Dekan FK Unpad Akui 17 Kelemahan Sistem PPDS: Kita Perbaiki Semua

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Dekan FK Unpad Prof. Dr. Yudi Mulyana Hidayat saat menjawab pertanyaan wartawan di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Kamis (24/7/2025). Foto: Alya Zahra/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Dekan FK Unpad Prof. Dr. Yudi Mulyana Hidayat saat menjawab pertanyaan wartawan di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Kamis (24/7/2025). Foto: Alya Zahra/kumparan

Dekan Fakultas Kedokteran (FK) Unpad Prof. Dr. Yudi Mulyana Hidayat mengakui ada 17 kelemahan sistem Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesi.

Kelemahan-kelemahan tersebut dievaluasi menyeluruh setelah adanya kasus pemerkosaan oleh peserta PPDS Anestesi Unpad dr. Priguna Anugerah Pratama terhadap dua pasien dan satu keluarga pasien dengan cara dibius.

"Akibat adanya peristiwa dulu yang tidak mengenakkan (kasus Priguna), sehingga ada beberapa kelemahan-kelemahan sistem di RSHS, di FK, dua-duanya ada kesalahan," ujar Yudi di RSHS, Kamis (24/7).

"Di situ, kemarin sudah diidentifikasi. Contoh, FK mempunyai kesalahan, harus memperbaiki sekitar 17 item; RSHS sekian item, kita perbaiki," kata Yudi.

Menurut Yudi, pihaknya menyatakan telah memperbaiki kelemahan-kelemahan itu. "Kalau kita tidak memperbaiki, takut terulang kembali. Kalau terulang kan sangat memalukan," ujarnya.

"Dan itu bukan sistem sebetulnya, ya memang ada kelemahan sistem, itu kan ada individu yang melakukan kesalahan, tapi individu ini kenapa melakukan kesalahan, itu harus kita evaluasikan," kata Yudi.

Priguna Anugerah Pratama dokter PPDS di RSHS Bandung tersangka pemerkosaan anak perempuan pasien, dihadirkan saat konferensi pers di Polda Jawa Barat, Rabu (9/4/2025). Foto: Robby Bouceu/kumparan

Dari hasil evaluasi bersama, Yudi mengatakan, FK Unpad akan memperketat proses penerimaan peserta PPDS baru. Salah satunya, memastikan kesehatan mental para peserta didik dalam kondisi sehat. Mengingat beban dokter spesialis cukup banyak.

“Jelas dari hasil evaluasi itu ternyata memang ada beberapa kelemahan. Contohnya saya bicara atas kelemahan di fakultas. Di fakultas mungkin sistem rekrutmen. Jadi mungkin harus ada pengetatan karena dokter spesialis itu kan bebannya cukup berat,” tuturnya.

Ada Tes Kesehatan Mental Libatkan Psikiater

Yudi menjelaskan, pengecekan kesehatan mental ini akan melibatkan psikolog dan psikiater guna mendeteksi kelainan mental atau seksual yang dialami calon peserta didik.

“Ya saya tidak tahu persis variabel apa yang di dalam ujian (kesehatan) itu. Tapi yang jelas kita harus bisa mendeteksi orang mempunyai kelainan jiwa yang terselubung. Contohlah yang disebut bipolar,” ungkapnya.

“Sifat bipolar itu pinter, tapi deviasi seksual, bipolar, muncul. Kayak perempuan punya bipolar, tuh dia biasa mengganggu siapa pun. Suami yang punya istri pun bisa diganggu. Itu masalah seks,” lanjutnya.

kumparan post embed

Peserta Tak Lolos Cek Mental Langsung Gugur

Apabila selama tes kesehatan mental ditemukan kelainan, peserta tersebut akan gugur secara langsung. Yudi mengatakan, hal ini dilakukan untuk menciptakan layanan kesehatan yang bermutu.

“Ya harus ditolak. Karena bukan masalah apa-apa. Nanti masyarakat yang harus kita pikirkan. Jangan sampai dilayani oleh orang-orang yang sebetulnya tidak kompeten di bidang kita,” imbuhnya.

Sekilas Kasus Priguna

Tampang Dokter PPDS pemerkosa keluarga pasien di RSHS berbaju tahanan. Foto: Dok. Istimewa

Dokter Priguna terdaftar sejak mahasiswa PPDS Program Anestesi Unpad pada 2023.

Penyelidikan polisi menunjukkan dia memperkosa dua pasien dan seorang anak dari pasien yang sedang kritis. Kejahatan ini dilakukan Priguna pada Maret 2025

Priguna menggunakan obat bius milik rumah sakit untuk membius korban dengan membohongi para korban terlebih dulu.

Polisi menyebut, Priguna memiliki kelainan seksual yaitu senang melihat orang tak berdaya.

collection embed figure