Dosen ITB Sebut Alternatif Air untuk Data Center AI Bisa Diolah dari Air Laut

Pemenuhan kebutuhan air untuk operasional Data Center AI tidak harus selalu bergantung pada sumber air yang selama ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Teknologi pengolahan air dapat menjadi salah satu alternatif untuk menjaga pasokan tanpa mengganggu kebutuhan warga.
Dosen Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) Institut Teknologi Bandung (ITB), Ir. Poetro Lebdo Sambegoro, mengatakan kebutuhan air untuk pendinginan data center perlu dikelola dengan baik. Salah satu yang dapat dilakukan yakni menggunakan teknologi pengolahan dan daur ulang air.
Menurut Poetro, penggunaan air sebagai media pendingin memang umum dilakukan pada data center. Namun, kebutuhan tersebut harus dikelola agar tidak mengambil porsi pasokan air yang selama ini diperuntukkan bagi masyarakat.
"Pemenuhan kebutuhan air ini harus kita kelola dengan baik. Jangan sampai suplai airnya kemudian mengambil sumber-sumber air yang selama ini menjadi suplai untuk kebutuhan warga," kata Poetro di Lab Ilmu dan Rekayasa Termal ITB, Kamis (1/10).
Ia menyebut salah satu opsi yang dapat dikembangkan adalah teknologi pengolahan air yang memanfaatkan energi baru terbarukan. Teknologi tersebut dapat menjadi alternatif untuk menyediakan air tanpa sepenuhnya bergantung pada sumber air yang digunakan masyarakat.
Poetro mencontohkan teknologi yang dikembangkan di laboratorium ITB, yakni proses desalinasi air menggunakan energi surya.
Teknologi tersebut memungkinkan air asin atau air laut diolah menjadi air tawar. Proses pengolahannya memanfaatkan energi matahari sebagai sumber energi, bukan energi konvensional seperti batu bara.
"Sebagai contohnya seperti yang dikembangkan di lab ini adalah proses desalinasi air menggunakan energi surya," ujarnya.
Poetro menjelaskan, desalinasi merupakan proses untuk menghasilkan air tawar dari air asin atau air laut. Dalam teknologi yang dikembangkan tersebut, energi surya digunakan untuk mendukung proses pengolahan air.
"Teknologi desalinasi air menggunakan energi surya ini membuat air tawar dari air asin atau air laut," katanya.
Menurut Poetro, teknologi semacam itu dapat menjadi salah satu pilihan dalam pengelolaan kebutuhan air untuk fasilitas dengan konsumsi air yang besar. Namun, penerapannya tetap harus disesuaikan dengan kebutuhan, teknologi yang digunakan, serta perhitungan teknis dan lingkungan.
Selain pengolahan air, teknologi recycling atau daur ulang air juga dapat dipertimbangkan untuk mengurangi penggunaan air baru. Langkah tersebut dinilai penting agar kebutuhan pendinginan data center tidak mengurangi pasokan air untuk kepentingan masyarakat.
Poetro juga menjelaskan penggunaan air dalam sistem pendinginan data center memiliki alasan teknis. Air mempunyai kapasitas pendinginan yang relatif tinggi sehingga dapat bekerja lebih efisien dibandingkan jika seluruh sistem pendinginan hanya menggunakan udara.
"Kalau kita tidak menggunakan air, misalnya kita gunakan pendinginan udara, maka kita perlu ukuran sistem pendingin yang jadinya jauh lebih besar," ungkapnya.
Meski demikian, menurut Poetro, pilihan teknologi pendinginan dan sumber air harus dihitung secara menyeluruh. Besarnya kebutuhan air akan bergantung pada kapasitas data center, panas yang dihasilkan perangkat, serta desain sistem pendingin yang digunakan.
Karena itu, ia menilai aspek ketersediaan dan keberlanjutan sumber air menjadi hal yang perlu diperhatikan dalam pembangunan data center berskala besar, termasuk rencana pembangunan di kawasan Jatiluhur.
"Hal ini bisa kita lakukan tentu dengan menggunakan teknologi pengolahan air yang memanfaatkan energi baru terbarukan," pungkasnya.
