Tak Peduli Tekanan Internasional, Netanyahu: Tak Ada yang Bisa Hentikan Kami

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
8
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Warga Palestina memeriksa kehancuran setelah pemboman Israel di Rafah, di Jalur Gaza selatan pada Selasa (12/12/2023). Foto: Said Khatib/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Warga Palestina memeriksa kehancuran setelah pemboman Israel di Rafah, di Jalur Gaza selatan pada Selasa (12/12/2023). Foto: Said Khatib/AFP

Israel tetap akan melanjutkan serangan di Jalur Gaza dengan atau tanpa dukungan internasional. Pasukan penjajah pun menyatakan tidak ada yang bisa menghentikan mereka mencapai kemenangan dalam misi menghancurkan Hamas.

Komentar itu muncul di saat sekutu dekat Israel, Amerika Serikat. Negeri Paman Sam mengancam Israel telah kehilangan dukungan di seluruh dunia atas kebrutalannya di Gaza.

Dikutip dari The New Arab News, penegasan atas posisi Israel itu disampaikan oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu ketika mengunjungi fasilitas detensi di selatan Israel, pada Rabu (13/12).

Menurut laporan The Times of Israel, di fasilitas detensi tersebut tahanan Hamas yang terlibat dalam serangan 7 Oktober telah ditahan dan sedang diinterogasi oleh intelijen Israeli Defense Forces (IDF).

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Foto: Maya Alleruzzo / POOL / AFP

"Kami akan melanjutkannya sampai akhir. Tidak ada keraguan sama sekali. Sampai kemenangan, sampai kehancuran Hamas — bahkan di bawah tekanan internasional," ujar Netanyahu dalam pernyataan video yang dirilis kantornya.

Tidak ada yang akan menghentikan kami," tambahnya.

Dalam kesempatan terpisah, Menteri Luar Negeri Israel Eli Cohen pun menyatakan posisi serupa. Saat bertemu dengan Wakil Menteri Luar Negeri Australia Tim Watts di Yerusalem Barat, Cohen menyebut gencatan senjata di Jalur Gaza hanya akan menjadikannya 'hadiah' untuk Hamas.

Sehubungan dengan itu, sambung Cohen, gencatan senjata juga akan memungkinkan Hamas untuk kembali 'mengancam penduduk Israel'.

Adapun komentar tegas dari Netanyahu dan Cohen muncul, sehari setelah Presiden AS Joe Biden memperingatkan Israel mereka telah kehilangan dukungan internasional atas agresinya di Jalur Gaza.

Menteri Luar Negeri Israel Eli Cohen. Foto: Gergely Besenyei / AFP

Biden bahkan menyerukan agar pemerintahan Israel yang saat ini pertama kalinya dipimpin oleh sosok sayap kanan garis keras, perlu diganti. "Ini adalah pemerintahan yang paling konservatif dalam sejarah Israel," ujar Biden pada Selasa (12/12).

Sebab, kata Biden, pemerintahan Netanyahu tidak memandang solusi dua negara (two-state solution) adalah jalan keluar terbaik dari krisis dengan Palestina. Israel justru ingin merampas seluruh tanah milik Palestina, yang diklaimnya telah ditujukan Tuhan untuk orang-orang Yahudi.

Dunia internasional telah menekan Israel dan Amerika Serikat, serta lembaga internasional seperti PBB untuk segera mengakhiri agresi di Jalur Gaza. Menurut Kementerian Kesehatan di Jalur Gaza, sejak 7 Oktober lalu sejumlah 18.608 orang Palestina telah tewas dan 50.594 lainnya luka-luka.

kumparan post embed