Desa di Polman Puluhan Tahun Tak Ada Jembatan: Ibu Hamil Terpaksa Meniti Sungai
·waktu baca 2 menit

Masyarakat Desa Piring Tapiko, Kecamatan Tutar, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat, hidup tanpa akses jembatan. Untuk mendapatkan layanan kesehatan, sekolah, dan pasar, mereka harus meniti sungai.
Ini berlangsung sejak puluhan tahun, sepanjang Indonesia berdiri.
Desa Piriang berjarak sekitar 50 kilometer dari pusat kota. Sungai yang dikenal masyarakat dengan sebutan sungai Mapi tersebut berada di perbatasan Desa Tubbi dan Piriang Tapiko.
Masyarakat yang hendak ke Piriang dari Tubbi atau dari arah pusat kota harus meniti sungai selebar puluhan meter tersebut.
Begitu sebaliknya: Sebagian warga Piriang Tapiko harus melintasi sungai Mapi bila hendak ke Tubbi, terutama untuk keperluan pelayanan kesehatan dan kebutuhan dapur sebab Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) dan pasar kecamatan hanya tersedia di Desa Tubbi.
Tak jarang, bila hujan dan sungai meluap, warga Piriang terjebak di Tubbi hingga berhari-hari. Begitu juga warga yang punya keperluan ke Tubbi atau ke pusat kabupaten otomatis terputus.
Kebutuhan makanan sehari-hari, seperti lauk-pauk (ikan) dan sayur-mayur, juga tak akan tersedia selama sungai meluap. Pemotor yang biasa gandeng-gandeng ikan tak bisa mengantar jualan karena kendaraannya tak bisa melintas.
“Sering sekali kami terpaksa bermalam (menginap) di Tubbi karena terjebak sungai,” kata Salmia, warga Dusun Landu, Desa Piriang Tapiko, Rabu (05/6).
Ibu Hamil Meniti Sungai
Selain mendengar keresahan warga mengenai ketiadaan jembatan tersebut, kumparan juga menyaksikan langsung bagaimana masyarakat harus turun dari sepeda motornya lalu meniti sungai dengan berjalan kaki, termasuk seorang ibu yang lagi hamil besar.
Ibu hamil tersebut berjalan di tengah sungai dengan menenteng setengah baju terusan yang ia kenakan. Helm masih di kepala, dan tangan diselempangkan di atas bahu menyerupai posisi memanggul.
Ibu hamil itu akan menuju salah satu dusun di Piriang Tapiko.
Sungai Mapi adalah akses utama masyarakat Desa Piriang Tapiko dan dua desa lainnya. Anak sekolah setiap hari bertarung melewati sungai tersebut. Sekolahan SD, SMP, dan SMA, hanya ada di Tubbi. Siswa di desa Piriang harus melalui sungai untuk masuk kelas.
Sungai Mapi bisa dilalui kendaraan, tapi hanya bila air tidak meluap. Pada masa-masa basah itu Desa Piriang Tapiko selalu dibayangi dengan ancaman terisolasi. Mereka kesulitan mengakses apa pun, khususnya layanan kesehatan dan sekolah.
Salmia sudah puluhan tahun lalu mendengar janji pemerintah untuk membangun jembatan. Pernah pula ada petugas yang datang mengukur dan cek lokasi. Tapi hingga kini, kepala daerah sudah berganti berkali-kali, jembatan tak kunjung terbangun.
“Kalau bisa, jembatan gantung mo (saja) dulu,” imbuh Salmia.
