Di Perusahaan Jepang Ini Pegawai Bebas Tentukan Jam Kerja Sendiri

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Papua New Guinea Seafood di Osaka (Foto: Facebook/@pngebi)
zoom-in-whitePerbesar
Papua New Guinea Seafood di Osaka (Foto: Facebook/@pngebi)

Di tengah padatnya jam kerja dan budaya kerja keras yang dianut para pegawai Jepang, ada angin segar berembus dari Osaka. Di kota ini, ada sebuah perusahaan yang punya peraturan yang unik: membebaskan karyawan menentukan sendiri jam kerjanya.

Dikutip dari media Jepang SoraNews24, peraturan ini telah diterapkan selama lima tahun di pabrik pemrosesan udang Papua New Guinea Seafood di Osaka. Di pabrik ini, karyawannya kebanyakan paruh waktu dan mereka bebas menentukan mau masuk dan pulang jam berapa.

Bahkan, para pekerja di pabrik ini bebas menentukan liburnya sendiri. Libur selama seminggu pun tidak apa, terserah. Selain itu, para pekerja bebas memilih jenis pekerjaan yang mereka sukai per harinya, entah itu mengupas kulit udang, menimbang, memasak, mengemas, atau memilah udang.

facebook embed

Namun demikian, pekerja wajib jujur mengisi keterangan lama jam kerja mereka di papan tulis yang diawasi oleh seorang pekerja tetap. Nantinya, jam lama bekerja ini yang akan menentukan berapa upah yang akan mereka terima. Ada tiga pekerja tetap dan 16 pekerja paruh waktu di pabrik kecil ini.

Cara kerja ini kedengaran aneh. Pasalnya, bisa saja para pekerjanya malas-malasan dan tidak masuk kerja. Seenaknya masuk dan pulang, lalu membuat pekerjaan terbengkalai. Juga ada risiko para pekerja tidak masuk dalam waktu bersamaan.

Tapi ternyata tidak. Dalam lima tahun terakhir, hanya dua hari ketika para pekerja libur bersama, kantor kosong, sisanya mereka masuk setiap hari. Sistem kerja ini juga tidak mempengaruhi pendapatan perusahaan.

Menurut laporan Nikkei pada Juni lalu, laba pabrik Papua New Guinea Seafood tetap stabil dalam empat tahun terakhir, yaitu sekitar 100 juta yen (Rp 13 miliar) per tahun, namun ongkos pekerja berhasil ditekan hingga 30 persen.

Papua New Guinea Seafood di Osaka (Foto: Facebook/@pngebi)
zoom-in-whitePerbesar
Papua New Guinea Seafood di Osaka (Foto: Facebook/@pngebi)

Dengan sistem ini, kualitas hidup pekerjanya juga meningkat. Pasalnya mereka bisa menentukan sendiri kapan jam paling nyaman untuk bekerja dan pulang. Terlebih lagi, kebanyakan pekerja di pabrik ini adalah ibu rumah tangga yang juga mengurusi anak dan suami.

Salah satu pekerjanya adalah Kumie Nakamura yang masuk kerja sekitar pukul 08.00 dan ingin pulang sebelum jam 14.30. "Saya ingin sampai rumah jam 14.30, sebelum dua putri saya pulang sekolah, tapi hari ini saya mau ke salon dulu," kata wanita 49 tahun itu, dikutip Nikkei.

Manajer pabrik tersebut, Hokuto Muto, mengaku menerapkan sistem kerja tersebut usai gempa dan tsunami besar pada 2011. Sistem ini, kata dia, diberlakukan untuk membuat pekerja tidak merasa terbebani dengan pekerjaannya sehingga melakukan tugasnya dengan baik.