Cerita Menlu Fiji yang Doyan Mi Instan Indonesia

Menteri Luar Negeri Fiji Inia Seruiratu memuji kelezatan produk mi instan asal Indonesia. Dia mengatakan produk mi dari Indonesia jadi dambaan baru bagi warga di negaranya.
Pujian dari Seruiratu disampaikan langsung kepada Menlu RI Retno Marsudi. Mereka bertemu pada Kamis (5/12) di sela Bali Democracy Forum (BDF) di Nusa Dua, Bali.
“Sebenarnya kecil tapi menunjukkan hubungan yang baik di bidang ekonomi. Misalnya, beliau menyebutkan produk mi instan Indonesia sudah sangat populer di Fiji bahkan untuk orang-orang Fiji yang hidup di dataran tinggi itu produk mi menjadi sangat tenar,” kata Retno di Bali Nusa Dua Conference Center (BNDCC), Nusa Dua, Bali, Kamis (5/12).
Kepada Retno, Seruiratu mengaku sering mengkonsumsi mi instan Indonesia. Retno pun mengatakan, warga Indonesia memang sangat menyukai mi instan buatan lokal.
“Jadi saya sampaikan saat saya kuliah itu (mi instan) juga menu yang selalu dimakan pada saat-saat tertentu, pada saat hujan, saat bete, saat macam-macam, itu kalau makan itu langsung segar dan sebagainya,”kata Retno.
Dalam pertemuan tersebut, Retno mengatakan keduanya juga membahas beberapa hal lainnya. Mulai dari kerja sama di bidang maritim hingga permintaan Fiji agar Indonesia memberi pelatihan pengolahan komoditas menjadi produk.
Selain Fiji, Retno juga melakukan pertemuan bilateral dengan sejumlah menteri negara lainnya, seperti Selandia Baru, Singapura dan Namibia.
“Dengan Selandia Baru kita bicara mengenai masalah kemitraan kita di Pasifik, jadi tadi secara agak lebih detail kita bicara bahwa Selandia Baru tentunya memiliki hubungan dekat dengan Pasifik, Indonesia juga meletakkan Pasifik sebagai salah satu prioritas di dalam polugri Indonesia,” ujar Retno.
Sedangkan pertemuan antara Retno dan Menteri Negara Urusan SDM dan Pembangunan Singapura Zaqy Mohammad lebih membahas tentang perkembangan dunia pendidikan.
“Tadi kita berbicara khusus mengenai masalah educational training, bagaimana kita mengubah mindset pendidikan dari pendidikan yang lebih cenderung ke university best graduate menjadi ahli betul diperlukan sesuai dengan perkembangan zaman dan perkembangan pasar,” kata Retno.
“Kita juga berbicara bagaimana kita tak hanya mencetak jobs seeker tapi kita juga mencetak job creators,” ujar Retno.
Sementara pertemuan dengan Namibia, Indonesia diundang untuk hadir dalam peluncuran pusat pemberdayaan perempuan di negara tersebut.
"Tahun depan dia akan me-launch center untuk pemberdayaan perempuan di Namibia dan dia akan mengundang Indonesia untuk hadir dalam peluncuran itu,” kata Retno.
“Indonesia dianggap sebagai negara yang cukup maju dalam pengarusutamaan urusan perempuan,” ujar Retno.
