Deepfake Sri Mulyani ‘Guru Beban Negara’ Jadi Salah Satu Pemicu Demo
2 September 2025 8:00 WIB
·
waktu baca 8 menit
Deepfake Sri Mulyani ‘Guru Beban Negara’ Jadi Salah Satu Pemicu Demo
Kemarahan publik tak lepas dari viralnya video hoaks Sri Mulyani soal ‘Guru Beban Negara’. Deepfake memiliki pengaruh yang besar terhadap gerakan kemarahan demonstrasi masyarakat.kumparanNEWS


ADVERTISEMENT
Rumah Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang berlokasi di Bintaro, Tangerang Selatan, dijarah massa pada Minggu (31/8) dini hari. Aksi penjarahan itu disebut berlangsung dalam dua gelombang, setelah sebelumnya massa sudah berdatangan sejak Sabtu (30/8) malam.
ADVERTISEMENT
Aksi penjarahan tak lepas dari rangkaian demo menolak tunjangan DPR hingga protes terhadap kematian Affan yang dilindas rantis brimob. Meski demikian, massa yang menjarah Sri Mulyani merupakan massa yang tak dikenal.
Dari kesaksian warga sekitar, massa pertama kali tiba sekitar pukul 23.00 WIB. Mereka berbondong-bondong merusak dan mengambil barang-barang di kediaman Sri Mulyani. Usai kelompok itu bubar, massa berikutnya datang kembali pada Minggu (31/8) sekitar pukul 03.00 WIB dengan jumlah lebih besar. Situasi semakin kacau hingga banyak barang milik Menteri Keuangan tersebut digondol.
Beberapa barang yang ada di rumah Sri Mulyani diambil, mulai dari barang-barang elektronik, seperti televisi, sound system. Selain itu, ada juga kasur, baju, sepatu, piring, mangkok hingga lukisan.
ADVERTISEMENT
Menanggapi peristiwa itu, Sri Mulyani pun menyampaikan pesan melalui unggahan di akun Instagram @smindrawati pada Senin (1/9). Ia menyatakan apresiasinya kepada semua pihak yang telah memberi dukungan moral di tengah musibah yang menimpanya.
“Terima kasih atas simpati, doa, kata-kata bijak, dan dukungan moral semua pihak dalam menghadapi musibah ini,” tulisnya.
Sri Mulyani menegaskan bahwa perjuangan membangun bangsa tidaklah mudah. Ia menekankan bahwa politik seharusnya dijalankan dengan nilai luhur, bukan dengan tindakan anarki.
Lantas, apa yang membuat massa marah hingga menjarah rumah Menkeu Sri Mulyani?
Buntut dari Guru Beban Negara
Menurut Ketua Presidium Masyarakat Antifitnah Indonesia (MAFINDO), Septiaji Eko Nugroho, kemarahan publik tak lepas dari viralnya video hoaks Sri Mulyani soal ‘Guru Beban Negara’. Kata Septiaji, deepfake yang tersebar memiliki pengaruh yang besar terhadap gerakan kemarahan demonstrasi masyarakat yang tengah terjadi. Deepfake merupakan teknologi AI untuk menciptakan video palsu yang meyakinkan.
ADVERTISEMENT
“Kalau dalam kasus Bu Sri Mulyani ini kayaknya sangat unik ya, karena sangat masif sekali yang percaya dengan ucapan itu, karena deepfake-nya sangat meyakinkan gitu ya. Nah, ini mungkin beda ya, kalau kayak kasusnya Uya Kuya itu sebenarnya deepfake-nya gak terlalu meyakinkan, tapi ya karena terseret post-truth ya, bias confirmation. Jadi, mungkin banyak masyarakat yang kemudian menganggap bahwa ini beneran si aktor-aktor ini,” jelas Septiaji kepada kumparan, Senin (1/9).
Pada Minggu (17/8) lalu, video yang menampilkan statement “guru itu beban negara” dari Sri Mulyani memang sempat menggemparkan jagat maya. Beredarnya video tersebut dengan mudah memancing amarah masyarakat, lantaran penyataan itu muncul di tengah isu tunjangan naik hingga besarnya gaji DPR jika dibandingkan dengan gaji rerata UMR masyarakat Indonesia. Masyarakat menganggap justru yang menjadi beban negara bukanlah guru, tetapi DPR.
ADVERTISEMENT
Misalnya, dalam video TikTok di bawah ini, seorang pelajar menyampaikan alasan seorang yang melatarbelakangi dirinya untuk ikut berdemonstrasi. Ia menyebut bahwa permasalahan muncul saat guru disebut sebagai beban negara.
Menurut catatan Septiaji, video berisi klaim Sri Mulyani yang menyebut “guru itu beban negara” pertama kali muncul di akun instagram @ewinkleeming. Sampai dengan Selasa (19/8), unggahan tersebut telah ditonton 57 ribu kali, disukai 810 kali dan telah dibagikan ulang sebanyak 391 kali. Video ini pun disebut-sebut berhasil menjadi “bahan bakar” masyarakat untuk meluapkan amarahnya lewat demonstrasi hingga saat ini. Namun, saat ini unggahan @ewinkleeming itu sudah sudah hilang.
Meski dari sumber aslinya sudah hilang, video tersebut terus tersebar di berbagai media sosial seperti TikTok, Instagram hingga X. Bahkan, di TikTok, banyak masyarakat yang bereaksi terhadap pernyataan “guru itu beban negara” dengan memperlihatkan video-video yang menunjukkan perjuangan para guru selama ini.
ADVERTISEMENT
Hoaks yang Dipercaya Secara Masif
Ternyata setelah ditelusuri, potongan video Sri Mulyani diambil saat acara forum Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) di Institut Teknologi Bandung, Jawa Barat, pada Kamis (7/8/2025) lalu. Di situ Sri Mulyani memang membahas persoalan guru dan dosen yang tak memiliki gaji besar. Namun, tak ada satu pun diksi yang menyebut bahwa guru itu beban negara.
Berikut adalah potongan dari Sri Mulyani yang membahas persoalan dosen dan guru:
Banyak di media sosial saya selalu mengatakan, oh menjadi dosen atau menjadi guru tidak dihargai karena gajinya enggak besar. Ini juga salah satu tantangan bagi keuangan negara. Apakah semuanya harus keuangan negara atau ada partisipasi dari masyarakat.
ADVERTISEMENT
Untuk tahun ini Rp750 triliun. Alokasi anggaran ini dipakai untuk memperkuat ekosistem dari seluruh pendidikan. Namun Indonesia adalah negara besar, kalau kita bicara pendidikan kita bisa bicara dari mulai madrasah, pendidikan sekolah negeri, swasta. Atau kita bicara tentang guru dari mulai guru honorer sampai dengan profesor atau orang-orang pinter yang ada di ruangan seperti ini, peneliti. Dan perguruan tinggi yang juga begitu sangat diverse. Saya ingat sih beberapa bulan yang lalu ada demo guru tidak dapat tukin, dosen tidak dapat tukin.
Tapi saya yakin bukan dosen yang duduk disini. Tapi kita tahu bahwa intelektualitas dan kepandean maupun kemampuan untuk meraih prestasi itu bukan masalah asas sama rata sama rasa. Begitu jadi dosen kemudian punya hak privilege untuk mendapatkan tunjangan. Dosen juga harus diukur kinerjanya. Kelas terkedua adalah untuk guru dan dosen. Dan itu belanjanya dari mulai gaji sampai dengan tunjangan kinerja tadi. Banyak di media sosial saya selalu mengatakan oh menjadi dosen atau menjadi guru tidak dihargai karena gajinya tidak besar. Ini juga salah satu tantangan bagi keuangan negara. Apakah semuanya harus keuangan negara atau ada partisipasi dari masyarakat.
ADVERTISEMENT
Berdasarkan tim pemeriksa fakta MAFINDO, video Sri Mulyani yang menyebut guru itu beban negara dengan latar saat berpidato di acara Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) di Institut Teknologi Bandung itu ternyata konten rekayasa AI. Konten Sri Mulyani yang menyebut guru itu beban negara terbukti hasil manipulasi dari Google AI yang terbukti melalui Google SynthID Detector.
Menurut Septiaji, bahaya berita hoaks yang tersebar di tengah kekisruhan demonstrasi masyarakat. Menurutnya, hoaks bisa membuat “api” atau amarah masyarakat terbakar lebih besar.
“Apinya sudah ada, tapi karena ditambahin, digunyur dengan bensin berupa hoax itu ya, jadi terbakarnya jadi lebih luas. Ya, contohnya ini kan, video-video pembakaran di sebuah tempat. Itu juga bisa “mempromosikan” orang untuk kemudian, “oh ini sudah kebakaran di mana-mana gitu ya. Jadi mereka kayak semacam, ayo dong kita melakukan sesuatu, ayo kita bikin rusuh di tempat kita juga,” ucap Septiaji.
ADVERTISEMENT
Ajakan-ajakan di media sosial yang mengarah pada kabar-kabar palsu juga dikhawatirkan Septiaji bisa menjadi provokasi bagi masyarakat untuk melakukan tindakan-tindakan seperti membakar hingga menjarah yang seakan-akan dinormalisasi dan bisa saja melebar ke tempat-tempat lain.
“Ditambah yang sangat berbahaya sebenarnya, yang paling berbahaya, kalau yang saya lihat justru ini nih, provokasi-provokasi sebagai undangan demonstrasi yang legitimate. Ada seruan untuk turun ke dalam. Ada juga yang menumpang di situ, tapi dia sudah menyisipkan ajakan untuk provokasi, ajakan untuk membakar, ajakan untuk menjarah gitu. Nah, itu yang bahaya sekali, karena yang kita khawatirkan yang semacam ini dinormalisasi,” jelas Septiaji.
“Jadi kayak kemarin penjarahan terjadi di rumah-rumah yang sudah ada gitu ya. Jadi yang kita khawatirkan nanti terjadi normalisasi, kemudian nanti akan terjadi di tempat-tempat lain. Nah, itu kan bagian dari hoax juga sebenarnya,” ungkapnya.
ADVERTISEMENT
Konten Deepfake Audio Memang Sulit Dikenali
Co-Founder Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO), Eko Juniarto pernah kumparan wawancarai soal cara membedakan konten audio dan visual yang asli dengan deepfake. Namun, kata dia, konten audio atau suara lebih sulit dikenali kebenarannya ketimbang konten visual.
“Jadi gini, respons orang terhadap suara itu jauh-jauh lebih cepat ketimbang otak memproses visual. Otak memproses suara itu jauh lebih cepat karena lebih ringan pemprosesannya ketimbang orang memproses visual itu bedanya sekitar 0,4 milisekon,” tutur Eko saat dihubungi kumparan pada Kamis (13/02).
Menurutnya, dibutuhkan telinga yang memang sudah peka terhadap suara untuk dapat membedakan sebuah konten audio itu asli atau tidak.
“Jadi kalau orangnya sudah terbiasa berkecimpung di dunia special effect atau dubbing suara dia akan lebih cenderung, lebih gampang mengenali itu suara buatan AI atau enggak,” kata dia.
ADVERTISEMENT
Bila berbicara konten visual, kata Eko, konten video dengan latar belakang yang polos akan lebih susah dideteksi deepfake atau bukan. Tetapi, jika latar belakangnya memiliki pola tersendiri, akan lebih mudah dideteksi mengikuti pergerakan kepala atau badan orangnya.
“Misalnya satu foto politisi dia sedang berdiri background-nya mungkin pagar atau apa kalau background-nya polos itu lebih susah dideteksi tapi kalau background-nya itu ada polanya, pas kepalanya bergerak background-nya juga ikut bergerak,” jelas Eko.
Dari fitur tubuh juga dapat dikenali apakah sebuah konten deepfake atau bukan. Untuk video deepfake, menurut Eko, kecerdasan buatan/ Artificial Intelligence (AI) masih sulit menirukan gerakan lidah dan gigi yang natural seperti manusia. Jika tokoh dalam video itu laki-laki, kata Eko, dapat diperhatikan pergerakan jakunnya. Video buatan AI biasanya menunjukkan pergerakan jakun yang tidak natural dan salah.
ADVERTISEMENT
-----
PESAN REDAKSI:
Demonstrasi merupakan hak warga negara dalam berdemokrasi. Untuk kepentingan bersama, sebaiknya demonstrasi dilakukan secara damai tanpa aksi penjarahan dan perusakan fasilitas publik.
