengurangi tingkat polusi udara dengan menanam berbagai jenis pohon di taman-taman kota.
Sistem Air Bersih di Proyek MRT
Saluran air yang ditemukan pada proyek pembangunan MRT ini juga diduga sebagai bagian dari sistem air bersih kota Batavia yang mulai dibangun pada 1730.
Pembangunan saluran air ini memakan waktu cukup lama karena bahan baku yang dibutuhkan didatangkan langsung dari Belanda. Meskipun mulai dikerjakan pada tahun 1730, saluran air ini dikabarkan baru beroperasi pada awal tahun 1800-an.
Saluran itu diperkirakan mengalirkan pasokan air bersih untuk penghuni kastil Batavia yang kurang lebih berjumlah 10.000 penduduk, saluran ini mengalirkan air dari kolam air atau water plaat yang berada di daerah Pancoran, dialirkan menuju kastil Batavia, dan berakhir di daerah sekitar Pasar Ikan (di kawasan Jakarta Utara).
