Cerita Yunis Sempat Tak Percaya Anaknya Jadi Korban KA di Bekasi: Takut Penipuan

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Yunis, ibu korban penumpang KRL yang tertabeak KA di Bekasi Timur di RSUD Kota Bekasi, Selasa (28/4/2026). Foto: Rayyan/Kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Yunis, ibu korban penumpang KRL yang tertabeak KA di Bekasi Timur di RSUD Kota Bekasi, Selasa (28/4/2026). Foto: Rayyan/Kumparan

Telepon genggam Yunis berdering keras pada Senin (27/4) malam itu. Ada panggilan datang dari anaknya, Laily. Di ujung sambungan telepon, dia mendapat kabar yang membuatnya sempat tidak percaya.

"Waktu kejadian anaknya telepon saya bahwa dia kecelakaan tabrakan kereta gitu sih. Dia bilang 'mama saya kecelakaan ditabrak kereta' tapi saya enggak percaya," kata Yunis saat ditemui di RSUD Bekasi, Selasa (28/4).

Laily menjadi salah satu korban dari kecelakaan KA menabrak KRL di Stasiun Bekasi Timur. Yunis pun meminta anaknya untuk melakukan video call.

"Maunya saya kan 'kamu video call coba', gitu, takutnya penipuan kan. Tapi dia kirim foto. Ya sudah baru saya percaya," ujarnya.

Ngerinya Kecelakaan

Petugas mengevakuasi gerbong KRL Commuterline dan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi pascakecelakaan di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Yunis mengatakan, posisi anaknya selepas kecelakaan terjadi sangat mengerikan. Laily terjepit di antara tiang-tiang dalam gerbong KRL yang ditumpanginya.

"Dia terjepit tiang-tiang di dalam kereta yang nabrak dia masuk ke dalam. Katanya tiang-tiang itu buat mengeluarkan dia (digerinda), kata dia ya saya enggak tahu deh," ungkap Yunis.

Kondisi Laily saat terjepit digambarkan dalam posisi terbalik akibat benturan keras yang terjadi.

"Dia bilang katanya dia kepalanya di bawah, kakinya tuh naik ke atas semua sama tangannya. Jadi dia kayak kebalik. Kan dia duduk nih, mungkin ini terus gitu kan. Jadi evakuasi kan susah, lama. Katanya langsung digerinda terus dia dikeluarkan lewat jendela," jelasnya.

Alami Luka

Tim SAR dan petugas gabungan mengevakuasi korban pascatabrakan maut yang melibatkan kereta komuter (Commuter Line) dan kereta api jarak jauh di Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/04/2026). Foto: Willy Kurniawan/REUTERS

Meski dalam kondisi sadar, Laily mengalami sejumlah luka serius di beberapa bagian tubuh. Yunis menyebut anaknya sempat muntah dan mengeluh pusing hebat akibat benturan.

"Cedera di kepala, cedera di bahu, di perut sama di kaki. Kepala, kepalanya di sini benjol, sempat rambutnya hilang sedikit, ya mungkin kegesrut ya. Terus katanya pusing, dia ada muntah di kereta, jadi keinjak-injak orang," beber Yunis

Harap Pertanggungjawaban

Saat ini, Laily masih menjalani observasi di RSUD Bekasi. Yunis berharap ada pertanggungjawaban dari pihak PT KAI.

"Ya saya sih yang penting anak saya sehat saja gitu, semuanya pengobatan ditanggung ya walaupun memang anaknya punya jaminan kesehatan dari perusahaan tapi kan ini tanggung jawabnya KAI ya," tegasnya.

Yunis juga menyoroti masalah teknis yang menyebabkan kecelakaan ini terjadi hingga melukai anaknya yang tengah menempuh perjalanan pulang rutin setiap hari.

"Artinya mungkin menurut saya sih kejadiannya human error ya, kok bisa sampai sinyal enggak kedeteksi gitu loh. Iya kan harusnya kan begitu ada kereta enggak jalan harusnya terpantau dong di radarnya mereka gitu di Bekasi," pungkasnya.