Di Tengah Asap Karhutla, Bayi di Samarinda Meninggal Dunia usai Sesak Napas

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Keluarga menggendong jenazah seorang bayi yang meninggal setelah mengalami sesak napas dan sempat menjalani perawatan intensif di Jalan Diponegoro, Kelurahan Bukuan, Kecamatan Palaran, Samarinda, Kamis(15/10/2026). Foto: kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Keluarga menggendong jenazah seorang bayi yang meninggal setelah mengalami sesak napas dan sempat menjalani perawatan intensif di Jalan Diponegoro, Kelurahan Bukuan, Kecamatan Palaran, Samarinda, Kamis(15/10/2026). Foto: kumparan

Seorang bayi berusia 1 tahun 2 bulan di Kota Samarinda, Kalimantan Timur, meninggal dunia setelah mengalami sesak napas dan sempat menjalani perawatan intensif di ruang Intensive Care Unit (ICU) rumah sakit.

Kondisi bayi itu terjadi di tengah kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti lingkungan tempat tinggal mereka di Jalan Diponegoro, Kelurahan Bukuan, Kecamatan Palaran, Samarinda.

Berdasarkan keterangan keluarga, bayi tersebut awalnya mengalami sesak napas hingga harus dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis pada Rabu (14/10). Kondisinya kemudian memburuk dan mengharuskannya menjalani perawatan di ruang ICU.

Namun, nyawa bayi tersebut tidak tertolong. Bayi itu dinyatakan meninggal dunia pada hari berikutnya, Kamis (15/10).

Kakek korban, Sarno, menyebut saat kejadian, kabut asap menyelimuti lingkungan tempat tinggal keluarga. Kondisi tersebut membuat keluarga khawatir terhadap kesehatan cucunya yang masih bayi.

“Waktu itu cucu saya mengalami sesak napas. Di sekitar rumah memang ada kabut asap yang menyelimuti lingkungan. Kami khawatir kondisi asap itu berdampak pada pernapasannya,” ujar kakek korban.

Ia menuturkan, cucunya kemudian dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Meski sempat dirawat secara intensif di ICU, kondisi bayi tersebut tidak membaik.

“Cucu saya kemudian dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan, bahkan sempat masuk ICU. Namun, keesokan harinya, cucu saya meninggal dunia,” katanya.

Kabut asap karhutla menyelimuti wilayah Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Foto: Dok. Istimewa

Kepergian bayi tersebut meninggalkan duka mendalam bagi keluarga. Suasana haru terlihat saat kedua orang tua mengantarkan jenazah anak mereka ke pemakaman.

Keluarga berharap kondisi asap di Samarinda segera membaik agar masyarakat, terutama bayi dan anak-anak, tidak terus terpapar udara yang berpotensi mengganggu kesehatan.

“Kami sangat terpukul dengan kejadian ini. Kami berharap kondisi asap segera membaik karena bayi dan anak-anak sangat rentan. Jangan sampai ada keluarga lain yang mengalami kejadian seperti yang kami alami,” ujar kakek korban.

Kakek korban berharap kondisi asap di Samarinda segera membaik agar kejadian serupa tidak dialami keluarga lain.

"Jangan lah bakar lahan lagi dan saya harapkan kita semu bisa saling menjaga" harapnya.

Adapun apakah bayi tersebut sesak napas karena asap karhutla atau bukan masih perlu konfirmasi medis.