Diingatkan Risiko Memperlonggar Lockdown, Presiden Brasil Malah Ancam Keluar WHO

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden Brasil Jair Bolsonaro menyapa pendukungnya selama aksi protes di Brasilia, Brasil. Foto: REUTERS / Adriano Machado
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Brasil Jair Bolsonaro menyapa pendukungnya selama aksi protes di Brasilia, Brasil. Foto: REUTERS / Adriano Machado

Presiden Brasil Jair Bolsonaro mengancam negaranya akan keluar dari WHO, setelah organisasi kesehatan dunia itu memperingatkan negara-negara di Amerika Latin tentang risiko memperlonggar lockdown jika penularan virus corona belum juga melambat.

Dilansir Reuters, Sabtu (6/6), Bolsonaro mengatakan, Brasil akan mempertimbangkan untuk meninggalkan WHO kecuali jika organisasi tersebut tidak lagi menjadi "organisasi politik partisan".

Entah apa maksud Bolsonaro menyebut WHO sebagai organisasi politik partisan. Namun belakangan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump --sekutu ideologis Bolsonaro-- menuding WHO sebagai boneka milik China.

Aksi demonstrasi di Brasilia, Brasil, yang diikuti Presiden Jair Bolsonaro Foto: Reuters/Ueslei Marcelino

Rekor terbaru, kasus kematian akibat pandemi virus corona di Brasil melesat jauh, bahkan untuk kasus kematian di tingkat daerah semacam kabupaten melebihi kasus kematian di negara Italia. Brasil pun saat ini menduduki negara kedua terdampak virus corona setelah AS.

Kondisi ini lantas tak menurunkan niat Bolsonaro untuk menghentikan lockdown dan pembatasan secara nasional, demi alasan biaya ekonomi lebih penting daripada risiko kesehatan rakyatnya.

Upaya Bolsonaro ini pun kini didukung beberapa politisi yang sebelumnya mendukung lockdown secara ketat pada Maret dan April. Kini mereka mendorong untuk membuka kembali perekonomian karena tingkat kelaparan dan kemiskinan di Brasil juga meningkat.

Petugas menggunakan pakaian pelindung mengubur peti jenazah pasien yang terinfeksi virus corona di pemakaman Vila Formosa, Sao Paulo, Brasil. Foto: REUTERS / Amanda Perobelli

Sementara itu, negara-negara terpadat di Amerika Latin, seperti Meksiko menunjukkan tingkat infeksi cukup tinggi. Infeksi virus corona juga semakin meningkat di Peru, Kolombia, Chili dan Bolivia.

Secara keseluruhan, lebih dari 1,1 juta orang Amerika Latin telah terinfeksi. Sementara sebagian besar pemimpin di Amerika Latin langsung merespons cepat penanganan kondisi ini lebih serius daripada Bolsonaro.

Dalam tajuk rencana dalam halaman depan surat kabar harian Brasil, Folha de S.Paulo, menyoroti kondisi 100 hari sejak Bolsonaro menyepelekan virus corona sebagai flu kecil dan sekarang "membunuh satu orang warga Brasil per menit".

"Ketika Anda membaca ini, seorang Brasil lainnya meninggal karena virus corona," tulis surat kabar itu.

Seniman mural Brasil Eduardo Kobra bekerja pada karya mural terbarunya di kawasan Itu, 100 kilometer dari Kota Sao Pauolo, Brasil. Foto: AFP/NELSON ALMEIDA

Kementerian Kesehatan Brazil melaporkan pada Kamis (4/6) malam bahwa kasus virus saat ini mencapai lebih dari 600 ribu dan penambahan kasus kematian per hari mencapai 1.437 kasus. Sementara pada Jumat (5/6), kasus kematian di Brasil bertambah 1.005 per hari.

Secara total kasus kematian akibat COVID-19 di Brasil mencapai lebih dari 35 ribu jiwa. Angka yang lebih besar setelah kasus kematian di AS dan Inggris.

WHO telah memperingatkan negara-negara yang menunjukkan peningkatan kasus virus corona setelah memperlonggar lockdown bahwa pandemi ini belum berakhir. WHO menyatakan, lockdown bisa diperlonggar setelah transmisi atau penularan melambat.

"Epidemi, wabah, di Amerika Latin sangat memprihatinkan. Salah satu ideal (untuk memperlonggar lockdown) memiliki penurunan transmisi," ungkap juru bicara WHO, Margaret Harris.

Presiden Brasil Jair Bolsonaro menyapa pendukungnya selama aksi protes di Brasilia, Brasil. Foto: REUTERS / Adriano Machado

Sebelumnya Presiden AS Donald Trump memutuskan mengakhiri hubungan kerja sama negaranya dengan WHO dalam penanganan virus corona pada Mei lalu. Trump bahkan kini menyebut WHO sudah menjadi boneka China.

Trump menilai, WHO telah gagal melakukan reformasi organisasi yang dimintanya. Pada 18 Mei lalu, Trump bersurat kepada Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus untuk melakukan perubahan organisasi paling lambat 30 hari.

kumparan post embed

Simak panduan lengkap corona di Pusat Informasi Corona

————-----------------------

Yuk! bantu donasi atasi dampak corona.