Cerita Kerabat Soal Perubahan Perilaku Orang Tua yang Ruwat Anak di Temanggung

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Rumah bocah di Temanggung, Jawa Tengah, yang meninggal karena diruwat. Foto: kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Rumah bocah di Temanggung, Jawa Tengah, yang meninggal karena diruwat. Foto: kumparan

Penyebab kematian seorang bocah berinisial ALH yang berumur 7 tahun karena diruwat oleh orang tuanya di Temanggung menyimpan banyak kecurigaan, seperti yang diungkapkan oleh kerabat korban sendiri.

Sri, salah satu kerabat ALH mengaku menaruh curiga kepada kedua orang tua ALH belakangan ini.

Ia mengungkapkan, kedua orang tua siswi kelas 1 SD tersebut menjadi lebih tertutup. Mereka tidak lagi menerima tamu dan jika ingin mengambil jahitan pakaian harus melakukan konfirmasi terlebih dahulu.

"Ibunya penjahit, bapaknya kerja di karetan PTP. Rumahnya semua dikunci, enggak pernah menerima tamu, kalau mau berkunjung itu Whatsapp dulu," jelas dia.

Sri mengatakan, kerabatnya itu merupakan keluarga yang berkecukupan. Usaha jahit menjahit yang dilakoni ibu ALH itu bahkan cukup terkenal.

"Kalau dibandingkan yang lain ya lumayan lah. Motor juga punya 3, punya alat jahit pakai dinamo semua. Orderan ya sudah banyak dan di mana-mana," jelas dia.

Sri tidak habis pikir soal alasan orang tua ALH meruwat anaknya karena nakal.

"Iya apa sih nakalnya anak-anak umur segitu. Paling ya minta jajan enggak seberapa," ungkapnya.

Menurut Sri, kerabatnya itu termasuk orang yang mengerti ilmu agama. Apalagi anak sulung atau kakak perempuan ALH mengenyam pendidikan di salah satu pondok pesantren di Temanggung.

"Anaknya dua, perempuan semua. Satunya di pondok, sekarang dibawa mbahnya di Candiroto setelah adiknya dimakamkan," ungkapnya.

Setelah kejadian penemuan mayat ALH, kata Sri, dusun kecil yang terletak di antara perkebunan karet itu mendadak sepi. Kejadian itu membuat kaget warga setempat hingga tidak berani keluar rumah.

"Pertama mendengar itu merinding sampai satu desa kemarin sepi. Sepi horor enggak ada orang padahal biasanya ramai," tandasnya.

Kapolres Temanggung AKBP Benny Setyowadi. Foto: Heru Suyitno/ANTARA

Sebelumnya diberitakan AHL, bocah berusia tujuh tahun di Temanggung, Jawa Tengah, meninggal karena diruwat. Jasad korban ditemukan dalam kondisi mengering di rumahnya.

Penyelidikan kasus tersebut terus berlanjut. Saat ini polisi menemukan fakta bahwa AHL diduga merupakan korban ritual dukun.

Kapolres Temanggung, AKBP Benny Setyowadi mengatakan pihaknya telah melakukan pemeriksaan terhadap empat orang saksi yang terdiri dari ayah kandung korban, ibu kandung korban, serta dua orang berinisial H dan B.

"Sementara ini dugaannya memang ada ritual atas bujuk rayu dari saudara H yang merupakan seorang dukun, juga atas saran B di mana melihat kondisi anak nakal dan kena pengaruh gaib," kata Benny kepada Tugu Jogja, Selasa (18/5).

Dukun H melihat kondisi anak yang nakal dan ada keturunan genderuwo maka dia menyarankan harus diruwat. Ritual yang dilakukan dengan membenamkan kepala korban ke dalam bak mandi berkali-kali hingga korban tak sadarkan diri. Setelah itu korban dibawa ke kamar hingga akhirnya meninggal dunia.

Namun dukun H meyakinkan kedua orang tua AHL bahwa anaknya nanti akan hidup lagi. Selain itu, pengaruh dari dunia lain akan hilang dan si anak akan bisa hidup normal. Jasad korban diduga telah disimpan di dalam kamar rumah orang tuanya selama 4 bulan. Kondisi terakhir hanya tersisa tulang belulang dan kulit kering.

Korban kini telah dikebumikan di makam desa setelah menjalani autopsi pada Senin (17/5) sore.

embed from external kumparan

==

embed from external kumparan