Dua Hari Berturut-turut, Serangan Drone di Tigray Ethiopia Tewaskan 19 Orang

12 Januari 2022 10:42 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Asap mengepul dari lokasi serangan udara, di Mekelle, ibu kota wilayah Tigray, Ethiopia Rabu (20/10/2021). Foto: Stringer/Reuters
zoom-in-whitePerbesar
Asap mengepul dari lokasi serangan udara, di Mekelle, ibu kota wilayah Tigray, Ethiopia Rabu (20/10/2021). Foto: Stringer/Reuters
ADVERTISEMENT
Serangan drone menghantam Negara Bagian Tigray, Ethiopia sebelah utara, pada Senin (10/1) dan Selasa (11/1). 19 orang tewas akibat serangan selama dua hari berturut-turut itu.
ADVERTISEMENT
Pada Senin, drone menjatuhkan bom di Kota Mai Tsebri, bagian selatan Tigray. 17 pekerja di sebuah pabrik tepung tewas.
Selain itu, puluhan orang luka-luka dan 16 ekor keledai yang berada di lokasi mati akibat ledakan.
“Seorang saksi mata mengatakan kepada saya, drone itu datang dan terbang selama beberapa saat, sebelum akhirnya menjatuhkan bom. Lalu warga panik,” ujar relawan tersebut, dikutip dari AFP.
“Namun, beberapa menit kemudian, orang-orang mendengar suara teriakan dan mereka menghampiri lokasi kejadian. Mereka melihat sejumlah wanita tewas serta beberapa ekor keledai mati,” lanjutnya.
Asap membumbung di angit Addis Ababa selama protes menyusul penembakan musisi Ethiopia Haacaaluu Hundeessaa, di Addis Ababa, Ethiopia. Foto: REUTERS
Pada Selasa, serangan terjadi di Kota Hiwane, sebelah selatan ibu kota Tigray, Mekele. Menurut otoritas setempat dan dokter di rumah sakit pusat, dua orang tewas dan puluhan luka-luka akibat serangan itu.
ADVERTISEMENT
Serangan ini menyusul serangan drone yang terjadi pada Jumat (7/1) lalu di sebelah timur laut Tigray. Jumlah korban tewas dalam agresi ini dilaporkan mencapai 59 jiwa, dan 138 orang luka-luka.
Juru bicara Pemerintahan Ethiopia mengatakan pada Selasa, pihaknya tidak menerima informasi apa-apa soal serangan drone tersebut.
Konflik antara Pemerintah Ethiopia dengan pasukan Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF) sudah berlangsung sejak November 2020 silam. Ribuan orang tewas dan jutaan warga tergusur dari rumahnya akibat konflik ini.
Pasukan TPLF, yang disebut sebagai pemberontak oleh Pemerintahan Perdana Menteri Abiy Ahmed, mengatakan tentara nasional terus melakukan serangan di Tigray meskipun TPLF sudah mundur sejak Desember.
Ilustrasi reaper drone. Foto: Dok. defencedirecteducation
Mundurnya TPLF dan perebutan kembali lokasi strategis oleh pasukan pemerintah, membuka jalan untuk tercapainya gencatan senjata. Bahkan pada Jumat lalu, Pemerintah mengumumkan pemberian amnesti terhadap sejumlah tokoh senior TPLF.
ADVERTISEMENT
Wilayah Tigray saat ini tengah kesulitan. Serangan yang terus terjadi diperburuk dengan sulitnya akses masuk bantuan kemanusiaan seperti makanan dan obat-obatan.
Komunitas internasional berkali-kali menyampaikan keprihatinan atas situasi di Tigray. Mulai dari Presiden Amerika Serikat Joe Biden hingga Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus—yang merupakan warga Tigray.
“Saya mengulang kembali seruan oleh Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres untuk menghentikan konflik di Ethiopia, dan agar bantuan kemanusiaan bisa segera diberikan akses masuk [ke wilayah konflik],” ujar Tedros.