Cerita Muslim Uighur di Xinjiang: Berbeda hingga Ingin Merdeka

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Para lelaki lanjut usia Uighur sedang menunggu sedekah di luar pasar di kota Turan, provinsi Xinjiang, China barat laut. (Foto: AFP/Robyn BECK)
zoom-in-whitePerbesar
Para lelaki lanjut usia Uighur sedang menunggu sedekah di luar pasar di kota Turan, provinsi Xinjiang, China barat laut. (Foto: AFP/Robyn BECK)

Muslim Uighur di Xinjiang, China menjadi sorotan terkait dugaan diskriminasi yang mereka alami. Pemberitaan yang beredar menyebut pemerintah China begitu represif kepada Muslim Uighur.

Mereka dkabarkan mendapat halangan untuk menjalankan ibadah atau ritual agama. Bahkan, masyarakat Uighur juga disebut tidak boleh berjenggot, bercadar, hingga menggunakan nama-nama Islami.

Pemerintah China pun disebut mencekoki orang-orang Uighur dengan ideologi komunis. Lalu, kenapa hal itu bisa terjadi dan sejak kapan sebenarnya Islam dikenal di Xinjiang?

Awal Terbentuknya Identitas Muslim Uighur

Dilihat secara aspek geografis, Xinjiang merupakan daerah otonom terbesar di China. Namun, karena geografinya yang berbentuk gurun dan pegunungan membuat wilayah ini memiliki jumlah penduduk yang relatif lebih sedikit dibanding dengan provinsi besar lainnya di negara itu.

Di Xinjiang, hidup berbagai etnis. Dari mulai Uighur, Han, Kazak, Kirgis, Mongolian, dan beberapa etnis lainnya. Mengutip sensus terakhir tahun 2010, Uighur menyumbang 44 persen populasi di Xinjiang, etnis Han ada 40 persen, dan sisanya dari etnis-etnis lainnya.

Jalur Urumqi- Kashgar. (Foto: maps.google.com)
zoom-in-whitePerbesar
Jalur Urumqi- Kashgar. (Foto: maps.google.com)

Ada 23 sampai 50 juta Muslim di seluruh China, yang kebanyakan tinggal di wilayah Kashgar, Xinjiang. Sebuah kota yang berjarak sekitar 1.500 km atau bisa ditempuh 17 jam melalui jalur darat atau 1 jam 40 menit melalui jalur udara dari ibu kota Xinjiang, Urumqi.

Mirip seperti di Indonesia, Islam memasuki wilayah Xinjiang salah satunya melalui jalur perdagangan. Selain itu, karena lokasinya berada di timur wilayah China, keberadaan Muslim Uighur tak bisa terlepas dari bangsa Turki.

Bila merujuk pada jurnal Mohammed Khamouch, Jewel of Chinese Muslim’s Heritage, Islam mulai masuk pada pertengahan abad ke-7, dibawa oleh Saad bin Abi Waqqas yang memiliki ikatan darah dengan Nabi Muhammad shallalahu alaihi wasallam.

Dua Uighur Mullah di Xinjiang pada tahun 1920-an. (Foto: Dok. Wikimedia)
zoom-in-whitePerbesar
Dua Uighur Mullah di Xinjiang pada tahun 1920-an. (Foto: Dok. Wikimedia)

Sementara itu, merujuk pada buku lainnya berjudul ‘Kashgar: Oasis City and China’s Old Silk Road’ karya John Gollings, Islam mulai merambah Xinjiang, pada abad ke-8. Saat itu, identitas Muslim Uighur terbentuk.

Di masa itu para tentara Arab mulai memasuki wilayah Asia Tengah dan menyebarkan Islam. Islam menjadi pemersatu dan kemudian menjadi identitas bagi Xinjiang melalui salat, membaca Al-Quran, hingga merayakan hari keagamaan.

"Jalur perdagangan sutra itu kan kemudian menjadi jalur perdagangan penting bagi penyebaran agama Islam. Nah, di situlah kemudian Uighur menjadi etnis muslim," kata Ahli Sejarah Islam Universitas Indonesia Yon Mahmudi dalam perbincangannya dengan kumparan. Kamis (4/1).

Jika dilihat dari sisi fisik, Muslim Uighur berbeda dengan warga China pada umumnya. Kebanyakan dari mereka berkulit putih, tak sedikit yang bermata biru, lebih mirip dengan orang Asia Tengah.

Pada abad ke-19, tepatnya di masa Dinasti Qing, orang Uighur tetap dimasukkan dalam penguasaan kekaisaran China. Sudah jamak diketahui Turki dan masyarakat Uighur berhubungan erat. Sejarahnya, bila merujuk pada buku The Turks in World History karangan Carter V. Findley, orang-orang Turki mulanya mendiami wilayah Asia Tengah, yang salah satunya kini didiami masyarakat Uighur.

Mereka kemudian bermigrasi ke barat dan menaklukkan wilayah yang mereka diami kini dari imperium Romawi. Oleh sebab itu, wajar antara orang Turki dan Uighur punya ikatan etnisitas dan historis yang kuat. Mereka memiliki akar bahasa yang sama. Dari segi fisik pun bisa dibandingkan, hampir tak ada beda.

Setelah kepergian orang-orang Turki ke barat, wilayah yang didiami masyarakat Uighur kemudian ditaklukkan oleh Dinasti Qing dari China.

“Di bawah kekuasaan Dinasti Qing di China, Uighur kemudian dimasukkan menjadi bagian dari kekaisaran China waktu itu, sekitar awal abad ke-19,” cerita Yon.

Penaklukan tersebut membuat masyarakat Uighur masuk dalam wilayah administratif China, yaitu Xinjiang. Xinjiang sendiri dalam bahasa China berarti wilayah baru yang ditaklukkan dan letaknya berada di perbatasan.

"Diberi nama Xinjiang untuk menunjukkan ini adalah perbatasan baru. Daerah yang sangat penting bagi China karena berhadapan dengan dunia luar,” ungkap Yon.

Namun, mereka ternyata mendapat perlakuan berbeda dan cenderung diskriminatif dari pemerintah. Mulai dari pembatasan jumlah anak hingga aturan berbusana.

Alhasil, pembedaan yang bagi orang Uighur dinilai diskriminatif itu memicu perlawanan. Tepatnya, mulai tahun 1933 ketika orang-orang Uighur mendeklarasikan berdirinya Republik Turkistan.

"Nah, karena beda kemudian menjadi tadi, ada aspek separatis. Kemudian menjadi persoalan bagi negara China yang ingin wilayahnya tetap stabil," ungkap dia.

Warga Uighur di Xinjiang, China (Foto: AFP/Johannes Eisele)
zoom-in-whitePerbesar
Warga Uighur di Xinjiang, China (Foto: AFP/Johannes Eisele)

Munculnya Republik Turkistan juga erat kaitannya dengan apa yang terjadi di Turki pada era yang sama atau Pan Turkisme. Yakni sebuah gerakan untuk menentang pemerintahan yang dianggap sewenang-wenang.

Di bawah pengaruh gerakan tersebut, para aktivis dan intelektual Uighur memiliki visi untuk menyatukan orang-orang beretnis Turki di Xinjiang.

"Tetapi ini tidak berlangsung lama. Ketika China di bawah kekuasaan Komunis tahun 1949, itu (uighur) diambil alih kembali," ungkap Yon.

Saat itu, orang Uighur mau tidak mau harus menerima menjadi bagian dari China. Penyatuan itu pun otomatis membuat pemerintah China menginginkan orang Uighur mengikuti etnisitas asli China seperti penggunaan bahasa.

"Saya kira hampir semua negara dengan konsep nasionalisme yang dikembangkan pasti akan mengambil etnisitas terbesar sebagai bangsa yang menaungi sehingga yang di bawah menjadi sub," ungkap dia.

Warga Uyghur saat melakukan kegiatan Mashrap Kashgar. (Foto: Dok. Wikimedia)
zoom-in-whitePerbesar
Warga Uyghur saat melakukan kegiatan Mashrap Kashgar. (Foto: Dok. Wikimedia)

Menjadi bagian dari China seutuhnya benar-benar menjadi masalah bagi orang Uighur. Sebab, mereka juga dipaksa untuk berbahasa, bekerja, dan berbudaya layaknya orang mayoritas China.

“Mereka sempat dijanjikan kemerdekaan oleh Partai Komunis China, tapi kemudian yang terjadi adalah otonomi saja. Tapi otonomi saja pun ternyata tidak dianggap otonomi sungguhan oleh komunitas Uighur karena memang masih sangat dikontrol oleh pusat,” terang Dosen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Indonesia Shofwan Al Banna kepada kumparan, Jumat (5/1).

Di sisi lain, pemerintah China yang komunis tidak mentolerir mereka-mereka yang ingin berbeda. Termasuk dengan Muslim Uighur.

"Itu yang kemudian menyebabkan diskriminasi karena dia dipaksa untuk mengikuti identitas nasional mayoritas China," urai Yon Mahmudi.

Melawan, Teroris, atau Berdamai

Merasa didiskriminasi, 11 gerakan perlawanan terhadap China pun muncul di antara Muslim Uighur. Salah satunya, East Turkish Islamic Movement (ETIM). ETIM inilah yang kemudian dianggap menjadi musuh oleh pemerintahan China.

Keberadaan ETIM pertama kali muncul dalam laporan dokumenter pemerintah China pada tahun 2001. Judulnya, 'Aktivitas Terorisme yang Dilakukan oleh Organisasi Turkistan Timur dan Hubungan Mereka dengan Osamah bin Laden dan Thaliban'.

Dalam dokumen itu, China menuding ETIM merupakan komponen utama dari jaringan teroris pimpinan Osamah bin Laden.

"Diduga memiliki batalyon sebesar 320 orang milisi Uighur yang telah berjuang bersama Thaliban di Afghanistan," demikian keterangan dari buku karya Sean Roberts berjudul 'Imaginary Terorism: The Globan War on Teror and the Narrative of the Uyghur Terrorist Threat'.

Masih dalam laporan pemerintah China tersebut, Pemimpin ETIM Hasan Mahsum menemukan suaka politik di Afghanistan yang dikuasai Thaliban setelah meninggalkan Xinjiang pada tahun 1997. Dialah yang kemudian disebut mendirikan kamp pelatihan serta mulai merekrut orang-orang Uighur untuk melakukan 'jihad' di XInjiang.

"ETIM yang diprakarsai Hasan Mahsum ini yang kemudian dianggap pemerintah China bertanggung jawab atas berbagai macam kerusuhan, aksi-aksi kekerasan yang terjadi saat ini," kata Yon.

Dosen Universitas Indonesia, Yon Machmudi (Foto: Nesia Qurrota A'yuni/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Dosen Universitas Indonesia, Yon Machmudi (Foto: Nesia Qurrota A'yuni/kumparan)

Namun pada 2002, Hasan Mahsum yang menyebut organisasinya sebagai East Turkism Islamic Party (ETIP) ini, membantah adanya keterkaitan dengan Al-Qaeda dan Thaliban. Ia juga membantah, menerima bantuan dana dari Osama meskipun beberapa militan Uighur terlibat dengan Thaliban di Afghanistan.

"Mereka juga membantah diri mereka disebut teroris,” mengutip buku berjudul ‘Xinjiang and The Expansion of Chinese Communist Power: Kashgar in The Early 20th Century.

Menurut Yon Mahmudi, bersentuhannya orang Uighur dengan aliran-aliran jihad merupakan dinamika yang wajar di masyarakat yang merasakan tindakan represif. Hal ini yang sedari awal kemudian hingga perkembangan berikutnya memunculkan gerakan-gerakan perlawanan kepada pemerintah.

Namun, tentunya tidak semua Muslim Uighur menunjukkan perlawanan ke pemerintah. Yon mengatakan, yang melawan hanya sebagian kecil dari populasi Uighur di Xinjiang.

"Memang ada beberapa kecil yang mencoba melakukan perlawanan tapi saya kira mayoritas sebenarnya juga mengalami proses kehidupan yang damai, Hanya saja, memang kebijakan pemerintah cenderung generalisasi ya. Jadi yang dilakukan, menganggap Uighur satu entitas," ujar Yon.

Infografik, 1001 Fakta Seputar Xinjiang. (Foto: Anggoro Fajar Purnomo/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Infografik, 1001 Fakta Seputar Xinjiang. (Foto: Anggoro Fajar Purnomo/kumparan)