Dosen Unnes yang Dibebastugaskan karena Posting soal Jokowi Surati Nadiem

Sucipto Hadi Purnomo, dosen Universitas Negeri Semarang (Unnes), yang dibebastugaskan karena dianggap menghina Presiden Joko Widodo (Jokowi) di akun Facebook, berkirim surat ke Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim.
Sucipto mengatakan, surat tersebut sebenarnya sudah disiapkan sejak 14 Februari lalu saat dia dibebastugaskan dari Unnes. Namun baru dikirimkannya hari ini, Rabu (19/2).
Dosen Fakultas Bahasa dan Sastra Unnes itu berharap Nadiem menelisik soal keganjilan surat keputusan rektor yang menonaktifkan sementara dirinya karena dianggap menghina Jokowi.
“Surat yang sebenarnya sudah saya tulis pada 14 Februari lalu, baru saya kirimkan ke Menteri Pendidikan dan Kebudayaan via jasa pengiriman swasta Rabu ini. Surat juga saya tembuskan ke Rektor Unnes," kata Sucipto lewat pesan singkat, Rabu (19/2).
Soal keganjilan dalam surat keputusan pembebastugasannya itu, Sucipto menyerahkan kepada Nadiem atau pejabat di bawahnya untuk menelusurinya.
"Soal keganjilan dalam surat keputusan itu, biarlah Pak Mas Menteri atau pejabat di bawahnya yang menelisik," ujarnya.
Selama dibebastugaskan, kata Sucipto, dia juga takkan menggunakan atribut atau nama Unnes. Termasuk juga menjalankan aktivitas sebagai dosen seperti meneliti dan membimbing.
“Selama surat ini berproses, tentu saja saya nikmati konsekuensi dari SK Rektor tersebut, tidak boleh mengajar di Unnes, tidak boleh meneliti, dan tidak boleh melakukan pengabdian pada masyarakat. Tapi tiap hari saya tetap melakukan presensi," jelas Sucipto.
Hal itu, menurut Sucipto, sesuai dengan surat keputusan yang diterimanya.
"Makanya, Senin kemarin waktu ke kampus, saya nggak pakai baju yang ada logonya Unnes, kan bisa dianggap melanggar itu," imbuhnya.
Sucipto dibebastugaskan karena status Facebooknya pda 10 Juni 2019 lalu yang dinilai menghina Jokowi. 'Penghasilan anak-anak saya menurun drastis pada lebaran kali ini. Apakah efek Jokowi yang terlalu asyik dengan Jan Ethes?' tulisnya.
Sucipto yang pernah menjadi saksi atas kasus dugaan plagiarisme Rektor Unnes ini menyebut tulisannya adalah satire dan bukan penghinaan.
