China Dukung Rusia Terkait Konflik di Ukraina
·waktu baca 2 menit

Menteri Luar Negeri China Wang Yi bertemu dengan Menlu Rusia Sergei Lavrov di Beijing pada Kamis (3/2). Dalam pertemuan itu, mereka membahas beberapa isu internasional termasuk konflik di Ukraina.
Menyikapi konflik di Ukraina, Wang Yi menegaskan komitmen China terhadap Rusia. Mereka mendukung Rusia terkait masalah ini.
"China paham dan mendukung untuk posisi Rusia pada keamanan mengenai hubungan dengan Amerika Serikat dan NATO, " tutur pernyataan Wang Yi dan Lavrov usai pertemuan dikutip dari Reuters, Jumat (4/2).
Namun, belum jelas dukungan apa yang dimaksud oleh Wang Yi. Sebab, AS menduga Rusia dalam waktu dekat akan berperang dengan Ukraina. Sedangkan NATO mendesak Rusia tidak memicu perang dengan Ukraina.
"China dan Rusia mengkoordinasikan posisi mereka di Ukraina selama pertemuan antara menteri luar negeri kedua negara di Beijing pada hari Kamis," tutur Kemlu China.
Selain membahas masalah di Ukraina, mereka juga membahas isu regional yang menjadi perhatian bersama seperti Afghanistan dan situasi di Semenanjung Korea.
Lebih lanjut, disebutkan Presiden Rusia Vladimir Putin turut hadir di Beijing. Putin dijadwalkan akan bertemu dengan Presiden China Xi Jinping Jumat sebelum menghadiri upacara pembukaan Olimpiade Musim Dingin Beijing.
Situasi antara Rusia dan Ukraina semakin memanas. Terbaru, militer Rusia mengumumkan pelaksanaan latihan di dekat Ukraina dan di wilayah Krimea. Krimea adalah wilayah di selatan Ukraina yang diduduki paksa oleh Rusia pada 2014 silam.
Latihan militer tersebut akan melibatkan 6.000 prajurit. Kegiatan yang dilaksanakan meliputi latihan penembakan dengan jet tempur, pesawat pengebom, sistem anti-pesawat, dan melibatkan kapal-kapal Angkatan Laut armada Laut Hitam dan Laut Kaspia.
Menurut informasi negara-negara Barat, jumlah prajurit yang dikerahkan oleh Rusia di perbatasan Ukraina—utara, timur, dan selatan—bisa mencapai 100.000 orang.
Pengerahan pasukan Rusia dalam jumlah yang tinggi ini sudah berlangsung sejak November 2021. Itulah yang menjadi sumber kekhawatiran AS dan Barat akan potensi invasi ke Ukraina oleh Moskow.
Barat terus meminta Rusia untuk melakukan de-eskalasi situasi, salah satunya dengan menarik mundur pasukannya dari dekat perbatasan. Namun hingga saat ini belum ada pengurangan jumlah pasukan Rusia.
