Cerita SBY Dampingi Ani Sebelum Embuskan Napas Terakhir

kumparanNEWSverified-green

comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (kedua kanan) menangis disaksikan Presiden Joko Widodo (kedua kiri) dan Presiden ke-3 RI BJ Habibie (kiri) saat memberikan sambutan ketika kedatangan jenazah almarhum Ani Yudhoyono di Cikeas, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (1/6). Foto: ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay
zoom-in-whitePerbesar
Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (kedua kanan) menangis disaksikan Presiden Joko Widodo (kedua kiri) dan Presiden ke-3 RI BJ Habibie (kiri) saat memberikan sambutan ketika kedatangan jenazah almarhum Ani Yudhoyono di Cikeas, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (1/6). Foto: ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

Presiden keenam Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sempat berbicara di hadapan orang yang datang ke rumahnya untuk melayat. Dia bercerita momen ketika istrinya, Ani Yudhoyono, mengembuskan nafas terakhir.

SBY mengatakan, Ani memang sempat membaik kondisi kesehatannya sebelum masuk ke kondisi kritis hingga akhirnya meninggal dunia. Saat kondisinya membaik, hasil pemeriksaan dokter menyatakan sel kanker di tubuh Ani sudah berkurang drastis.

"Sekitar tiga minggu sebelum ada krisis ini sebetulnya, perkembangannya positif. Bahkan kami punya harapan insyaallah bisa disembuhkan. Dan memang dokter mengatakan sel-sel kanker dalam tubuh menurun secara tajam," kata SBY di rumah duka, Puri Cikeas, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (1/6).

Namun, kondisi kesehatan Ani mendadak berubah. SBY menyebut, ada ledakan jumlah sel kanker secara tajam. Situasi ini membuat kondisi Ani kembali memburuk.

"Itu (sel kanker) meningkat dengan sangat tajam sehingga tim dokter kewalahan, sehingga masuk ICU dengan perlakuan khusus. Saya dua hari dua malam ada di tempat istri tercinta berjuang untuk melawan kanker yang ganas," cerita SBY yang tampak terisak.

Putra Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono, Agus Yudhoyono (kiri) dan Edhie Baskoro Yudhoyono (kanan) mengangkut peti jenazah Ibu Ani Yudhoyono setibanya di rumah duka, Cikeas, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (1/6). Foto: ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

Selama masa kritis itu, SBY mengaku ada dukungan moril yang diterimanya dari orang-orang sekitarnya. Bahkan perawat di rumah sakit memberikan dukungan kepadanya.

"Beberapa perawat dari rumah sakit di Singapura itu mengatakan itu Madam Ani is a strong woman. Ini semestinya sudah kembali ke maha kuasa karena begitu kerasnya hantaman itu. Diserang di berbagai organ tubuh tapi masih tetap bertahan," ucapnya.

"Dia (Ani) orang yang tough (tangguh) dan tidak mau menyerah. Dia bilang sama saya 'saya pasrah tapi tidak menyerah' sampai pada batas yang dia bisa mencapainya," sambung SBY.

Ani Yudhoyono (tengah) saat berada di NUH, Singapura. Foto: Instagram/@aniyudhoyono

Detik-detik saat Ani mengembuskan nafas terakhirnya juga dituturkan SBY. Sebelum meninggal dunia, kata Ketua Umum Partai Demokrat itu, Ani sudah dibius total. Hanya saja, SBY yakin sang istri bisa merasakan keberadaannya dan anak-anaknya.

"Saat itu dibius total sehingga tidak mudah berkomunikasi, tetapi saya melihat di pelupuk matanya ada titik-titik air mata. So she was listening to us. Karena mungkin orang-orang yang disayangi itu masuk dalam hati dan pikiran. 'Memo kami semua ada di sini'. Air mata yang jatuh itu adalah air mata cinta, air mata kasih dan air mata sayang," cerita SBY.

"Wajah ibu Ani terlihat bahagia, rileks dalam keadaan seperti itu. Dan memang beberapa saat kemudian dengan sangat tenang kembali ke hadapan Sang Pencipta. Saya ucapkan, 'Ibu, selamat jalan semoga Memo hidup tenang di sisi Allah'," kata SBY lagi.

Ani Yudhoyono meninggal dunia di National University Hospital Singapura pada hari ini, Sabtu sekitar 11.50 waktu setempat. Sebelum mengembuskan nafas terakhirnya, Ani sempat berjuang melawan penyakit kanker darah sejak Februari 2019.