Cerita UMKM Tahu di Bandung, Omzet Naik 50 Persen karena Suplai Program MBG

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pabrik tahu milik Iwa  Wardani di Cileunyi, Kabupaten Bandung. Foto: Linda Lestari/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Pabrik tahu milik Iwa Wardani di Cileunyi, Kabupaten Bandung. Foto: Linda Lestari/kumparan

Asap putih terlihat mengepul di sebuah rumah, wangi khas kedelai menyeruak memenuhi ruangan. Sehari-hari Iwa Wardani (45) bergelut dengan uap yang dihasilkan dari pembuatan tahu di pabrik miliknya itu.

Pabrik tahu rumahan itu sudah dirintis sejak 2009 silam di kawasan Cileunyi, Kabupaten Bandung.

“Awal 2009 mulai belajar produksi sambil masarin. Sampai sekarang udah lumayan lah,” kata Iwa saat ditemui di pabrik tahunya, Kamis (20/11).

Pada saat awal merintis, produksi tahu yang dihasilkan Iwa sebanyak 50-100 kilogram dalam sehari. Ia membuat dan memasarkannya seorang diri.

“Dari bikin 50-100 kilo sambil masarin sendiri. Karena baru-baru dikit kan, nggak langsung banyak produksinya,” ucap Iwa.

Tahu hasil produksi Iwa Wardani. Foto: Linda Lestari/kumparan

Usaha pabrik tahu itu terus ia jalankan meski sempat mengalami bangkrut di awal-awal merintis. Bahkan dia sempat kehilangan sebagian besar asetnya untuk modal membuka usaha pabrik tahu ini.

Namun kini, hasil produksi tahu yang dihasilkan pabrik bisa mencapai 600 kilogram. Ia juga telah mempekerjakan 20 karyawan lain di pabrik tersebut.

“Sekarang yang kerja ada 20 orang,” ucapnya.

Suplai Dapur MBG, Omzet Naik 50 Persen

Program MBG membawa dampak positif terhadap perekonomian daerah. UMKM, seperti pabrik tahu milik Iwa yang terlibat menjadi pemasok MBG menjadi lebih stabil karena adanya kepastian order secara berkelanjutan.

Dari sisi sosial, keberlangsungan usaha ini ikut menjaga lapangan kerja agar tetap bertahan, terutama bagi masyarakat yang menggantungkan hidup pada sektor pangan dan pengolahan.

Iwa mengungkapkan, pabrik tahunya turut andil dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) sejak awal program unggulan Presiden Prabowo itu berjalan.

Sesuai dengan namanya, Makan Bergizi Gratis, program ini bertujuan untuk mengurangi angka malnutrisi dan stunting, terutama pada kelompok rentan seperti balita hingga anak-anak sekolah dengan memastikan mereka mendapatkan asupan gizi yang cukup.

Tahu merupakan salah satu menu yang cocok untuk program MBG karena kaya akan protein nabati, kalsium, zat besi, dan magnesium, dengan kalori dan lemak yang relatif rendah. Kandungan nutrisi tahu sangat mendukung pertumbuhan dan pemenuhan gizi harian anak secara seimbang.

Tahu di menu MBG bisa diolah menjadi masakan tahu bacem, tahu balado, hingga pepes tahu yang lezat dan bergizi.

Kebutuhan tahu di menu MBG ini, memberikan berkah bagi Iwa. Sejak bergabung menjadi pemasok tahu, omzet pabriknya meningkat 50 persen.

“Ya semenjak ada MBG ini lumayan naik 50 persen, dari yang asalnya produksi 400 kilogram sehari, sekarang jadi 600 kilogram,” ungkap Iwa.

Hal ini sesuai dengan tujuan MBG untuk memperkuat ekosistem suplai lokal. SPPG terbantu karena pasokan dapat dipenuhi oleh produsen di sekitar wilayah, sehingga distribusi lebih efisien dan risiko keterlambatan dapat ditekan.

Iwa mengatakan, saat ini pabriknya telah mendukung hingga 4 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Setiap SPPG, kata Iwa, biasanya meminta dikirimkan tahu sebanyak 3-4 kali dalam sepekan dengan permintaan 2.000-3.000 potong tahu. Setiap potongnya dibanderol dengan harga Rp 500-Rp 700.

“Satu dapur ada yang satu minggu tiga kali gitu, enggak bareng. Menunya mungkin kan beda-beda, jadi ada yang seminggu tiga kali, ada yang dua kali gitu,” ujar Iwa.

Iwa Wardani, pemilik pabrik tahu rumahan di Kabupaten Bandung. Foto: Linda Lestari

“Tiap dapur hitungannya satuan sih, minimal 2.000 sampai 3.000 biji,” kata Iwa melanjutkan.

Produksi Naik, Ekonomi Stabil Berkat MBG

Iwa mengatakan, sejak pabriknya terlibat mendukung MBG, terdapat penambahan jam kerja karena produksi yang meningkat. Sebelumnya jam operasi dimulai pukul 13.00, sekarang para karyawan mulai bekerja pukul 10.00.

“Jam kerja jadi nambah, dari yang asalnya mulai produksi jam 1 siang, sekarang jam 10 pagi udah mulai produksi,” kata Iwa.

Penambahan jam kerja ini juga berdampak positif bagi para karyawan. Penghasilan mereka ikut meningkat setelah pabrik ikut memasok MBG.

“Anak-anak lumayan meningkat penghasilannya,” kata Iwa.

Iwa menyebut, setiap karyawan mendapat honor Rp 150.000 hingga Rp 200.000 dalam sehari.

“Biasanya sehari lumayan lah, bisa Rp 150.000 sampai Rp 200.000, kalau ditotal sebulan bisa di atas UMR,” jelas Iwa.

Pabrik tahu milik Iwa Wardani di Cileunyi, Kabupaten Bandung. Foto: Linda Lestari/kumparan

Program MBG ini memberi kesempatan bagi Iwa untuk terlibat langsung dalam memasok bahan makanan bergizi, memastikan bahwa manfaat ekonomi tidak hanya berhenti pada konsumen akhir, tetapi juga kembali menguatkan para pelaku usaha di daerah sehingga bisa mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif sekaligus memperkuat ketahanan pangan lokal.