Dikepung Api: Kisah Pemadam Bara Hutan Riau
Breathe through the fear, and walk through the fire.
Keringat bercucuran di wajah sebelas lelaki. Mereka berada di tengah belantara sawit. Sejauh mata memandang, deretan kelapa sawit membentang. Entah di mana tepinya.
Ya, sawit--tanaman industri penting penghasil minyak dan bahan bakar, yang mendatangkan keuntungan besar sehingga banyak hutan dan lahan dialihfungsikan menjadi perkebunan kelapa sawit. Tak heran Indonesia menjadi penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia.
Di hamparan sawit itulah, para lelaki tersebut telah menghabiskan waktu 12 jam. Tubuh mereka tak hanya bersimbah keringat, tapi juga cipratan air sungai--sedalam 6 meter yang hati-hati mereka seberangi--dan air dari pipa semprot.
“Sungai” yang membelah lahan itu sesungguhnya kanal yang berfungsi sebagai sumber pengairan raksasa untuk kebun sawit seluas satu kecamatan itu.
Jangan bayangkan ada jembatan melintang di atas kanal sedalam 6 meter itu. Untuk menyeberanginya, sebatang pohon direbahkan merintang dari satu sisi kanal ke sisi yang lain. Pada pokok kayu itulah 11 lelaki meniti dengan teliti sembari membawa beragam alat.
Antoni, satu di antara mereka yang berperan sebagai koordinator lapangan, membentuk simpul tali untuk menyeberangkan mesin pompa GXH seberat 4 kilogram. Sementara rekan-rekannya menenteng alat sambil memijakkan kaki di titian kayu.
Sudah tentu mereka harus menyeberang satu per satu, karena batang pohon itu hanya dapat dilewati satu orang silih berganti. Sekali-dua kali ada yang terpeleset dan satu kakinya masuk ke air, namun dengan cepat berhasil kembali berdiri tegak menjaga keseimbangan.
Dua lelaki terakhir yang menyeberangi kanal ialah Novemly Ariansyah dan Said Ahmadi. Mereka melemparkan selang ke seberang, barulah meniti kayu dengan tangan kosong.
Mereka berada di perkebunan sawit yang berlokasi di Desa Talang Jerinjing, Kecamatan Rengat Barat, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau.
Lahan di tempat itu dilanda kebakaran Januari 2017, dan hingga kini daerah itu masih menjadi salah satu titik panas (hotspot) di Riau.
Sampai di medan yang dituju, pompa dinyalakan. Kesebelas lelaki berbagi peran--menyiram, memegang selang, mengomandoi.
Novemly dan Said berada di ujung selang, dengan lihai mengarahkannya ke titik target. Air menyembur deras.
Demikianlah hakikat profesi mereka: pemadam kebakaran hutan--penghuni belantara api.
Lelaki-lelaki itu adalah anggota Satuan Tugas Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Satgas Karhutla) Kantor Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Indragiri Hulu.
Menuju ke titik panas, mereka berdesakan di pikap putih. Selain seragam oranye yang melekat di tubuh, mereka mengenakan sepatu lapangan, masker, dan kacamata plastik.
Dari kantor di Rengat Berat, para petugas pemadam api hutan itu menempuh 14 kilometer menuju Desa Talang Jerinjing. Beberapa di antara mereka terlibat dalam penanganan kebakaran lahan pada 2015.
Sesampai di Talang Jerinjing, polisi, tentara, dan anggota Manggala Agni--petugas pengendali kebakaran hutan di bawah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, bergabung dengan para lelaki oranye.
Inilah Satgas Karhutla pimpinan Komandan Komando Resor Militer (Danrem) Wira Bima Pekanbaru dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Riau.
“(Titik api) biasanya tak bisa dicapai dengan berkendara. Kami lebih sering berjalan kaki,” kata Antoni saat memandu tim kumparan menuju hotspot, Senin (21/8).
Medan berat adalah tantangan pertama sebelum para lelaki pemberani itu bertaruh nyawa berhadapan dengan kobaran api.
“Medan kadang susah dilalui. Untuk menyeberang kanal saja pakai kayu sebagai titian. Lalu melangsir alat-alat mesin ini harus dilakukan estafet. Dan kalau lokasi kebakaran tak bisa ditempuh dengan kendaraan, barang-barang itu dipikul, dibawa lewat jalan setapak. Sekali pikul paling berat bisa 20 kilogram,” kata Said.
Sembari menelusuri jalan setapak, para “lelaki api” harus mencari sumber air. Sebab air mutlak harus ada untuk ditaruh di pompa. Mau padamkan api pakai apa jika air tak ada?
Setelah sumber air ditemukan, apakah itu mata air atau sungai, peralatan pemadam disiapkan. Karet selang dibentangkan dari sumber air hingga titik terdepan kebakaran.
Kendala muncul jika kebakaran terjadi di musim kemarau, sebab sumber air menyusut.
Tantangan kedua, tentu saja, kobaran api.
“Bayangkan kalau api besar. Panas cuaca ditambah panas api. Muka membiru, badan lemas,” kata Novemly .
Said menimpali, “Kalau kobaran api sangat besar, asap semakin kuat mengepul pula, karena angin tak menentu perputarannya.”
Dalam kondisi semacam itu, mereka hanya kuat 15-20 menit bertarung melawan api.
“Kalau sudah pegal dan tak kuat, kami bergantian memadamkan api,” ujar Said.
Ia berkata, sekuat-kuatnya fisik mereka, tetap ada atasnya. Tubuh manusia tak dirancang menghadapi kepungan api terus-menerus. Hampir muskil bertahan di antara suhu tinggi dan pekat asap di sekeliling.
“Kami sering berpindah-pindah karena tidak tahan dengan asapnya. Biarpun pakai pengaman atau masker, asap menjangkau dan saluran napas,” keluh Said.
Mustahil melawan kental asap dan kobar api besar sekaligus. Dan Said pernah hampir tewas gara-gara keduanya.
“Tahun lalu di lahan gambut desa ini, tiba-tiba kobaran api sangat besar. Asap sudah mengepul ke arah kami. Kami terus menyiram titik api supaya bisa jalan keluar dari terkaman api,” kenangnya.
Kebakaran lahan gambut memang butuh upaya ekstra keras dan waktu lebih lama untuk dipadamkan. Sebab api tak hanya ada di permukaan tanah, melainkan menjalar 2-3 meter ke dalam tanah.
Belum lagi, gambut sendiri bisa bikin celaka dan menjerat petugas. “Kalau jalan di gambut, salah pijak, kami bisa terperosok ke dalam. Kawan-kawan sering begitu.”
Pengalaman Said dan timnya terjebak api di lahan gambut jadi pelajaran penting.
“Sejak itu, ketika api membesar, posisi kami selalu berada di belakang embusan angin supaya tidak membahayakan.”
Betapa mengerikan pertaruhan hidup mereka. Risiko tubuh terbakar bukan hanya karena salah posisi berdiri saat angin berembus, tapi juga karena terjebak gambut.
Salah langkah sungguh berbahaya karena api bisa sewaktu-waktu datang menyergap.
Menangani kebakaran lahan gambut artinya selang air belum bisa digulung meski senja datang menjemput malam.
“Api yang mati baru yang di atas tanah. Di bawah tanah, masih berkobar. Jadi kami harus memadamkan lagi keesokan harinya,” kata Novemly .
Artinya: menginap di sekitar lokasi kebakaran lahan.
Tenda pun didirikan dan mereka bermalam di belantara api. Semua demi memadamkan api yang tak bisa mati dalam hitungan jam.
Dalam kondisi demikian, malam bukan lagi menjadi waktu beristirahat. Fisik tetap disetel dalam kondisi siaga bertugas, dengan seragam yang belum tentu pula berganti.
Meski begitu, naungan malam membuat mereka sedikit mengendorkan tugas pemadaman api. Mereka berjaga dan baru bergegas jika api terlihat mulai merembet.
Bermalam di hutan yang berkobar jelas tak bisa membawa tenang. Menurut Novemly , pemadaman di malam hari lebih menyeramkan dibanding siang.
“Kalau malam, hewan-hewan liar keluar karena takut api. Kami mana tahu posisi mereka. Kami memadamkan api di depat, tiba-tiba dia di belakang kami,” ujar Novemly.
Dalam gelap malam, ia dan rekan-rekannya kerap berjumpa binatang buas seperti harimau dan ular berbisa.
Alhasil, alih-alih hendak mengendorkan pekerjaan, tenaga tim yang menginap di lokasi kobaran api hampir pasti terkuras habis. Api saja sudah sulit dihadapi, masih ditambah lagi dengan hewan liar.
Bayangan beristirahat sejenak langsung terbang lenyap. Satu-satunya cara menjaga tubuh tak kolaps di malam hari ialah mempersiapkan bekal dengan baik agar asupan gizi untuk energi setidaknya terjaga.
Tapi, makan dengan nyaman hanya sekadar angan yang tertiup api.
“Kadang kami lagi istirahat, minum kopi atau makan. Tak tahunya api hidup lagi. Ya kami bergegaslah mempersiapkan peralatan seperti mesin, selang, dan sebagainya untuk memadamkan api tersebut,” kata Novemly .
Jam kerja standar pada situasi seperti itu tak dapat diterapkan. Dan hal tersebut tak jadi soal besar bagi Novemly dan kawan-kawannya.
“Namanya kerja memadamkan api, sedangkan api itu bisa merembet ke tempat-tempat lain. Berbahaya buat masyarakat,” imbuhnya.
Pantang pulang sebelum padam.
Ini membuat Satgas Karhutla baru pulang setelah tak ada lagi bara api.
Pertentangan batin tentu ada. Pada kebakaran hutan besar tahun 2015 misalnya, mereka jarang bisa pulang bertemu keluarga.
Sebagai petugas pemadam yang punya kewajiban memadamkan api, para anggota Satgas Karhutla tak ingin keluarga mereka mengirup asap akibat kebakaran hutan.
“Biarpun saya pergi pagi pulang malam, atau pergi malam pulang pagi, tak masalah. Yang penting saya bisa memadamkan api supaya tidak terjadi hal-hal buruk,” kata Novemly .
Cerita terus bergulir selama proses pemadaman. Membuat kami yang mendengarnya geleng-geleng kepala dan menghela napas.
Beberapa lama setelah berjibaku menyemprotkan air ke titik panas, terdengar komando untuk beristirahat.
“Waktu pendinginan,” teriak Antoni sang koordinator lapangan.
Mereka semua, satu per satu, lantas menyeberang ke titik aman untuk beristirahat. Duduk santai di rerumputan sambil membuka kaleng susu kedelai dan kaleng makanan bertuliskan “BNPB” yang dibawa sebagai bekal.
Canda tawa pecah di udara, menjadi mantra pengusir lelah setelah beradu dengan api.
