Derita Pengungsi Palestina di Rafah: Tenda Terendam Banjir Akibat Hujan

Jalur Gaza yang sedang digempur Israel diguyur hujan musim dingin hingga menyebabkan banjir, pada Rabu (13/12). Situasi menambah penderitaan warga Palestina yang terusir dari tempat tinggal mereka dan terpaksa mengungsi di tenda-tenda seadanya.
Beberapa pekan terakhir, Israel telah mengintensifkan gempuran di penjuru Jalur Gaza — termasuk di selatan, hingga mendorong warga Palestina semakin mendekat ke perbatasan dengan Mesir, Rafah.
Di kamp pengungsian Rafah yang terdiri dari tenda-tenda padat, lumpur, dan dipenuhi sampah — ribuan pengungsi Palestina berusaha bangkit di tengah bencana kemanusiaan ini.
Mereka mencari segala upaya dengan peralatan seadanya, membawa ember-ember berisi pasir untuk menutupi genangan air di dalam atau di luar tenda mereka, lalu menggantungkan pakaian mereka yang basah kuyup.
Dikutip dari Reuters, tidak semua pengungsi memiliki tenda layak untuk dihuni — yang disediakan oleh UNRWA. Beberapa keluarga terpaksa bertahan dengan terpal atau plastik tembus pandang untuk menutupi kepala mereka, tetapi tidak ada alas. Sehingga mereka pun menghabiskan malam dengan meringkuk di atas pasir basah.
"Tenda itu robek dan air mengguyur kami. Kami basah kuyup," kata seorang pria paruh baya yang sedang berusaha memperbaiki tenda keluarganya, Ramadan Mohadad.
Kaus yang dikenakan Mohadad terlihat kotor akibat lumpur dan basah kuyup. "Kami berusaha sebisa mungkin untuk melindungi diri agar air tidak masuk, tetapi air tetap saja masuk. Plastik ini tidak melindungi orang yang tidur di bawahnya," jelas dia.
Beberapa keluarga dengan tenda robek terlihat mengakalinya dengan memasang batu bata. Salah seorang pengungsi di Rafah, Yasmin Mhani, bercerita ketika dia terbangun di malam hari, anak bungsunya yang masih berusia 7 bulan basah kuyup. Sebuah kondisi yang dapat membawa penyakit ke kaum-kaum rentan.
Keluarga Mhani yang terdiri dari lima orang berbagi satu selimut, usai rumah mereka hancur dibombardir Israel. Mereka bahkan kehilangan salah satu dari anak-anak mereka, serta semua harta bendanya.
"Rumah kami hancur, anak kami menjadi martir dan saya tetap menghadapi semuanya. Ini adalah tempat kelima yang harus kami tempati, mengungsi dari satu tempat ke tempat lain, dengan hanya mengenakan kaos," ujar Mhani, sembari menggantung pakaian basah di luar tenda.
