Cerita Vania dan Raya Belajar Arti Toleransi

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kegiatan sabang merauke dengan SO ina. (Foto: Maulana Ramadhan/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Kegiatan sabang merauke dengan SO ina. (Foto: Maulana Ramadhan/kumparan)

Bennedicta Vania Tandiono (14) tidak banyak berbeda dari anak-anak seusianya. Pelajar SMP asal Bengkulu ini bergaul layaknya remaja biasa, meski ada hal yang cukup membuatnya penasaran yakni keberagaman Indonesia. Keingintahuannya tentang keberagaman di Indonesia membawanya ke Jakarta untuk bergabung bersama dengan komunitas SabangMerauke (SM). Sebuah komunitas yang memiliki program pertukaran pelajar antardaerah di Indonesia dengan tujuan menanamkan nilai toleransi.

Vania tidak sendiri, di Jakarta ia bertemu dengan rekan-rekan sebayanya yang berlatar belakang berbeda mulai dari suku hingga agama, salah satunya Tarsan Hadirat Hasan Raya Bisan atau akrab dipsapa Raya (15), asal Nusa Tenggara Timur.

"Saya ingin bertemu dengan teman teman yang berbeda, kalau di daerah saya, Bengkulu, ada tapi tidak terlalu beragam, seperti Raya, jarang orang NTT di sana (Bengkulu) jadi saya ingin ketemu temen-temen lain antar daerah," ujar Vania di sela kegiatannya dengan SM, Selasa (1/8/17).

Vania saat kegiatan dengan SOIna. (Foto: Maulana Ramadhan/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Vania saat kegiatan dengan SOIna. (Foto: Maulana Ramadhan/kumparan)

Selama di Jakarta, Vania dan Raya tergabung dalam Adik Sabang Merauke (ASM), sebutan untuk para pelajar yang menjalani kegiatan bersama komunitas SabangMerauke. Mereka tinggal bersama dengan keluarga baru yang tergabung dalam Famili Sabang Merauke (FSM).

Menjalani kehidupan dengan lingkungan yang baru-meski hanya tiga minggu-membuat kedua remaja ini sempat khawatir, terlebih dengan keluarga yang serba berbeda.

"Awalnya takut, karena aku kan jarang tinggal di luar, apalagi berbeda agama juga," tutur Raya yang beragama Islam itu.

Raya tinggal bersama dengan keluarga katolik. Kekhawatirannya hadir salah satunya menu makanan yg ia terima.

"Sempat juga (khawatir), takutnya kan dikasih makanan yang aku tidak boleh makan, tapi ternyata enggak, malah ditanya 'Raka mau makan apa? butuh perlengkapan solat gak?' malah mereka perhatian sama kita," tambah Remaja yang sedang mengenyam pendidikan di pondok pesantren Wali Sanga Ende, NTT ini.

Raya (baju hitam) asal NTT di kegiatan SOIna. (Foto: Maulana Ramadhan/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Raya (baju hitam) asal NTT di kegiatan SOIna. (Foto: Maulana Ramadhan/kumparan)

Sama seperti Raya, Vania juga mengalami hal serupa. Bertemu dengan rekan-rekan dengan latar belakang yang berbeda tentu sempat membuat dirinya khawatir.

"Takut bakal canggung karena kita semua kan beda-beda, bingung nanti mau ngomongnya gimana. Tapi ternyata mereka semua menerima dengan baik, bisa cepat akrab jadinya," ucap Vania yang beragama katolik.

Di Jakarta, Vania tinggal dengan keluarga yang beragama hindu. Menurutnya, FSM tempat ia tinggal memperlakukannya dengan baik.

"Kalau hari minggu, mereka juga nganter aku ke gereja," tambah Vania.

Selama di Jakarta para remaja yang tergabung dalam ASM ini banyak diajarkan apa itu toleransi dalam keberagaman. Para ASM juga akan dibimbing selama berkegiatan di Jakarta oleh mahasiswa yang tergabung dalam Kakak Sabang Merauke (KSM).

Ismi Rahmayanti, salah seorang KSM mengaku tertarik dengan kegiatan SM karena ingin merasakan apa itu sesungguhnya toleransi.

"Berangkat dari isu-isu soal toleransi yang marak belakangan ini buat aku penasaran dan ternyata setelah tergabung di kegiatan SM ini aku membuktikan bahwa perbedaan bukan menjadi hambatan," tutur mahasiswa Institut Ilmu Al Qur'an Jakarta ini.

Kegiatan sabang merauke dengan SO ina. (Foto: Maulana Ramadhan/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Kegiatan sabang merauke dengan SO ina. (Foto: Maulana Ramadhan/kumparan)

Putri Eka Siagian, Manajer Kurikulum Sabang Merauke mengatakan, SM bercita-cita untuk mewujudkan indonesia lebih damai dan toleran dengan membawa tiga nilai utama yakni tentang toleransi, cinta indonesia dan pendidikan.

"Maka dari itu banyak kegiatan kita yang berkunjung ke rumah-rumah ibadah, museum dan tempat bersejarah lain," ujar Putri.

Untuk tahun ini, kegiatan SM berlangsung dari 17 Juli hingga 5 Agustus. Putri menambahkan tema lain yang ingin dibawa adalah membangun rasa empati terhadap teman-teman penyandang disabilitas.

"Kita kerja sama dengan teman-teman dari Special Olimpik Indonesia (SO Ina), buat kegiatan bareng antara ASM dengan teman-teman penyandang disabilitas untuk membangun empati terhdap sesama," tutur Putri.

SO Ina sendiri adalah organisasi di Indonesia yang mendapat akreditasi dari Special Olympics International (SOI) untuk menyelenggarakan pelatihan dan kompetisi olahraga bagi warga Tunagrahita di Indonesia.

Kegiatan sabang merauke dengan SO ina. (Foto: Maulana Ramadhan/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Kegiatan sabang merauke dengan SO ina. (Foto: Maulana Ramadhan/kumparan)

Kegiatan ini berlangsung pada Selasa (1/8) di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Kelapa Nias, Kelapa Gading, Jakarta.

"(Kegiatan ini) Sejalan sekali dengan SO Ina, karena kami juga memiliki program pendukung yang dinamakan Unified Sports, yaitu program yang membawa kebersamaan antara warga tunagrahita dan non-tunagrahita dalam satu tim pertandingan olahraga," kata Tasya, relawan SO Ina.

Tasya menambahkan kegiatan itu untuk membangun rasa toleransi anak anak non disabilitas ke mereka yang memiliki kekurangan atau difabel.

Kegiatan yang dilakukan antara lain senam bersama, lomba kelereng dan melukis bersama dengan tema Indonesia.

Kegiatan sabang merauke dengan SO ina. (Foto: Maulana Ramadhan/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Kegiatan sabang merauke dengan SO ina. (Foto: Maulana Ramadhan/kumparan)

Vania, Raya maupun ASM lainnya tampak akrab dengan rekan-rekan difabel. Mereka membaur tanpa adanya sekat ataupun jarak.

Seharian bersama dengan teman-teman difabel memberikan pelajaran baru bagi mereka.

"Ternyata mereka dengan senang hati menerima kita, mau langsung akrab. Selain itu kekurangan juga tidak jadi penghalang mereka buat berprestasi," ujar Vania.

Setelah hampir 3 minggu menjalani program pertukaran pelajar SM, baik Vania maupun Raya mulai mengerti apa arti toleransi dan keberagaman. Bagi mereka keberagaman adalah identitas Indonesia yang tidak dapat dihilangkan. Toleransi menurutnya harus dialami dan dirasakan, bukan hanya diucapkan di lisan.

"Saya ingin cerita pengalaman saya disini (Sabang Merauke) kepada teman-teman di Bengkulu bahwa kita tidak boleh mengejek orang yang berbeda dengan kita karena kita itu tinggal di Indonesia yang beragam, karena kalau bukan beragam itu bukan Indonesia," tutup Vania.

video youtube embed