Dari Botol Bekas, Siswa Madrasah Buat Alat Penyiram Tanaman Otomatis

Seorang siswa Madrasah Aliyah (MA) Pembangunan UIN Syarif Hidayatullah, Faiz, berhasil menciptakan alat penyiram tanaman secara otomatis dari limbah botol plastik. Faiz menjelaskan fungsi dari teknologi yang ia namakan Automatic Plant Watering tersebut adalah untuk mendeteksi tanah yang kering dengan sensor kelembaban dan secara otomatis dapat mengeluarkan air.
“Yang saya temukan ini Automatic Plant Watering fungsinya untuk mendeteksi tanah yang kering dengan sensor kelembaban, nanti alat tersebut akan menyiram tanah dan tanaman secara otomatis,” ungkap siswa kelas 10 tersebut, di acara International Islamic Education Expo (IIEE) 2017, di ICE BSD, Serpong, Tangerang Selatan, Kamis (23/11).
Faiz mengatakan tujuan dirinya menggunakan botol bekas sebagai bahan baku adalah untuk mengurangi efek global warming. “Saya memakai botol plastik jadi efek sampah botol plastik bisa dikurangi,” imbuh Faiz.
Lantas dengan antusias, Faiz menceritakan prinsip kerja dari alat temuannya tersebut. Berdasarkan penjelasannya, prinsip kerja dari Automatic Plant Watering bergantung pada sensor kelembaban.

“Ketika tanah kering sensor kelembaban akan men-trigger (memicu) IC pix ace, lalu akan memberikan sinyal ke servo untuk menurunkan selang air dan mengeluarkan air ke tanah. Kemudian kalau tanah sudah basah, sensor akan mendeteksi dan men-trigger menaikkan selang sehingga air berhenti,” jelas siswa yang pernah mendapatkan juara 3 kontes robotik di Korea Selatan tersebut.
Kendati demikian, Faiz mengatakan penemuannya tersebut masih membutuhkan pengembangan. Kedepan, dirinya akan bekerjasama dengan para alumni sekolahnya dalam mengembangkan sumber tenaga ramah lingkungan dari kulit durian untuk menggerakkan penemuannya tersebut.
“Saya akan kerjasama dengan lulusan sekolah untuk sumber daya listrik dari kulit durian kita bisa kolaborasi untuk energi alat yang saya temukan,” ungkap Faiz.
Selain itu, Faiz juga meminta dukungan dari pihak pemerintah untuk membantu dirinya dan peneliti muda Indonesia lainnya untuk memperhatikan hasil temuan mereka. Alhasil banyak penemu muda Indonesia yang malah bekerja di luar negeri karena tak mendapatkan perhatian dari pemerintah Indonesia.
“Meminta kepada pemerintah untuk memperhatikan kita. Para peneliti banyak yang malah kerja di luar negeri karena tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah, mereka digaji besar di luar negeri. Membuat saya miris,” cerita siswa yang bercita-cita menjadi seorang pengembang teknologi buatan Indonesia tersebut.
Meskipun demikian, Faiz akan tetap berusaha membuat Indonesia bangga dengan terus membuat berbagai penemuan dan mengikuti berbagai perlombaan di tingkat nasional maupun internasional. “Agar dapat menggemparkan dunia dan Pemerintah Indonesia, bahwa Indonesia punya generasi yang cemerlang,” pungkas Faiz.
Sebagai informasi, acara IIEE 2017 diadakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama selama empat hari mulai tanggal 21-24 November 2017 di ICE BSD, Serpong, Tangerang Selatan.
Dalam acara ini terdapat sejumlah rangkaian kegiatan mulai dari seminar islam internasional atau Anual Islamic Conference International Studies (AICIS) yang dihadiri oleh pembicara dari dalam negeri dan luar negeri, pameran pendidikan Islam, perlombaan robotik tingkat madrasah, Apresiasi Pendidikan Islam (API), Anugrah Guru Madrasah Berpestasi (Gupres), dan berbagai kegiatan hiburan dari para peserta pameran.
