Dituding Jadi Mata-mata Inggris, Wakil Eks Menhan Iran Divonis Hukuman Mati
·waktu baca 2 menit

Hubungan antara Iran dan Barat semakin merenggang. Teranyar, pengadilan Teheran telah menjatuhkan hukuman mati kepada seorang wakil menteri pertahanannya yang memiliki kewarganegaraan ganda Iran-Inggris atas tuduhan spionase.
Menurut laporan media pemerintah Nournews, terdakwa diketahui bernama Alireza Akbari — dia merupakan sekutu dekat eks menteri pertahanan dan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran saat ini, Ali Shamkhani.
Ketika Shamkhani menjabat sebagai menteri pertahanan di periode 1997 hingga 2005, Akbari dipercayakan sebagai wakilnya. Kedua pejabat juga diketahui memiliki hubungan yang dekat sejak pecahnya perang Iran-Irak tahun 1980-an.
Namun, pada 2019 Akbari ditangkap lantaran dituding telah bekerja untuk Inggris dan memata-matai Iran — pihak Teheran pun tidak mengakui kewarganegaraan ganda yang dimiliki oleh Akbari.
Informasi itu dibenarkan oleh keterangan yang dirilis oleh Kementerian Dalam Negeri Iran, pada Rabu (11/1).
“Dia [Akbari] adalah salah satu agen paling penting dari dinas intelijen Inggris di Iran yang memiliki akses ke beberapa pusat yang sangat sensitif di negara ini,” bunyi keterangan tersebut, seperti dikutip dari Reuters.
“Akbari telah sepenuhnya dengan sadar memberikan informasi kepada dinas mata-mata musuh,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Nournews melaporkan bahwa hukuman mati terhadap Akbari telah dijatuhkan langsung oleh Mahkamah Agung Iran.
Inggris kemudian mengecam keras keputusan Teheran — menilai dakwaan hukuman mati terhadap Akbari tak lain diwarnai motif politik. Dalam sebuah cuitan di Twitter, Menteri Luar Negeri James Cleverly pun menyerukan pembebasan Akbari sesegera mungkin.
“Iran harus menghentikan eksekusi warga Inggris-Iran Alireza Akbari dan segera membebaskannya,” cuit Cleverly.
“Ini adalah tindakan bermotif politik oleh rezim biadab yang sama sekali tidak menghiraukan kehidupan manusia,” imbuhnya.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Inggris juga mengecam diadakannya hukuman mati dan menyerukan hal serupa.
“Prioritas kami adalah mengamankan pembebasannya segera dan kami telah menegaskan kembali permintaan kami untuk akses konsuler yang mendesak,” ujarnya.
Vonis hukuman mati terhadap Akbari sekaligus berdampak pada hubungan Iran dengan negara-negara Barat yang sebelumnya sudah memburuk.
Kondisi ini dipicu oleh pecahnya aksi protes besar-besaran atas kematian perempuan beretnis Kurdi, Mahsa Amini, yang menurut Teheran telah diprovokasi oleh intervensi negara musuh — dalam hal ini adalah negara Barat.
