Demokrat: Pemerintah Tak Punya Empati, Malah Sibuk Bersolek di Tengah Pandemi

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sekretaris BAPPILU DPP Partai Demokrat Kamhar Lakumani.
 Foto: Dok. Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sekretaris BAPPILU DPP Partai Demokrat Kamhar Lakumani. Foto: Dok. Pribadi

Pengecatan ulang pesawat kepresidenan serta Heli Super Puma Kepresidenan RI terus menuai kritikan. Deputi Bappilu DPP Partai Demokrat Kamhar Lakumani mengatakan kritik bukan hanya terkait warna cat yang berubah menjadi merah putih.

Namun, banyak pihak menyesalkan pemerintah Jokowi yang tidak sensitif terhadap kondisi pandemi corona yang belum usai.

"Kritiknya jauh lebih substantif di mana situasi objektif bangsa kita sedang prihatin akibat terpaan badai pandemi COVID-19 yang tak berkesudahan, malah terus melonjak di satu sisi dan keterbatasan anggaran di sisi lainnya. Namun, pemerintah malah lebih memperhatikan dandanan atau sibuk bersolek," kata Kamhar, Rabu (4/8).

kumparan post embed

"Sungguh tak punya sensitivitas dan empati dalam menilai situasi dan tak punya kebijaksanaan dalam mengalokasikan anggaran," sambungnya.

Menurut Kamhar, pemerintah buta mata dan hati melihat kondisi saat ini. Terlebih, kata dia, jika pengecatan pesawat kepresidenan sudah direncanakan sejak 2019 semakin menunjukkan ketidakpekaan pemerintah terhadap situasi krisis.

"Buta mata dan buta hati. Apalagi jika argumentasinya bahwa perubahan warna ini telah direncanakan sejak jauh-jauh hari, sejak 2019. Semakin menunjukkan kebodohan dan ketidakpekaan untuk memahami bahwa negara kita tengah mengalami krisis," ucapnya.

Presiden Joko Widodo dan rombongan tiba di Pangkalan TNI AU Sultan Hasanuddin untuk kemudian berganti pesawat untuk menuju Tana Toraja. Foto: Laily Rachev/Biro Pers Sekretariat Presiden

Padahal, kata dia, dalam menghadapi situasi krisis, seharusnya manajemen dan pengelolaan pemerintahan harus disesuaikan dan mengkonsolidasikan sumber daya keuangan dalam mengatasi krisis kesehatan dan krisis ekonomi.

"Namun yang dipertontonkan sungguh berbeda, malah mengalokasikan anggaran untuk pengecatan pesawat yang sama sekali tak ada pentingnya, malah tak berhubungan sama sekali dengan upaya mengatasi krisis kesehatan dan krisis ekonomi," kata dia.

Selain itu, Kamhar berpandangan alasan pesawat dicat dilakukan bersamaan dengan service tak masuk akal.

"Miris, ini narasi nirnalar yang tak mampu menentukan skala prioritas. Mana yang sifatnya penting, mendesak, penting dan mendesak, dan mana yang bisa ditunda, atau dibatalkan. Ini ciri-ciri orang yang gagal fokus," pungkas Kamhar.