Cerita Korban Selamat Kecelakaan KRL Bekasi Timur: Lompat dari Jendela

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Proses evakuasi gerbong KRL wanita di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026) sore. Foto: Nauval Pratama/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Proses evakuasi gerbong KRL wanita di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026) sore. Foto: Nauval Pratama/kumparan

Seorang korban selamat kecelakaan KRL di Stasiun Bekasi Timur, Umroh Suleha (50), mengaku masih mengalami trauma setelah insiden yang menewaskan belasan orang tersebut. Ia juga menceritakan detik-detik saat dirinya harus melompat keluar dari gerbong untuk menyelamatkan diri.

Umroh mengatakan benturan keras terjadi di dalam gerbong hingga membuat penumpang terpental. Ia yang berada di gerbong 6 dari rangkaian 10 melihat langsung kepanikan di dalam kereta.

“Dari gerbong saya itu ada yang dari pintu itu mental, kenceng banget. Saya langsung astaghfirullahalazim, ada yang berdarah langsung,” ujarnya saat ditemui di RSUD Bekasi, Jawa Barat, Kamis (30/4)

Dalam kondisi panik, ia memutuskan keluar dari gerbong dengan cara melompat melalui jendela. Keputusan itu diambil karena tidak kuat melihat situasi di dalam kereta.

“Sakit. Karena kan posisi kaget juga, ya kan namanya umur seusia saya 50 tahun kan, ya kaget. Udah gitu lompat dari jendela gitu,” ungkapnya.

Usai kejadian, Umroh tidak langsung mendapat penanganan medis. Ia memilih pulang ke rumah di Cibitung menggunakan ojek online karena tubuhnya gemetar.

“Badan saya gemeteran, saya langsung pesan ojek online, saya pulang ke Cibitung,” ucapnya.

Keesokan harinya, ia merasakan nyeri di seluruh tubuh hingga akhirnya memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Dari hasil pemeriksaan, ia menjalani rontgen untuk memastikan kondisinya.

“Bangun tidur tulang saya sakit banget, nggak bisa digerakin. Akhirnya saya ke dokter, dirontgen semua,” katanya.

Meski selamat, Umroh mengaku masih diliputi trauma, terutama saat kembali berada di lokasi kejadian.

“Pas saya injak Bekasi Timur itu, hati saya langsung sedih. Masih nangis,” ujarnya.

Namun demikian, ia tetap berusaha kembali menggunakan kereta sebagai moda transportasi sehari-hari, sambil berupaya mengatasi rasa takut yang muncul.

“Ya dibilang trauma sih trauma, tapi itu kan jalanan saya, lewat situ,” katanya.

Ia pun mengaku sudah mencoba memberanikan diri dengan kembali naik kereta. Untuk mengatasi rasa takut, Umroh menyebut, dirinya mencoba menenangkan diri dengan cara berzikir selama perjalanan.

“Ya pelan-pelan ya saya banyak-banyak dzikir aja, ‘ya Allah gua udah naik kereta lagi ini’ tapi alhamdulillah tadi keretanya nggak begitu kayak kemarin,” ujarnya.

Sebelumnya, kecelakaan antara KRL dan KA Argo Bromo Anggrek terjadi di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4) malam. Insiden tersebut menyebabkan 16 orang meninggal dunia.