Driver Ojol Demo di Kemnaker, Ngaku Dirugikan Sistem Aceng dan Slot
·waktu baca 2 menit

Driver ojek online yang tergabung Serikat Pekerja Angkutan Indonesia (SPAI) berunjuk rasa di depan kantor Kementerian Ketenagakerjaan pada Senin (17/2).
Mereka menuntut Tunjangan Hari Raya (THR) bagi para ojol dan ada aturan resmi yang menyertainya. Selain itu, mereka juga mengadu karena merasa dirugikan dengan sistem aceng dan slot dari aplikasi penyedia jasa.
“Kami merasa diperbudak dengan adanya Aceng dan Slot ini karena tarifnya begitu murah dan ada pengkotak-ngotakan wilayah,” kata Ketua SPAI, Lily Pujiati kepada wartawan di lokasi.
Lily menjelaskan, Aceng itu adalah tarif yang rata untuk jarak tertentu. Menurutnya, skema tersebut memberatkan para mitra ojol.
“Aceng itu adalah angkutan jarak jauh maupun dekat, ongkosnya hanya Rp 5 ribu. Jarak tempuh maupun pengambilannya pun sangat merugikan kami,” jelasnya.
Sementara slot adalah mekanisme prioritas untuk para driver agar lebih cepat mendapat order. Namun, untuk menjadi prioritas, para driver harus membayar uang tambahan.
Adapun para massa aksi unjuk rasa ini menuntut beberapa hal di antaranya:
Menuntut THR diberikan sebesar 1 bulan upah (UMP) dan diberikan H-30 sebelum Hari Raya.
Menolak hubungan kemitraan yang menjanjikan fleksibilitas. Karena fleksibilitas dalam kemitraan adalah dalih platform untuk menghindar dari kewajiban membayar THR dan hak-hak pekerja kepada pengemudi ojol, taksol, dan kurir
Jam kerja 8 jam. Insentif dari perusahaan platform selama ini tidak mensejahterakan pekerja platform karena itu semua ternyata memaksa pengemudi untuk terus-menerus bekerja tanpa istirahat melebihi ketetapan jam kerja 8 jam
Para ojol yang berunjuk rasa ini pun menyerukan untuk mematikan aplikasi atau off bid selama aksi unjuk rasa.
