Derita Patung Tokoh Rasialisme, dari Columbus Hingga Pendiri Batavia

Kematian George Floyd tak hanya membangkitkan kemarahan komunitas kulit hitam, melainkan juga telah menjadi simbol perlawanan terhadap rasialisme.
Tak hanya protes kepada pemerintah dan kepolisian, massa demonstrasi di sejumlah negara juga kini menyasar kepada patung-patung tokoh sejarah. Beberapa patung dari tokoh terkenal dihancurkan karena dianggap melambangkan rasialisme, kolonialisme, dan perbudakan.
Diberitakan Associated Press, Sebelum ramai protes tentang kematian Floyd, sejumlah patung di Eropa juga telah memunculkan perdebatan menyusul sejarah kelamnya.
Lantas, patung apa saja yang selama ini menimbulkan kontroversi?
Britania Raya
Dampak kematian Floyd memang telah memberikan dampak begitu luas. Pemerintahan di London dan kota-kota Inggris lainnya bahkan akan meninjau ulang seluruh patung, nama jalan, dan monumen lain.
Mereka akan mendalami kembali apakah terdapat unsur yang bertentangan dengan prinsip masyarakat Inggris atau tidak:
- Edward Colston
Ketika massa melakukan protes di Bristol, patung Edward Colston menjadi sasaran kemarahan. Colston dianggap mendukung rasialisme karena statusnya sebagai pedagang budak pada abad ke-17. Dia menjual 80 ribu budak Afrika ke sejumlah negara, sebelum menggunakan penghasilannya untuk amal.
Tak hanya dibuatkan patung, nama Colston juga juga dipakai sebagai nama jalan dan bangunan di Bristol, yang merupakan pelabuhan untuk penjualan budak terbesar di Inggris. Pada pekan lalu, massa merobohkan dan membuang patung Colston ke laut.
- Cecil Rhodes
Rhodes menjabat sebagai Perdana Menteri Cape Colony di selatan Afrika. Dia menghasilkan uang dengan menambang emas dan berlian, dengan kondisi para penambang yang memprihatinkan.
Patungnya kemudian dipindahkan dari University of Cape Town di Afrika Selatan pada 2015 setelah seorang murid memulai kampanye ‘Rhodes Harus Tumbang’. Gerakan serupa juga menuntut dipindahkannya patung Rhodes dari Oxford’s Oriel College, Inggris.
- Henry Dundas
Politikus Skotlandia ini bertanggung jawab atas diundurnya penghapusan budak di Britania Raya selama 15 tahun hingga 1807. Selama masa itu, lebih dari setengah juta budak dari Afrika dijual ke penjuru Atlantis.
Atas dasar sejarah itu, patung Dundas diminta dipindahkan dari atap St. Andrew Square, Skotlandia. Tuntutan lain berupa penghapusan nama Dundas Street yang berada di Ibu Kota Kanada, Toronto.
- Robert Milligan
Pekan ini, pemerintah di London memindahkan patung Milligan, seorang pengusaha gula di Jamaika yang memiliki lebih dari 500 budak.
- Robert Baden-Powell
Bapak Pramuka dunia ini dianggap memiliki pandangan rasialisme sekaligus sebagai pendukung Adolf Hitler. Patungnya yang terletak di Poole, Inggris, pun terancam dirobohkan oleh massa.
Mendengar hal itu, pemerintah setempat langsung memindahkan patung Baden-Powell ke tepian kota sembari mencari jalan keluar terkait lokasi baru.
Prancis
Sejumlah patung di Prancis tak lepas menjadi sasaran dari aksi massa. Polisi pun kini ditempatkan untuk menjaga monumen bersejarah yang berhubungan dengan perbudakan dan masa kolonial. Setidaknya terdapat tiga patung yang menjadi sasaran kemarahan pendemo.
- Jean-Baptiste Colbert
Pekan lalu, polisi memblokade pendemo di Paris yang hendak mendekati patung Colbert di depan Gedung Parlemen. Politikus abad ke-17 itu yang menjadi menteri di bawah pemerintahan King Louis XIV, menyusun draft ‘Black Code’ yang berisi regulasi perbudakan di Prancis.
- Joseph Gallieni
Polisi di Paris juga menjaga patung dari komandan militer Prancis ini. Gallieni dikenal memiliki metode brutal dalam melawan pemberontak dari penduduk lokal di koloni Prancis.
Pada akhir abad ke-19 dari Gubernur Madagaskar, Gallieni menghapuskan monarki di wilayah tersebut yang telah berlangsung selama 350 tahun.
- Victor Schoelcher
Sebelum kematian George Floyd, pendemo di Kepulauan Martinique bahkan telah merusak dua patung dari politikus abad ke-19 pada 22 Mei silam. Schoelcher sejatinya menulis penghapusan budak di koloni Prancis pada 1848.
Namun, pendemo mengkritik pandangan kolonialismenya serta menilai banyak tokoh lokal yang lebih layak untuk dihormati. Presiden Prancis Emmanuel Macron menolak penghapusan patung tersebut karena menilai Schoelcher telah berjasa untuk Prancis setelah menghapuskan perbudakan.
Spanyol
- Christopher Columbus
Nama Columbus begitu harum di Spanyol hingga dibuatkan patung di Barcelona. Sementara, di Madrid, patung Columbus berdiri gagah di tengah-tengah kota.
Namun, cerita berbeda terjadi di Amerika Serikat. Pada Rabu (10/6) lalu, kepala patung Columbus yang terletak di Boston dipenggal oleh massa protes kematian George Floyd. Columbus dianggap sebagai pemicu genosida terhadap penduduk pribumi di Amerika, termasuk suku Indian.
- Jenderal Francisco Franco
Kepemimpinan diktator Franco yang memimpin Spanyol selama 35 tahun ini masih menjadi pro-kontra di Spanyol. Tahun lalu, Perdana Menteri Pedro Sanchez berhasil memindahkan jasad Franco dari makam di Madrid setelah dikubur selama empat dekade. Jasadnya kemudian dipindahkan ke gereja keluarga di pemakaman umum yang lebih kecil.
Italia
- Indro Montanelli
Patung Montanelli diminta dipindahkan dari Milan seiring menggemanya aksi protes terkait kematian George Floyd pada pekan lalu. Montanelli merupakan seorang jurnalis dan sejarawan yang banyak menginspirasi para wartawan di Negeri Pizza itu.
Namun, Montanelli dianggap memiliki sejarah kelam pada akhir 1960-an setelah menikahi perempuan Ethiopia berusia 12 tahun selama penjajahan Italia di sana. Dia berdalih hal itu merupakan kebudayaan setempat.
Belgia
- Raja Leopold II
Terinspirasi dari protes yang dilancarkan menyusul kematian George Floyd, warga Belgia meminta patung Raja Leopold II dihilangkan.
Sekitar 30 ribu orang menandatangani petisi secara online terkait penghapusan patung Raja Leopold II. Banyak pemuda Belgia mengaku malu dengan Leopold II yang masih terus dihormati hingga kini. Padahal dia dan tentaranya telah membantai jutaan warga Kongo pada 1885-1908.
Belanda
- Jan Pieterszoon Coen
Keberadaan patung dari pedagang dan kolonialis di Hoorn ini menjadi perdebatan selama bertahun-tahun. Coen mendapat pujian di negaranya usai membangun Batavia -sekarang Jakarta- semasa penjajahan Belanda di Indonesia pada abad ke-17. Akan tetapi, dia juga dikenal sebagai tukang jagal Banda setelah memerintahkan pembantaian di Pulau Banda, Maluku.
Pada 2012 lalu, Museum Westfries membuka jajak pendapat kepada pengunjung terkait keberadaan patung Coen. Hasilnya, 3.500 responden menginginkan patung itu tetap bertahan.
(Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona)
***
Yuk! bantu donasi atasi dampak corona.
