Dokter Ortopedi soal Viral Ida Dayak: Prinsipnya Tak Boleh Memperparah Pasien

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Spesialis Ortopedi dan Traumatologi dr. Oryza Satria, Sp.OT (K). Foto: Dok. Oryza Satria/Antara
zoom-in-whitePerbesar
Spesialis Ortopedi dan Traumatologi dr. Oryza Satria, Sp.OT (K). Foto: Dok. Oryza Satria/Antara

Pengobatan Ida Dayak dengan menggunakan 'minyak bintang' berwarna merah khas Kalimantan viral. Ida Dayak disebut-sebut dapat mengobati berbagai penyakit seperti patah tulang, saraf kejepit hingga stroke tanpa tindakan medis.

Pengobatan itu membuat pasien rela datang dari jauh dan antre berjam-jam demi diobati oleh perempuan pemilik nama asli Ida Andriyani itu.

Spesialis ortopedi tulang dan traumatologi dr. Oryza Satria menanggapi fenomena pengobatan alternatif tersebut. Oryza tidak menyalahkan juga membenarkan.

"Saya tidak bisa memberikan tanggapan dalam hal benar atau salah tentang terapi Ida Dayak, karena keilmuannya berbeda. Tetapi kalau dari segi ortopedi, sudah ada standarnya, baik dari segi anatomi atau susunan tubuh manusia, fisiologi atau fungsi tubuh manusia, dan farmakologi atau obat obatan, kemudian tindakan-tindakan yang perlu dilakukan misalnya tindakan bedah, semua itu sudah ada keilmuan dengan standarisasi yang baku," kata Oryza seperti dikutip dari Antara, Rabu (5/4).

Ida Dayak saat mengobati ribuan warga dan anggota polisi di Polres Bogor. Foto: Dok. Istimewa

Oryza menyebut pengobatan Ida Dayak ini termasuk ke dalam pengobatan tradisional dan di Indonesia sudah banyak sekali jenisnya dengan metode pengobatan yang berbeda-beda.

"Karena variasinya banyak dan keilmuan pengobatan tradisional umumnya secara turun temurun, jadi dokter juga tidak bisa memberikan tanggapan benar atau salah," ujar Oryza.

Tetapi misalnya ada pasien pengobatan tradisional, termasuk pasien Ibu Ida datang ke ortopedi atau bedah tulang, bisa dinilai lebih jauh apakah terapi sebelumnya sudah tepat atau belum menurut keilmuan medis," ucap Oryza.

instagram embed

Oryza menekankan baik pengobatan tradisional maupun medis harus menerapkan prinsip tidak boleh menyakiti atau memperparah keadaan pasien.

"Dalam keilmuan medis, khususnya ortopedi, ada satu prinsip yang wajib diterapkan, yakni first, do no harm, artinya apa pun tindakan yang dilakukan kepada pasien, sebisa mungkin tidak menimbulkan rasa tidak nyaman, sakit, atau nyeri pada pasien. Intinya jangan membuat pasien merasa kesakitan, baik pengobatan tradisional maupun medis sebaiknya mengikuti kaidah itu," kata Oryza.

Ikuti Saran Kerabat

Menurut Oryza, selama ini fenomena yang terjadi di masyarakat hanya mengikuti saran dari kerabat dekat, tanpa mempertimbangkan risiko dan akibatnya seperti apa, padahal yang merasakan sakit adalah pasien itu sendiri.

Masyarakat tidak mau datang ke dokter dan memilih pengobatan alternatif karena alasan biaya dan takut ada tindakan lebih lanjut seperti operasi, padahal saat ini akses internet sudah mudah dan asuransi kesehatan seperti BPJS sudah murah, dengan fasilitas yang layak.

"Jadi pikirkan dulu risikonya seperti apa, cari informasi sebanyak-banyaknya dari sumber terpercaya, cocokkan antara keluhan dan diagnosisnya, kemudian konsultasikan ke dokter atau fasilitas kesehatan terdekat, karena dokter bisa memberikan saran tindakan yang tepat seperti apa," kata Oryza.

Oryza menyarankan pasien yang datang ke pengobatan tradisional terutama yang cedera akut untuk mencari informasi yang benar dan tepercaya agar tindakan yang dilakukan tidak menimbulkan akibat lebih buruk.

"Setiap tindakan yang dilakukan itu harus jelas risiko dan komplikasi yang ditimbulkan apa, baik jangka pendek, menengah, atau panjang, karena semua tindakan pasti ada risiko dan komplikasinya, jangan mudah percaya pada kesembuhan instan atau janji-janji manis," katanya.

kumparan post embed