Demokrat: Jokowi Tak Mau Disalahkan Jika Koalisi Gagal Itu Upaya Cuci Tangan
·waktu baca 2 menit

Deputi Bappilu DPP Partai Demokrat Kamhar Lakumani menganggap pernyataan Presiden Jokowi yang ingin ada pihak yang menyalahkan Istana jika terdapat koalisi dan capres yang gagal menjelang 2024 sebagai upaya cuci tangan. Kamhar menduga pernyataan Jokowi sebagai upaya prakondisi suatu operasi politik yang akan dilakukan.
"Berdasarkan rekam jejak yang sudah-sudah, maka pernyataan ini patut diduga sebagai prakondisi untuk suatu ‘operasi politik’ penggagalan koalisi yang nantinya ini akan dijadikan sebagai justifikasi. Pernyataan ini terbaca sebagai upaya cuci tangan," kata Kamhar kepada wartawan, Kamis (22/12).
Ia menyebut pernyataan Jokowi menunjukkan kegalauan karena selama ini terlalu jauh ikut campur masalah Pilpres 2024. Kamhar mengatakan publik masih teringat dengan arahan Jokowi yang meminta relawan tak tergesa-gesa memilih capres dan memberikan endorsement kepada tokoh tertentu.
"Pernyataan Pak Jokowi perihal kekhawatiran jika ada koalisi gagal maka istana yang disalahkan, ini menunjukkan kegalauan Pak Jokowi yang selama ini terlalu jauh ikut campur pada proses politik yang berjalan menuju Pilpres 2024," tuturnya.
"Publik masih mengingat pernyataan ‘ojo kesusu’ dan mengendorse beberapa nama sebagai capres menunjukkan Pak Jokowi memiliki intensi tertentu," imbuh Kamhar.
Kamhar menambahkan, sebaiknya Jokowi fokus menuntaskan tugasnya di masa kepemimpinan yang tersisa dan menegaskan komitmennya mensukseskan pemilu pada 2024.
Menurut Kamhar, sebaiknya Jokowi memberikan tanggapan terkait pernyataan pimpinan MPR dan DPD yang terus menggaungkan penundaan pemilu.
"Pada kesempatan tersebut jauh lebih relevan jika memberikan tanggapan atas pernyataan Ketua MPR RI dan Ketua DPD RI yang membuat pernyataan penundaan pemilu," ucap dia.
"Ini bisa menjadi kesempatan klarifikasi atas dugaan bahwa Istana berada dibalik pernyataan tersebut. Inilah yang berbahaya bagi demokrasi dan reformasi," tandas Kamhar.
