Disindir Hakim MK soal Banjir Sumatera, Kepala BNPB Minta Maaf: Saya Menyesal
5 Desember 2025 11:31 WIB
·
waktu baca 4 menit
Disindir Hakim MK soal Banjir Sumatera, Kepala BNPB Minta Maaf: Saya Menyesal
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto meminta maaf kepada seluruh masyarakat soal sebut banjir Sumatera hanya ramai di medsos.kumparanNEWS

ADVERTISEMENT
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat Indonesia. Permohonan maaf ini terkait pernyataannya viral soal 'banjir Sumatera hanya ramai di media sosial'.
ADVERTISEMENT
Suharyanto mengatakan, dirinya menyesal. Ia pun menjelaskan pernyataannya yang menyebut banjir Sumatera hanya ramai di medsos harus dilihat secara utuh.
"Saya menyesal dan meminta maaf, pernyataan saya secara lengkap sebetulnya tadinya hanya berkaitan dengan kondisi Tapanuli Utara yang saat saya datang sejak hari pertama bencana di lapangan untuk Tarutung, Silangit dan sekitarnya tidak separah Tapanuli Tengah dan Sibolga, untuk menenangkan masyarakat di sana, tapi redaksinya keliru, saya siap salah," kata Suharyanto kepada wartawan, Jumat (5/12).
BNPB Kerahkan Kekuatan Penuh Sejak Hari Pertama
Eks Pangdam V/Brawijaya ini menegaskan, penjelasannya bukan untuk membela diri. Dari lubuk hati paling dalam, ia memastikan tidak pernah ada niatan meremehkan bencana yang terjadi di Sumatera.
"Saya tidak membela diri tapi demi Allah tidak sedikitpun di hati, pikiran dan tindakan saya yang meremehkan bencana ini, sejak awal saya tidak keluar dari 3 provinsi ini, dan mengerahkan kekuatan penuh BNPB baik personel, materiil dan segala sumber daya yang dimiliki," ucap Suharyanto.
ADVERTISEMENT
Suharyanto mengatakan, sejak hari pertama bencana terjadi di Sumatera, dirinya langsung mengerahkan kekuatan penuh. Ia pun menyadari kesalahan pernyataannya dan akan memperbaiki ke depannya agar tidak terulang.
"Saya bekerja saja di lapangan sekuat tenaga agar jangan blunder lagi untuk pemberitaan ke media saya minta Kapusdatin dan beberapa unsur pengarah BNPB yang menyampaikan," kata Suharyanto.
Lebih jauh, Suharyanto mengatakan dirinya dan seluruh jajaran BNPB saat ini fokus bekerja agar situasi di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat bisa berangsur normal.
"Mudah-mudahan seiring berjalannya waktu kami bisa menunjukkan Dharma Bhakti kami yang terbaik baik bagi masyarakat Aceh, Sumut , Sumbar yang saat ini menderita dan tentu bagi seluruh rakyat Indonesia," kata Suharyanto.
Berikut pernyataan lengkap Kepala BNPB:
ADVERTISEMENT
Saya menyesal dan meminta maaf, pernyataan saya secara lengkap sebetulnya tadinya hanya berkaitan dengan Kondisi Tapanuli Utara yang saat saya datang sejak hari pertama bencana di lapangan untuk Tarutung, Silangit dan sekitarnya tidak separah Tapanuli Tengah dan Sibolga, untuk menenangkan masyarakat di sana, tapi redaksinya keliru, saya siap salah.
Saya tidak membela diri tapi demi Allah tidak sedikitpun di hati, pikiran dan tindakan saya yang meremehkan bencana ini, sejak awal saya tidak keluar dari 3 provinsi ini, dan mengerahkan kekuatan penuh BNPB baik personel, materiil dan segala sumber daya yang dimiliki.
Saya bekerja saja di lapangan sekuat tenaga agar jangan blunder lagi untuk pemberitaan ke media saya minta Kapusdatin dan beberapa unsur pengarah BNPB yang menyampaikan.
ADVERTISEMENT
Mungkin itu, mudah-mudahan seiring berjalannya waktu kami bisa menunjukkan Dharma Bhakti kami yang terbaik baik bagi masyarakat Aceh, Sumut, Sumbar yang saat ini menderita dan tentu bagi seluruh rakyat Indonesia.
Sindirian Hakim MK Saldi Isra
Sebelumnya Hakim Mahkamah Konstitusi Saldi Isra menyindiri Suharyanto. Momen itu terjadi dalam persidangan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2025 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 Tentang TNI dan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 TNI.
Saldi Isra mulanya sempat menanyakan soal mekanisme seleksi internal TNI bagi perwira tinggi yang akan dikirim ke tempat tertentu seperti penugasan di luar struktur.
Ia lantas menyoroti pernyataan Suharyanto yang sempat menyebut bencana banjir bandang dan longsor Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, hanya ramai di media sosial.
Saldi tidak menyebut secara eksplisit nama Suharyanto. Meski begitu, ia menyayangkan pernyataan seperti itu keluar di tengah masa sulit.
ADVERTISEMENT
"Ini saya ini sebetulnya agak merasa sedih juga pernyataan seorang perwira tinggi soal bencana di Sumatera Barat itu," kata Saldi yang merupakan putra asli Padang ini.
"Dan itu kan sebetulnya kita berpikir, ini memang diseleksi secara benar atau tidak itu? Masa bencana dikatakan hanya ributnya di medsos saja. Nah, itu salah satu poin, sebagai orang yang berasal dari daerah bencana, saya perlu sampaikan itu, sekaligus untuk bisa jadi refleksi untuk TNI juga, Pak Wamenhan," tutur dia.
