Cerita Penjual Kopi Keliling di Jakbar Taat Prokes: Pakai Masker dan Jaga Jarak

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Penjual starling, Rudy Wahyu Oktavian. Foto: Dok. Rudy Wahyu Oktavian
zoom-in-whitePerbesar
Penjual starling, Rudy Wahyu Oktavian. Foto: Dok. Rudy Wahyu Oktavian

Pandemi corona mengubah cara interaksi manusia. Bermasker dan jaga jarak menjadi peraturan tak bisa ditawar. Termasuk dalam kegiatan bertransaksi.

Protokol kesehatan (prokes) itu berlaku bagi siapa pun untuk mencegah penularan corona. Termasuk penjual kopi keliling atau biasa disebut starling.

Bagi Rudy Wahyu Oktavian (33) atau yang akrab disapa Okta, menjajakan minuman keliling dengan sepeda sudah ia lakoni sejak 2014. Ia kerap berkeliling di kolong Fly Over Meruya Utara, Kembangan, Jakbar.

Ia mengaku, pandemi membuat pendapatannya seret. Bahkan, omzet hariannya turun hingga 30 persen. Di sisi lain, ia juga harus mengingatkan pembeli untuk selalu taat prokes dalam setiap bertransaksi.

Sepeda milik Rudy Wahyu Oktavian. Foto: Dok. Rudy Wahyu Oktavian

"Tak jarang saya sering meminta pembeli untuk duduk berjarak dengan pembeli lain. Selain untuk prokes juga agar usaha saya tidak ada masalah. Saya selalu membawa hand sanitizer botol, tisu kering, memakai masker," ujar Okta kepada kumparan, Selasa (27/7).

Ia mengatakan masih ada pembeli yang mengabaikan prokes. Seperti masker dilepas sampai dagu atau tidak menjaga jarak. Bahkan, ada pula yang menolak hand sanitizer yang ditawarkan Okta. Karena hal itu, ia hanya bisa mengingatkan kepada pelanggannya.

"PPKM kali ini bisa saya bilang lebih berdampak dari sebelumnya. Kesulitan berjualan di berbagai lokasi, sepinya pembeli dan jarang mereka yang lewat," keluhnya.

Sepeda milik Rudy Wahyu Oktavian. Foto: Dok. Rudy Wahyu Oktavian

Meski begitu, ia tetap mengayuh sepedanya untuk memenuhi kebutuhannya. Bahkan, ia juga membawa anaknya dalam berjualan. Sambil jualan, ia mengawasi anaknya yang tengah sekolah secara daring.

"Pendapatan sangat jauh drop. Dua termos yang saya bawa. Satu termos pun nggak habis. Sejak PSBB bahkan PPKM saat ini pendapatan bisa dibilang minus dari pengeluaran," pungkasnya.

embed from external kumparan