Cerita Mu’ti saat Tanya Cita-cita Ribuan Siswa: Tak Ada yang Mau Jadi Petani

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Mendikdasmen Abdul Mu'ti dalam Simposium Penyelarasan dan Revitalisasi Vokasi Bidang Ketahanan Pangan di Millennium Hotel Sirih, Jakarta Pusat pada Senin (8/12/2025). Foto: Amira Nada/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Mendikdasmen Abdul Mu'ti dalam Simposium Penyelarasan dan Revitalisasi Vokasi Bidang Ketahanan Pangan di Millennium Hotel Sirih, Jakarta Pusat pada Senin (8/12/2025). Foto: Amira Nada/kumparan

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengungkap rendahnya minat generasi muda terhadap profesi petani. Dalam setiap kunjungan ke desa dan daerah pertanian, Mu’ti selalu menanyakan cita-cita siswa SD dan SMP.

“Ini memang bidang yang tidak banyak diminati. Saya belum pernah menemukan dari mereka yang saya tanya itu bercita-cita menjadi petani,” ujar Mu’ti dalam sambutannya di Simposium Penyelarasan dan Revitalisasi Vokasi Bidang Ketahanan Pangan di Millenium Hotel, Jakarta Pusat, Senin (8/12).

Menurut dia, pilihan pertama anak-anak selalu dokter, disusul polisi dan tentara.

Mu’ti menilai, fenomena ini tidak berdiri sendiri. Pendidikan di sekolah, kata dia, masih menggambarkan pekerjaan ideal sebagai profesi yang berada dalam lingkup standar tertentu.

“Pendidikan kita sering kali masih mengajarkan kepada anak-anak kita, cita-cita yang memaknai pekerjaan itu selalu, dalam tanda petik, di tempat yang bersih, sejuk, dan terlihat modern,” ungkapnya.

Sementara itu, profesi petani jarang sekali muncul dalam imajinasi anak-anak. “Saya kadang perhatikan ketika anak-anak TK memakai baju profesi, itu kan juga tidak ada yang profesinya petani,” ujarnya.

Petani menanam padi di Aceh, Senin (19/5/2025). Foto: Chaideer Mahyuddin/AFP

Mu’ti kemudian meminta guru TK untuk memperbaiki kondisi ini.

“Kalau ada guru TK di sini, tolong lah dikoreksi gitu. Menurut saya, kita memang masih menghadapi tantangan kultural itu sehingga kemudian banyak SMK yang memang tidak membuka jurusan pertanian,” tuturnya.

Ia juga meminta pihak internalnya dan pemerintah daerah untuk membuat rancangan dan memberi afirmasi bagi SMK yang berbasis keunggulan lokal, terutama pertanian.