Ditelantarkan Ibunda, Sony Bekerja Serabutan Menghidupi Adiknya

Hidup dalam keterbatasan ekonomi tanpa kehadiran kedua orangtua, membuat Sony (15) harus mandiri mengais rejeki.
Di usianya yang masih belia, Sony tak lagi bersekolah. Setiap hari ia harus bekerja serabutan, mengumpulkan rupiah untuk menghidupi dirinya dan Marcel (3), adik kandungnya.
“Saya pernah kerja bantu pedagang nasi goreng jualan di depan Margasari. Terakhir kerja jadi tukang parkir di tempat Futsal, Rp 15 ribu dapetnya sehari,” ujar Sony saat ditemui Kumparan, di Rumah Singgah Dinas Sosial, Tangerang, Rabu (4/1).
Dua tahun lalu, ayah Sony meninggal dunia. Setahun setelah ayahnya meninggal, ibunya, Mariska menikah lagi tanpa sepengetahuan Sony. Sejak itulah kehidupannya berubah.
“Harusnya saya dikasih tahu juga dong, gimana calon suami baru ibu, ini malah gitu, tiba tiba udah nikah saja,” ujar Sony.
Sony adalah anak pertama, dan Marcel adalah adik bungsunya. Setelah menikah, ibunya hanya membawa serta anak kedua dan ketiganya.
“Anak yang diakui ke suaminya yang baru cuma dua, saya dan Marcel enggak, ibu enggak pernah memperkenalkan kita ke keluarga barunya," kata Sony.
Mariska menitipkan Sony dan Marcel kepada, Desy, adiknya, di sebuah rumah yang beralamat di Komplek Bugel Mas Indah, Karawaci, Tangerang. Namun, Desy tak bisa berbuat banyak untuk mengasuh, apalagi menghidupi mereka.
Menurut petugas kesehatan setempat, Desy mengalami kecenderungan gangguan jiwa, sehingga tidak bisa beraktivitas normal seperti orang kebanyakan.
Yuni (29), salah seorang warga yang tinggal di sebelah rumah Sony bercerita, bahwa ia kerap melihat Desy memukuli Marcel.
"Tantenya, Dessy suka ngamuk sendiri dan mukul si Marcel lagi duduk di teras. Maklum lah, namanya sedang sakit jiwa kali ya," ungkapnya.
Rumah yang ditempati Sony bersama adik dan tantenya tergolong kumuh. Listriknya mati, dan airnya tak layak konsumsi. Hanya ada satu kamar tidur di rumah itu, yang ditempati oleh Desy. Setiap malam, Sony dan adiknya tidur di ruang tamu di atas kasur usang.
Marcel adalah sumber semangat bagi Sony untuk tetap melanjutkan hidup. Senyum tulus Marcel yang ia dapat setiap pulang dari bekerja, menjadi ‘obat penawar’ rasa letih paling ampuh baginya.
"Adik saya gak pernah protes dan gak memilih makanan apapun yang saya bawa ke rumah. Walaupun belum bisa ngomong, ia anak kecil yang kuat. Kalau dia sakit, saya juga cuma belikan obat warung, Marcel langsung sembuh,” kata Sony.
